Ini Cara yang Tepat Menyatakan Cinta

Tidak banyak perempuan yang berani untuk mengungkapkan perasaannya dan malah memilih untuk memendamnya entah sampai kapan. Sebenarnya, menyatakan cinta itu sah-sah saja selama anda menggunakan cara yang sopan dan tidak berlebihan.

Mengetahui Kadar Cinta Si Dia

Keingintahuan merupakan hal yang sangat wajar dalam kehidupan manusia. Keingintahuan dapat terkait dengan banyak hal dan salah satunya mengenai pasangan anda. Berikut beberapa tips untuk mengetahui kadar cinta si dia

Ada Banyak Cara Melupakan Mantan Pacar

Setiap hubungan percintaan pasti mengalami masa-masa yang sulit untuk bisa saling memahami perbedaan yang ada. Seringnya perbedaan tersebut malah membuat hubungan tersebut menjadi sangat buruk kualitasnya. Tidak jarang hal ini mengakibatkan putus cinta

Lewat Surat Cinta Bisa Lebih Ungkapkan Romantisme

E-mail, SMS, sampai instant messenger memang sangat mempermudah komunikasi kita dengan orang lain. Namun, ketika sedang menjalin kasih Anda pasti tak ingin menerima ucapan cinta melalui pesan singkat saja. Untuk mengatasi kebosanan dan membuat hubungan semakin romantis, tak ada salahnya untuk kembali menggunakan cara tradisional, yaitu surat cinta. Meski terbilang jadul, melalui surat cinta Anda bisa lebih puas mengungkapkan perasaan dengan kalimat yang lebih romantis. Apalagi jika surat itu Anda selipkan ke tangannya dilengkapi setangkai mawar merah.

Pada Bulan Merah Akankah Kau Pulang

Sampai penantian itu berbilang tahun --20 tahun hingga kini-- bagai kumbanng putus tali. Hilanng tanpa kendali. Andaikata pula ia tersesat, mestinya aku tahu di mana rimbanya. Kalaupun ia wafat, aku berharap tahu pula di mana tempat kuberziarah.

Doa Sebutir Peluru

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Kamis, 31 Januari 2013

Dendam tak Bertuan

Dendam tak Bertuan
Cerpen: Shandy Tan

Meja itu memang di kutuk oleh gadis yang meninggal bunuh diri di sini, setahun yang lalu......

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Judyth mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan cafe yang yang terletak di lantai lima pusat perbelanjaan ini. Suasa cafe amat padat, barangkali kali karena bertepatan dengan malam minggu. Memang, sebagian besar pengunjungnya adalah pasangan remaja yang sedang mabbuk cinta. Cafe ini sudah terkenal sebagai cafe paling romantis, karena setiap meja hanya punya dua kursi. Yang punya usaha memang merancangnya untuk pasangan-pasangan kekasih. Dari namanya saja sudah terbaca maksudnya: "Cafe Sejoli"

Judyth memandang berkeliling sekali lagi dia memang sudah mendapatkan tempat yang cukup strategis, yaitu paling ujung dekat pintu masuk. Dengan demikian ia bisa mengamati semua pengunjung Cafe Sejoli. Saat ini semua meja sudah terisi. Hanya masih ada satu meja yang kosong, yaitu meja nomor 66 yang letaknya tak jauh dari jendela. Padahal lokasi meja itu lumayan strategis, insan yang memadu kasih di sana bisa sekaligus memandang indahnnya lampu-lampu jalan maupun bangunan yang menyemarakan Kota Medan malam ini.

Pasti gara-gara beberapa kejadian yang berulang setahun terakhir di Cafe Sejoli, batin Judyth. Lamunnya terusik oleh kehadiran sepasang remaja yang baru masuk. Mereka tidak segera mencari meja.

"Ya...." keluh si gadis kecewa. "Tempatnya sudah penuh semua. Ini gara-gara macet tadi, sekarang kita nggak kebagian kursi. Cari cafe lain aja yuk?"

"Tunggu Rose," cegah pacarnya, lalu menunjuk ke dekat jendela. "Meja itu masih kosong, kita bisa duduk di sana."

Judyth melihat wajah Rose memucat.

"Aku tidak mau," katanya dengan suara lirih, agar bergetar seperti orang ketakutan. "Kita cari cafe lain."

"Tapi kenapa?"

"Kau lihat nomor meja itu?"

"Nomor 66. Ada yang aneh?"

"Apakah setahun ini kau tidak tinggal di bumi, Ken? desis Rose sambil membelalak pada kekasihnya. "Meja itu meja hantu!"

Kening Ken berkerut. "Meja hantu?"

"Iya. Sudah empat cewek yang meninggal, karena mereka bertengkar hebat, lantas si cewek melompat dari jendela dan mati! Meja itu angker dan membawa malapetaka!"

"Kau terlalu banyak nonton film horor."

"Ini kisah nyata, Ken, bukan rekaanku."

"Kita sudah mahasiswa," tegas Ken.

"Kalau meman benar meja itu angker, dan banyak orang mengetahuinya, kenapa cafe ini tetap ramai dikunjungi? Logikanya, orang pasti menganggap yang menyeramkan adalah cafe ini, bukan salah satu meja di dalamnya, jadi tak akan ada yang datang. Sekarang kau lihat sendiri keadaannya, begitu padat sampai kita nyaris kehabisan tempat. Ayolah, nanti...."

"Kau tidak mengerti!" desis Rose.

"Justru itu yang menjadi daya tarik cafe ini. Orang-orang seperti terobsesi untuk melihat dari dekat meja 66, meja kematian. Boleh percaya boleh tidak, kendati sudah empat gadis yang meninggal dengan cara serupa saat menempatinya, tapi cafe ini semakin laris. Aku ingat betul saat Cafe Sejoli ini dibuka dulu. Sampai dua bulan kemudian hanya dikunjungi paling banyak sepuluh orang setiap hari, padahal daya tampung kursinya sekitar seratus orang. Seperti katamu tadi, sekarang ini Cafe Sejoli nyaris penuh tiap jam, kecuali meja 66. Padahal menunya tidak seistimewa cafe lain di gedung ini."

Pemuda jangkung itu diam saja.

Meja itu tidak.... tidak..." Rose seolah kesulitan istilahyang tepat. ".... tidak wajar."

"Kau ini terlalu...."

"Sudahlah!" sergah Rose agak keras, membuat beberapa pasangan menatap heran. Buru-buru ia mengecilkan volume suara. "Pokoknya aku tidak mau duduk di situ. Kalau kau nekad, silakan, aku pulang sendirian juga nggak apa. Kau memang nggak perlu takut, soalnya yang akan meloncat dari jendela itu adalah aku dan bukan kau!"

Judyth melihat Ken agak serba salah.

"Oke, jangan marah lagi. Kalau kau memang tidak suka, silakan pilih cafe lain. Kita pergi sekarang."

Mereka berlalu. Judyth hanya menggidikkan bahu. Dalam kurun waktu ini, memang sudah terjadi empat peristiwa serupa yang menimpa pasangan-pasangan di meja 66. Tepatnya menimpa sang cewek. Seperti cerita Rose tadi, mulanya pasangan yang memilih meja itu nampak mesra. Mereka berbisik penuh cinta, bertatapan penuh rindu. Lalu perlahan keadaan berubah. Suara-suara yang semula tampak mendayu, mendadak seperti dibantu pengeras suara. Muda-mudi di situ bertengkar hebat, tak peduli jadi pusat perhatian orang banyak. Dan, bagai menyaksikan sebuah adegan lamban, berpuluh pasang mata disuguhi tontonan mengerikan saat sang gadis di meja 66 mendekati jendela lalu menjatuhkan diri secara mendadak.

Judyth menghela napas. Semua itu bukan kabar burung atau dongeng seram yang disebarluaskan untuk tujuan komersial, bukan pula iklan terselubung untuk menyedot perhatian masyarakat. Itu kisah nyata Judyth menyaksikan tiga peristiwa terakhir dengan mata kepalanya sendiri, mulai dari masuknya pasangan pasangan-pasangan naas itu sampai aksi "terjun bebas" si dara. Sekarang cerita mengerikan itu sudah menjadi mitos di mata masyarakat: meja 66 adalah meja petaka, pasangan yang menempatinya akan jadi pasangan paling merana. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, menyebut meja 66 adalah meja hantu.


Pendek kata, meja 66 seolah menjadi semacam tugu peringatan bagi muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu di Cafe Sejoli. Lamunan Judyth terusik ketika sepasang remaja yang terlihat mesra berdiri tak jauh di sampingnya. Sama seperti Rose dan Ken tadi, kedua orang ini juga tampak ragu-ragu.

"Ya..." kata cowoknya.

"Tinggal meja itu yang kosong."

"Kenapa dengan meja itu?"

"Itu meja 66. Meja hantu."

"Ah, mitos!" sergah si cewek.

Judyth tersenyum samar melihat kecuekan gadis itu. Dalam hati dia menebak, si cewek pasti tipe manusia yang suka bermain dengan bahaya. Tunggu saja sebentar lagi

"Kau tidak percaya?" tanya si cowok.

"Cerita konyol itu?" cibir gadis itu. "Yah, memang kisah nyata, tapi pasti ada penjelasan yang logis."

"Kau mau menjelaskannya?" goda si cowok.

"Boleh. Aku akan menguraikannya secara psikologi. Menurutku, yang terjadi itu adalah suatu kebetulan...."

"Kebetulan?" si cowok mendelik. "Kebetulan tidak akan terjadi sampai empat kali, Pink."

"Aku belum selesai, jangan dipotong dulu. Kebetulan peristiwanya pernah terjadi dua kali pada meja yang sama dan dengan model tragedi yang sama pula. Lalu orang-orang mulai mengajukan teori teori senada sehingga membentuk sebuah mitos yang secara psikis mulai mempengaruhi siapa saja yang ingin menempati meja itu."

"Oke-oke, aku ngalah. Susah ngelawan mahasiswa psikologi," cetus si pemuda sambil menggandeng lengan gadisnya.

"Kesimpulannya, kau sama sekali nggak percaya, aku juga. Kupikir, pasti seru kalau kita bisa jadi pasangan yang mampu menepis kepercayaan umum. Tentunya kau tidak keberatan kalau kita duduk di sana."

"Aku setuju," sahut Pink.

Mereka langsung menuju meja 66. Judyth senyum tipis. Benar dugaannya, kedua insan itu memang pemberani. Hampir semua pengunjung cafe memandangi keduanya dengan sorot mata ngeri, seolah mereka adalah hantu penunggu meja yang setahun ini sudah menelan korban empat gadis belia.

Judyth kembali sibuk dengan lamunannya, berharap dapat bertemu dengan orang yang lama ditunggunya. Cewek bermata sendu itu menoleh ketika terdengar suara ribut-ribut seperti orang bertengkar mulut. Refleks matanya mencari sumber suara. Dilihatnya gadis di meja 66 sudah berurai air mata. Sedang yang cowok berteriak dengan wajah yang merah. Para pengunjung cafe mulai tegang, beberapa remaja puteri bahkan terlihat pucat. Tontonan gratis itu tidak berlangsung lama. Pink berdiri. Semua orang seolah terhipnotis saat ia mendekati jendela. Dan bagai sebuah adegan lambat, Judyth bersama puluhan orang lainnya menyaksikan tubuh mungil itu melompat, sebelum ada yang sempat bergerak. Tubuh Pink lenyap bersama jeitannya yang menyayat.

Detik itu pula kekasihya bagai tersadar dari mimpi. Dengan teriakan histeris ia memburu ke jendela, namun yang terlihat hanya sosok bersimbah darah di halaman gedung. Suasana cafe seketika penuh gumam, mulai ngeri sampai gumam prihatin. Yang paling banyak adalah gumam menyalahkan muda-mudi naas itu karena tidak mempercayai mitos meja 66.

Judyth menghela napas iba. Ini untuk yang keempat kalinya ia menyaksikan adegan serupa, berari korban yang jatuh sudah lima orang. Hatinya terenyuh melihat pacar Pink masih menjerit-jerit histeris menyalahkan dirinya. Sementara di luar, sirene polisi dan sirene ambulans menambah mencekamnya suasana. Judyth menyembunyikan tubuhnya makin ke sudut, saat matanya menangkap sesosok orang tubuh yang pernah dikenalnya dengan baik.

"Ternyata mitosmeja 66 itu benar," gumam sosok tadi, seorang dara manis, pada teman pria yang bersamanya. Mereka baru tiba, dan si cowok tengah mengamati kerumunan di jendela.

"Apa yang benar?" ulang si cowok.

"Mitos itu. Waktu dia mengatakannya, kupikir dia cuma menceracau. Sama sekali tidak kusangka kalau dendamnya yang membara benar-benar ditinggalkan di meja itu."

"Kau bicara apa sih? Lagi stres ya?"

Yang ditanya menunduk dalam dan menjawab dengan nada sedih. "Meja itu memang dikutuk, Bob...."

"Oleh siapa?"

"Gadis yang bunuh diri pertama kali setahun silam."

"Kau seolah tahu persis ceritanya," selidik Bob.

"Karena.... karena gadis itu...," dia mengisak, "Adalah teman karibku sendiri..."

"Astaga, June! Rahasia apa yang kau sembunyikan dariku?"

"Dia puteri pemilik cafe ini," tutur June parau. "Saat itu ia punya pacar, seorang teman kuliah yang pernah menyukaiku. Di malam naas itu mereka sedang berduaan di meja 66, ketika aku menghampiri untuk mengembalikan saputangang si cowok yang tinggal di ruang kuliah. Temanku curiga dan cemburu, lalu marah besar padaku. Baru kutinggal selangkah, mereka bertengkar."

"Lalu?" desak Bob.

"Dalam kesalnya, Dwi mengancam untuk memutuskan hubungan. Temanku yang malang kehilangan kontrol dan melompat...." June berhenti bicara, dua tetas air mata membasahi pipi halusnya. "Aku masih sempat menjenguknya di rumah sakit. Dia sudah sekarat waktu itu, tapi masih sanggup menikamku dengan sorot mata penuh dendam, pada detik-detik terakhir ia berkata akan mengutuk meja itu dan meninggalkan semua kemarahannya di sana, sehingga siapa pun yang menempatinya akan bernasib sama. Bob, a.. aku..."

"Ssshh... June, ini bukan salahmu," bujuk Bob sambil memeluk gadisnya. "Jauh sebelum kejadian itu, kau kan sudah punya aku."

"Tapi Judyth tidak tahu, dia tetap berpikir kalau aku ingin merebut Dwi," isak June. "Aku merasa akulah penyebab segala. Tolong aku, Bob, aku tak ingin Judyth terus mendendamku dari alamnya."

"Kita pergi, June, kau bisa terguncang kalau terus di sini," Bob merangkul bahu June dan membawanya melangkah.

Judyth segera keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menempatkan diri di depan keduanya, mencoba menghalangi gerakan mereka. Tapi.... wuuussss..... mereka menembuh tubuhnya. Judyth hanya bisa menatap geram. Sudah setahun dia menunggu mantan sahabat karibnya itu datang bersama seorang cowok, lantas memilih meja 66 agar dendamnya terbalaskan. Tapi baru sekarang June muncul, dan itu pun sudah lenyap dikeramaian tanpa masuk ke cafe.

"Demi setan-setan di neraka," gumamnya dengan bola mata menyala, "Aku tidak akan mencabut dendamku sebelum menyaksikan June mengalami apa yang menimpaku, jadi akan makin banyak korban yang jatuh untuk menemaniku di kegelapan!"

Suasana Cafe Sejoli berangsur tenang. Judyth kembali ke tempatnya semula, di sudut yang gelap, mengawasi dan menunggu pasangan pemberani yang akan menjadi korban ke enam. Kalau sekarang kau ada di sebuah cafe, lalu nomor mejamu 66, dan letaknya dekat jendela... hati-hati saja. Judyth sedang mengawasimu, siapa tahu kau tumbal berikutnya. Meja 66 dan korban ke 6 bukan angka yang baik, setan-setan menyenanginya. (dnl)

Selasa, 29 Januari 2013

Pertalian Hati

Pertalian Hati
Cerpen: M. Amin Taufani

Bagaimana kalau salah satu melihat Galang, tentu ada Lia senyum-senyum membaca apa yang sedang ditulis kakaknya. Tulisan dengan kalimat yang indah dan penuh makna. Menggambarkan perasaan hati dan kerinduan pada seseorang. Ingin rasanya pada saat itu Lia berkomentar, tapi khawatir mengganggu penghayatan Kanty pada tulisannya.

Dari kamar Kanty cewek berambut panjang dan dikepang ini menuju tempat Ratih kakaknya juga. "Aneh apa ini musim orang jatuh hati?" gumam Lia, karena dilihatnya Ratih sedang bertopang dagu dengan berekspresi membayangkan wajah seseorang, Lia mendekati Ratih dan duduk disampingnya. Ratih sendiri mengeserkan duduknya memberikan tempat Lia. "kok tahu aku datang, kukira sedng melamun," kata Lia santai.

"Memang sedang melamun. Kamu saja yang mengganggu," ujar Ratih.

"Mau tanya kak, ini musim jatuh hati ya kak?"

"Siapa yang bilang?"

"Engga ada cuma menarik kesimpulan."

"Kesimpulan? Sok tahu kamu," ujar Ratih setengah tertawa mendengar kata-kata Lia yang bicara dengan gaya orang besar.

"Ya tadi ditempat Kak Kanty, ia sedang menulis puisi tentang hati. Dan di sini Kak Ratih pun sedang melamunkan seseorang. Benar bukan?"

Kalau benar bagaimana?"

"Aku diberitahu orangnya."

"Boleh tapi rahasia."

Lia mengangguk.

"Galang."

"O, Mas Galang si kutu buku itu."

"Ingat rahasia," tegas Ratih saat Lia berteriak menyebut nama Galang.

"Kamu besok ada acara?" lanjut Ratih yang khawatir adiknya akan membicarakan cowok idamannya ini atau mungkin akan bertanya macam-macam.

Lia menepuk jidat, lalu menggeleng. "Mau ngajak kemana?"

"Besok temani aku ke perputakaan."

"Kalau aku bisa.

Sebenarnya Lia bukanlah adik kandung bagi Kanty dan Ratih. Mereka bertemu di sekolah sebagai kakak dan adik kelas. Dan karena mereka aktif mengikuti kegiatan ekstra kulikuler bersama membuat mereka lebih cepat akrab. Ditambah lagi orang tua Lia juga menganggap dua anak ini layaknya anak sendiri. Sehingga secara tidak langsung ketiganya merasa telah menjadi saudara.

Bagi Lia untuk bermain di kamar Kanty atau Ratih sudah biasa. Dan kali ini i masuk kamar Kanty untuk mencari tahu tentang orang yang sedang diincar oleh Kanty. Telah hampir sepuluh menit Lia membuka-buka buku. Mungkin ada nama cowok disana. Lia berinisiatif demikian karena ia tahu kebiasaan Kanty yang menulis sesuatu dibukunya.

"Nah kebetulan kamu ada disini," suara Kanty mengejutkan aktivitas Lia.

"Kebetulan apa Kak Ti?"

"Kamu jaga kamarku."

"Kak Ty mau kemana?" Lia heran melihat Kanty yang tergesa.

"Perpustakaan."

Lia hanya mengangguk lalu kembali membuka buku lagi. Dan... "Galang," batin Lia ketika matanya menatap sebuah nama tertulis indah di pojok sebuah buku yang ditulis dengan tulisan yang indah. Jadi Kak Kanty juga suka Mas Galang? Wah payah, pikir Lia. Bagaimana jika keduanya tahu kalau orang yang disukai sama jangan-jangan mereka nanti bermusuhan, apa yang harus akku lakukan, batin Lia.

Celaka.... Lia tersentak. Ia ingat, kemarin Ratih mengajaknya keperpustakaan dan tadi juga Kanty akan ke sana. Rupanya mereka punya rencana yang sama, yaitu ingin bertemu Galang yang memang suka sekali berlama-lama di perpustakaan. Bagaimana kalau salah satu bertemu Galang dan yang lain melihat, tentu akan cemburu. Tidak, jangan sampai terjadi. Aku harus mencegah mereka tidak saling bertemu, batin Lia lagi.

Lia segera meninggalkan kamat Kanty dan menuju perpustakaan. Ia jadi gelisah bila kendaraan yang ditumpanginya berhenti untuk menaikan atau menurunkan penumpang, karena perjalanan jadi terhambat. Seandainya ia punya kuasa tentu akan meminta penumpang lain untuk mengalah, agar dirinya lebih cepat sampai tujuan. Akhirnya Lia menarik napas lega, setelah tiba di perpustakaan. Tapi hanya sesaat, karena ia harus mencari Galang, Ratih dan Kanty, serta membuat cara agar mereka tidak saling bertemu.

Pertama yang ditemukan adalah Galang. "Sudah lama Mas Galang? sapanya sedikit gugup.

"Lumayan. Kamu sendirian Lia?"

Lia mengangguk, tapi matanya berkeliling mengamati orang-orang di sekitarnya.

"Kamu cari siapa Lia?" tanya Galang yang memperhatikan kegelisahan Lia.

"Tidak Mas baca aja terus!" sahut Lia sambil menarik kursi dan mendudukinya. Untuk mengurangi rasa gugup, diambilnya sebuah buku sekenanya lalu pura-pura konsentrasi membaca.

Galang hanya tersenyum, namun matanya diam-diam mencuri pandang pada gadis di depannya. Sementara Lia sendiri kadang melihat ke arah Galang, maksudnya untuk melihat keadaan sekitar tanpa dicurigai menakala mata mereka bertemu Lia hanya tersenyum dan Galang kembali pada bukunya tentu setelah membalas senyum Lia. Cukup lama mereka kucing-kucingan dengan tujuan masing-masing.

Usaha Lia tidak sia-sia. Dilihatnya Ratih tengah berada diantara rak-rak buku sambil memilih-milih. Tapi arah jalan Ratih meskipun pandangannya tertuju pada buku-buku di depannya tapi menuju ke tempat dimana dirinya dan Galang berada. Harus dicegah.

Mau kemana Lia?" tanya Galang ketika Lia beranjak pergi.

"Ambil buku," jawab Lia singkat.

"Aku jua mau ambil buku pariwisata," ujar Galang mengikuti Lia.

"Jangan biar aku saja yang ambilkan," Lia buru-buru mencegah.

Galang mengalah, ia kembali duduk. Sedang Lia dengan perasaan tak menentu mendekati Ratih dengan sesekali menoleh pada Galang.

"Cari buku apa Kak?" suara Lia seperti membuat kejutan didekat Ratih agar terlihat wajar.

"Lho kok kamu di sini?"

"Kak Ratih kan kemarin minta aku temani jadi ya aku menemani Kak Ratih," jawab Lia mantap karena bisa menemukan jawaban tepat.

"Ya sudah kita cari tempat duduk," ujar Ratih setelah mengambil sebuah buku dan berjalan menuju dimana Galang berada.

"Jangan ke sana Kak," rajuk Lia.

"Kenapa?"

"Nggak enak banyak cowoknya."

Ratih menuruti saja tanpa merasa curiga sedikitpun. Padahal kalau ia tahu Galang ada di tempat yang ia tuju tentu akan mengajak Lia ke sana. Beberapa menit terasa tenang bagi Lia, tapi begitu Galang tidak ditempatnya Lia jadi gelisah.

"Pasti Mas Galang mencariku," batin Lia.

"Sebentar Kak," pamit Lia. Begitu Lia berdiri dari arah berlawanan dengan Kanty muncul.

"Kak Ratih duduk saja, baca dengan tenang dan jangan tengok-tengok," pinta Lia.

"Ada apa?"

"Nothing pokoknya tenang saja."

Dengan hati berdebar Lia mencari Galang tapi juga harus menghindari Kanty. Ia tetap bertekad untuk tidak mempertemukan ketiganya.

"Heh bengong di sini," tegur seseorang dari belakangnya.

"Oh ya Mas Galang juga di sini," sahut Lia menutupi rasa terkejutnya.

"Cari kamu. Kupikir sudah pulang atau sedang kecantol seseorang," goda Galang. Lia cuek saja menanggapinya. Keduanya lalu berjalan santai. Jantung Lia kembali berdebar dilajur rak sebelahnya, Kanty juga sedang berjalan ke arah berlawanan. Kanty tampak mengamati buku yang mungkin akan diambil. Karena deretan buku disitu tinggal beberapa sehingga sangat mudah untuk melihat orang di sebelah. Lia mengambil buku yang cukup besar untuk menutupi celah yang kemungkinan Kanty bisa melihatnya.

"Kamu sedang apa Lia?" Galang heran melihat tingkah Lia.

"Jangan triak-teriak," Lia bicara setengah berbisik.

"Ada apa?" Galang ikut berbisik, Lia menggeleng dan memberi isyarat Galang untuk jalan lebih dulu.

"Hari ini kamu aneh sekali Lia?"

"Aneh kenapa?"

"Kamu seperti sedang gelisah dan ketakutan," tebak Galang setelah mereka duduk.

"Nggak juga nyatanya aku masih bisa tertawa," elak Lia sambil memperdengarkan ketawanya. Galang geleng-geleng bukan hanya karena tingkah Lia, tapi juga ketawanya yang mengganggu lingkungan.

"Lia!" sebuah suara menghentikan tawa Lia seketika. Suara cewek. Ia merasa tulang-tulangnya seperti dilolosi sehingga badannya menjadi lemas. Perlahan Lia memutar leher. Demikian juga Galang. Terasa longgar rongga dada Lia saat ia tak mengenal orang yang memanggilnya. Rupanya hanya persamaan nama saja. Pada kesempatan itu pula Lia dapat melihat Kanty dan Ratih di tempatnya masing-masing.

"Lia kita pulang," Galang berdiri dan berjalan keluar yang kemudian diikuti Lia dengan hati-hati. Ia merasa berhasil meski sementara.

"Besok aku ke rumahmu," janji Galang di luar gedung perpustakaan. Lia hanya mengiyakan dengan mengangguk.

"Aku suka kamu Lia," kata Galang saat menemui Lia keesokan harinya.

"Suka aku maksudnya?"

"Ya suka kamu dan inginkan kamu menjadi milikku," ujar Galang tegas.

"Tapi kakak-kakakku......" kata-katanya terhenti terhenti tak sampai mengatakan hal yang sebenarnya.

"Kenapa apa karena mereka belum punya cowok?"

Lia tak menjawab.

"Baiklah kalau begitu aku akan minta izin pada mereka," Galang memutuskan. Lia masih diam dan tak peduli saat Galang meninggalkannya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Sepekan setelah pernyataan Galang pada dirinya ia tak merasa adanya perubahan pada sikap Kanty dan Ratih. Mereka tetap biasa. Bahkan keduanya sering menggoda Lia yang tiba-tiba jadi pendiam. Namun ada juga kegembiraan yang menyelinap di hatinya. Ia berpikir Galang belum mengatakan apa yang pernah dijanjikan padanya untuk minta izin dari Ratih dan Kanty. Bagaimanapun juga ia tak bisa mengkhianati dua kakaknya untuk menerima Galang.

Hari-hari berikutnya Lia kembali ceria.

"Nah gitu dong jadi anak jangan cemberut."

"Siapa yang cemberut?" tangkis Lia.

"Ya kamu itu."

Lia hanya senyum simpul.

"Lia benarkah kamu anggap kami ini kakak-kakakmu?" Ratih bertanya serius. Lia tampak bingung namun ia jelas mengiyakan.

"Kalau begitu maukah memenuhi permintaan kami?" kali ini Kanty yang bicara.

"Permintaan apa Kak Ti?"

"Jawab dulu, Lia mau memenuhinya?"

Meski tak tahu apa yang dimaksud Lia menyanggupinya.

"Terimalah Galang dihatimu Lia."

Lia terkejut dipandanginya dua wajah didepannya. Penuh kedamaian. Tak ada kekecewaan dan keterpaksaan. Sebelum Lia berkomentar, Ratih telah menjelaskan tentang maksud Galang yang datang pada mereka. Ratih pun menambahkan, mereka memang suka Galang tapi lebih suka lagi, kalau Lia menerima Galang. Karena ini mempererat pertalian persahabatan dan persaudaraan di antara mereka. (*)

Selasa, 23 Oktober 2012

Gadis Bermata Gerimis

Cerpen : Zelfeni Wimra

Aku harus bertemu Gadis bermata gerimis itu menjelang siang beralih senja. Menjelang matahari benar-benar dari pandangan dan perbukitan Batu Ampa telah disungkup gelap. Sebab, bila alam telah kelam, tanjakan dan penurunan jalan yang akan dilalui jauh lebih sulit dilewati daripada ketika masih tersisa terang di garis langit. Aku mempercepat langkah. Garis kelabu masih tergurat di sekitar ufuk barat. Aku pererat tali sepatu yang terasa longgar. Jalan setapak menuju Rumah Gadang terpencil yang kini di tempati Gadis masih licin. Sisa hujan siang membuat badan jalan bertanah liat dan berbatu itu barbalut lumpur.

Ojek yang kutumpangi tidak bersedia mengantar sampai ke halaman lantaran jalan licin. Sudah lama aku mengidamkan perjalanan ini. Menjelang usia 25 tahun aku pikul, hari-hariku lebih banyak di kampus. Setelah menamatkan S1 langsung ke S2. Begitu bunyi perjanjian dengan yayasan yang memberiku beasiswa. Sepanjang 25 tahun itu, rasanya, hidup bekejaran dengan sekawanan rencana dan cita-cita yang liar, Target-target hidup modern yang akhirnya kusadari telah menjauhkanku dari kesempatan memaknai asal-usul. Sering aku menerima cibiran. Aku dikatakan perempuan ambisius yang telah tercerabut dari akar budayanya. Perempuan berdarah Minang yang tiada lagi menginjak bumi; lupa pada jaringan kerabat dan sanak famili. Pernyataan itu harus kuterima dengan sadar dan sabar.

Dalam hati telah kusimpan niat bahwa pada waktunya aku akan pulang, mencicil utang-utang pada kerabat di kampung. Terutama utang untuk Gadis bermata gerimis itu. Sebenarnya aku memanggilnya Nek Gadis. Panggilan unik yang tidak aku saja yang menggunakan. Sekampunng, orang memanggilnya Nek Gadis. Nama lengkapnya Gadis Yulianis, amak dari ibuku yang kini tinggal sendirian menghuni Rumah Gadang kami di Batu Ampa. Seorang nenek yang selalu tampak ceria. Ketika sedang tersenyum, matanya yang tua selalu seperti dituruni gerimis. Sungguh pun begitu, dalam hati, aku senang menyebut dan menganggapnya sebagai seorang gadis muda, kesadaran akan keberadaan aku dan dia memuncak ketika mendapat email dari seorang pengurus yayasan: "Jelito, nenekmu sudah merindukanmu. Kalau urusan di kampus sudah selesai, pulanglah. Temui dia, sebelum ajalnya mendahuluimu..."

Pesan singkat yang menyentak perasaan. Setelah menuntaskan dengan dengan kampus dan Yayasan bung Hatta, pemberi beasiswa kuliahku, aku langsung mengurus keberangkatan dari Bandung-Jakarta-Padang. Dari Padang melakukan perjalanan darat dengan bus ke Payahkumbuh. Turun di simpang Batu Ampa lalu naik ojek ke alamat yang kini di tempati Nek Gadis.

Aduhai. Sahutan suara siamang dari kejauhan menyambutku. Jalanan lengang. Kesejukan menyelimuti segenap pikiran melihat orang-orang mengayuh sepeda. Hanyaa sesekali melintas motor. Gemercik air di sawah. Kicau burung. Semua mengetuk kesadaran yang selama ini trkurung dalam dalam diri dan tak pernah tersapa. Inikah kampung asalku? Barisan rumah yang dihuni orang-orang sederhana. Bentangan sawah-ladang yang lebih banyak tidur daripada tergarap karena pemiliknya telah ditelan perantauan.

Berbekal sisa tabungan, aku beniat akan tinggal lebih lama di sini. Selain ingin bertemu satu-satunya keluarga yang masih hidup, aku ingin menjiwai lebih dalam cita-cita menjadi perempuan di ranah yang bersuku ke ibu. Mudah-mudahan nenek bahagia menerima kehadiranku. Hari benar-benar gelap. Aku bersuluh senter yang tersedia di ujung telepon genggam. Aku tapaki anak tangga Rumah Gadang yang dibangun di atas sepetak tanah di pinggir kebun kakao.

Dulu, ketika keluargaku masih utuh, rumah ini kami kunjungi, paling hanya sekali setahun, setiap hari raya tiba. Daun pintu terbuka dengan gerak yang lembut. Sesosok tubuh bungkuk muncul diterangi cahaya lentera. Kebiasaannya belum juga berubah, lebih suka bersuluh lentera padahal Rumah Gadang itu sudah dialiri listrik. lebih suka mendengar radio, padahal mendiang ibuku sudah membelikan televisi.

"Masuklah." getar suaranya sangat dalam. Suara seorang yang sudah lama mengecap asam-garam kehidupan. Ia bergegas ke sebuah lemari. Memperkecil volume radio yang sejak tadi terdengar mendominasi suara seisi rumah. Lambat-lambat, suara katak dan belalang meningkahi. Ia kemudian mengembangkan tangan. Siap menerima pelukan. Aku langsung menyambutnya. Pelukan yang menenangkan. Pelukan yang menandakan kerinduan yang lama tertahan.

"Jelito, Nenek sudah lama menunggumu," kedua tangannya menupang dagu dan pipiku.

"Pipi ini. Hidung ini. Mata ini. Semuanya mirip sekali dengan punya ibumu," ucapnya disela haru yang terjaga. Matanya kembali bergerimis, tapi otot pipinya seperti sudah terlatih mengendalikan perasaan, sehingga hanya tiga segukan yang keluar.

"Nenek sudah dapat kabar siang kemarin, kalau kamu akan pulang. Nenek sengaja berpesan pada orang yayasan yang tempo hari memberitahu Nenek kalau kamu akan wisuda. Nenek ingin kamu ada di sini menjelang usia Nenek ditutup nan satu. Di keluarga kita, yang tersisa hanya kita berdua....."

Di sela getar suara nenek, ingatanku memutar kembali gempa Aceh 2004 lalu. Bencana yang mengakhiri kebersamaanku dengan keluarga di sana. Beruntung keberadaanku cepat diketahui. Aku selamat dari bencana itu karena sedang berada di asrama pondok pesantrenku di Bukittinggi. Neneklah yang mengurusi penjemputanku.

Yayasan Bung Hatta menyetujui permohonan nenek untuk mengamankanku yang waktu itu masih kelastiga Aliyah. Aku sempat dibawa ke rumah nenek, berpamitan menjelang aku berangkat ke Bandung melanjutkan pendidikan.

Enam tahun lebih berlalu. Rentang waktu yang kulalui antara harapan dan ketakutan. Namun, terasa sangat singkat ketika berada kembali di pelukan nenek. Merasa denyut semangat di tubuh 85 tahunnya. Tubuh boleh saja ringkih. Ia boleh saja ditinggal mati suaminya, disusul kehilangan anak perempuan dan menantunya, tetapi semangat yang dikandung batinnya terasa masih menyala. Segelas teh hangat sudah tersedia di meja bundar yang dilingkari kursi rotan ketika selesai mandi dan shalat Maghrib. Tapi masih aku abaikan. Sungkan rasanya langsung meminum teh buatannya. Aku langsung ke dapur menemaninya menunggu rebus buncisnya matang.

"Tehnya sudah kau minum?" tanyanya sambil menyusun letak kayu api yang ujung-ujungnya sedang menyala. Aku menggeleng.

"Kenapa belum diminum? Kalau sudah dingin, tidak enak."

"Harusnya aku yang buatkan teh untuk nenek," tanggapku.

"Tak apa. Itu tanda kerinduan nenek padamu. Minumlah."

Aku dan nenek terlibat aktivitas menjelang makan malam. Hingga kantuk terasa kami terus bercerita tentang banyak hal yang muara kisahnya berputar pada keadaan keluarga kami yang nyaris punah. Katanya, kalau dirinyatelah tiada, tinggal aku seorang anak perempuan yang akan meneruskan nasab keluarga. Ia kisahkan pula bagian terpenting dalam hidupnya. Tentang sejumlah kekeliruan yang pernah dilakukan di masa lalu.

Semasa muda, ia pernah mengalami perasaan iba yang tak terperikan. Perasaan iba itu menguasai pikirannya sehingga ia termasuk gadis yang terlambat bersuami. Ia menikah saat sudah berusia 30 tahun. Di masa Nrk Gadis muda, itu sudahsangat terlambat. Setelah menikah, ia pun hanya dikaruniai dua orang anak. Satu laki-laki, dan satu perempuan. Yang laki-laki meninggal ketika berusia delapan bulan. Yang perempuan, yakni ibuku, meninggal pada bencana tsunami Aceh. Tinggal aku, cucu perempuannya.

"Doa nenek sekarang, cepatlah hendaknya kamu bertemu jodoh. Teruskan nasab keluarga kita. Atau jangan-jangan kamu sudah punya calon? Bilanglah sama nenek....." Keriput senyumnya seperti sedang menggoda dan gerimis di matanya terus saja merinai. Aku juga mencoba tersenyum. Terlalu dini membukanya pada nenek. Bisa saja dia tercengang; sangat heran bila rahasia masa mudaku diceritakan padanya. Bisa jadi dia naik pitam mendengarnya.

Di ujung senyum yang kupaksakan itu, kutanyakan pada nenek, apa sebenarnya hal yang pernah membuatnya bersedih sehingga larut dalam perasaan tak berguna. Melakukan hal yang kini ia anggap keliru, sampai-sampai ia terlambat menikah? Nenek tidak menjawab dengan jelas. Ia hanya menceritakan tentang rencana mamaknya memperkenalkan pada seorang anak muda terpelajar yang pada saat itu sedang berada di Tanah Jao. Anak muda itu masih cucu saudara sepupu sang mamak. Ia seorang yang secara adat sangat pantas mempersunting nenek. Pulang ka Bako, demikianlah istilah adatnya, yakni menikah dengan kemenakan atau keluarga ayah.

Apa yang terjadi? Hanya sekali pemuda itu pulang. itu pun sebentar. Hanya beberapa hari. Setelah sempat diperkenalkan pada nenek, ia kembali lagi ke Tanah Jao dan tak pulang-pulang. Sang mamak tetap meninta nenek bersabar. Kalau negeri sudah aman, pemuda yang akan menjadi suami nenek itu pasti akan pulang. Ini sudah menjadi keputusan keluarga. Rasanya sayang kalau pemuda itu mempersunting gadis lain di tanah rantau. Jika itu terjadi, ibaratnya memagar kelapa condong. Batang di kebun kita tapi buah jatuh ke ladang orang. Begitu pikiran sang mamak.

Beberapa kerabatlain juga berkeyakinan seperti itu. Mereka paham, pemuda itu sedang berjuang memerdekakan sebuah negara-bangsa. Jadi anak muda di masa itu memang penuh tantangan. Mallu besar bila ada anak muda yang hanya mampu memikirkan dirinya sendiri. Apalgi laki-laki. Nenek juga berusaha mengerti bagaimana rumitnya jadi laki-laki di masa itu. Beruntung masih bisa hidup. Bahkan tak terhitung yang meregang nyawa kerena memperjuangkan hidup dan tanah airnya. Tapi, seperti yang diakui nenek, satu hal yang sering membuatnya terjebak iba adalah penantiannya yang tak berujung. Pemuda itu tak pernah berkabar. Hal ini bukan perkara laki-laki. Kata nenek, ini perkara perempuan. Selalu perempuan yang ditinggalkan; selalu perempuan yang menunggu.

"Siapa nama pemuda yang Nenek tunggu-tunggu itu, Nek?" tanyaku tak sabar.

Nenek trtegun. Matanya kembali bergerimis. Di luar, gerimis sungguhan juga turun. Kerut wajahnya menampakan tanda-tanda misterius yang tak mampu kupahami maknanya. Dengan langkah tenang, nenek berlalu ke ruang tidur.

Nenek keluar dari biliknya membawa sebuah map kelabu yang sudah tampak tua. Map itu bergetar ketika nenek menyerahkannnya padaku. Pelan-pelan map itu aku buka. Sebuah foto setengah badan. Seorang pemuda berkaca mata bingkai hitam.

"Bung Hatta?"

Suaraku tercekik ditenggorokan. Kami pun tak lagi bercakap-cakap. Hanya saling tatap. Di luar, gerimis terus menyentuh atap. Perlahan seiring rentak gerimis, aku perhatikan muka nenek. Keriput bertautan. Akusentuh bahunya.

"Nek, ada apa dengan mata Nenek?" aku guncang-guncang bahunya. Kembali kuperhatikan, rupanya di kedalaman mata nenek, rintik gerimis semakin rapat.

Dari cara nenek membersihkan percikan gerimis di matanya, terlihat sekali kalau dirinya sudah terbiasa menghadapi perasaan demikian. Penglihatanku pun jadi sedikit kabur dibatasi kabut yang tercipta dari percikan gerimis di mata nenek. Wajah nenek tidak lagi terlihat keriput, melainkan seperti wajah seorang gadis yang kuyp di tengah siraman gerimis. (*)

Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 21 Oktober 2012

Minggu, 07 Oktober 2012

Doa Sebutir Peluru


Cerpen: Skylashtar Maryam

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Perlahan, amat perlahan.... tubuh yang kau lubangi itu menyebut nama Tuhan pada sepenggal napas yang tersisa . Meski di tempat kau berada kini, Tuhan kerap tak digubris dan ditepis. Tubuhmu bergetar, suara-suara menggelegar. Petir mulai menyambar, hujan bukan lagi berderai melainkan tumpah ruah. Abeputra pun kuyup.

Engkau mulai menggigil, ketakutan. Berusaha keluar daari tubuh yang hidupnyatelah engkau renggut bagai parasit berlari dari inang. Namun tubuhmu sendiri sudah terperangkap dalam begitu dalam, sementara suara-suara samar mulai berubah menggelegar; suara-suara yang tak ingin engkau dengar.

"Lalu siapa engkau?" sesosok makhluk tinggi besar bersayap hitam menjulang di hadapanmu, di atas tubuh inangmu yang tergeletak bisu.

Engkau menggigi. "Saya.... saya..." geragap.

"Katakan siapa engkau!" gelegar.

Kau semakin menggigil. "Bukan salah saya, sungguh bukan salah. Setan-setan itulah yang memaksa saya bersarang di sini."

"Berani-beraninya kau menjelma aku, berani-beraninya kau!" petir menyambar.

Engkau genap menangis, meringis mengais-ngais ingatan apapun yang bisa dijadikan tamba. "Tuan oh Tuan yang perkasa. Ketahuilah Tuan, saya hanya sahaya. Tangan merekalah yang telah membuat saya sedemikian hina. Tuan, oh Tuan yang begitu gagah. Tolong keluarkan saya dari sini," kau mulai memohon.

"Orang ini, yang di dalamnya kau bersarang. Siapa dia?"

Kau kembali gagap. "Saya tidak tahu, Tuan. Ini pertama kali kami bertemu."

Ya, kau tak tahu siapa lelaki malang itu. Lelaki malang yang tidak pernah sekalipu menyangka akan menghembuskan napas terakhir disebabkan oleh gempurannmu. Lelaki malang yang mati bersimbah darah tanpa tahu kesalahan apa. Lelaki yang berada di tempat dan waktu yang salah ketika berbagai macam pertikaian menjelma menjadi kolam pembantaian.

Yang engkau tahu hanyalah malam tadi kau ditempatkan di dalam revolver seseorang, dibawa mengarungi malam. Engkau memasang kuping, ingin mencuri dengar apa-apa yang terjadi diluar. Di malam yang lain, enam kawanmu tercerabut dari sarang untuk berpindah ke tubuh-tubuh, menjelma Izrail; malaikat maut yang sekarang tengah kau hadapi.

Bagimu, terlepasnya tubuh dri kungkungan putaran besi adalah sebuah perjudian tanpa satu orang pun pemenang. Kau dan kawan-kawanmu tak dapat menerka, tak dapat mengira, selongsong siapa yang kelak muntah menyongsong darah. Sialnya, malam tadi adalah giliranmu.

"Cih, bangsat betul nasib kita. Hanya jadi budak-budak manusia bejat," kau merutuk, mengutuk.

Kawanmu yang lain, yang sedari tadi terkantuk-kantuk menunggu giliran terkekeh. "Terima sajalah nasibmu, kawan. Meski aku tak yakin yang membawa rumah kita ini manusia atau bukan. Jangan-jangan ini setan. Memangnya kau mau dengar dia dari tadi menggeram? Aku sedang membayangkan seekor makhluk bertanduk, berekor, bertaring, dan berkulit merah.

"Gila kau!" kata kawanmu yang lain lagi, yang selongsongnya begitu murung seakan-akan seluruh mendung di bumi bergelayut dipunggung. "Jangan bicara tentang setan. Apa kau tak tahu tempat macam apa ini?" Di sini, di pulau ini, segala macam barang tambang dikeruk dan diperdagangkan. Ini pulau yang kaya kawan. Semua orang pasti akan bahagia. Mana ada setan di tempat seperti ini?"

"Setan atau bukan yang membawa kita, aku ingin segera keluar dari sini. Kalian sudah dengar tentang enam kawan kita itu, kan? Kabarnya mereka dipakai untuk melubangi manusia-manusia tak berdosa. Di kepala, di dada, di mana saja," engkau bergidik ngeri.

"Pengecut kau!" hardik kawanmu yang paling berani. "Coba kau bayangkan kuasa apa yang ada di tanganmu. Kita memang selongsong kecil, tapi kita bisa menunggangi kematian. Kita adalah jelmaan Izrail, si malaikat pencabut nyawa itu," kawanmu menyeringai.

"Aku tak mau jadi Izrail!" Aku tak mau jadi apapun dan siapapun. Aku hanya ingin dikembalikan kepada ibu, dilebur jadi perkakas atau berakhir jadi barang bekas. Aku tak ingin berakhir di sini, di dalam revolver terkutuk ini," engkau meringis.

Sebelum kawanmu sempat menimpali, tubuhmu tetiba saja bergeletar,, kemudian engkau dipaksa lesat keluar ketika ketika sebuah telunjuk menarik pelatuk.

Dor!

Dan di sanalah engkau berakhir, di leher seorang lelaki malang yang napasnya telah sempurna hengkang.

"Dan kau sekarang berbangga diri karena telah menjelma menjadi aku?" gelegar itu lagi.

Engkau semakin kalut dan rasa takut. "Tidak, Tuan. Sungguh! Tak pernah setetes pun saya bermimpi untuk mengakhiri perjalanan saya seperti ini. Manusia malang ini pastilah korban juga, manusia tak berdosa yang tak tahu pertikaian macam apa yang sedang membara di sini, di pulau kaya raya ini."

"Tak ada manusia yang tak berdosa," ceceran hujjan terciprat ke tubuhmu ketika sosok di hadapanmu kembali bersuara.

"Ngggg.... begini maksud saya, Tuan. Manusia ini, ia hanya manusia biasa yang hidup, bekerja, bernapas, dan menjalani hari-harinya tanpa sedikitpun bersinggunngan dengan perkara setan-setan, bukan? Ia juga korban, sama seperti saya, bukan?" serangan gugup itu datang lagi. "Ah, Tuan. Anda tentu lebih tahu daripada saya mengenai ini. Bukankah menurut kabar yang saya dengar, ada enam manusia lain yang bernasib sama seperti manusia ini? Anda di sana juga, pasti Anda ada di sana."

"Sosok bersayap hitam itu terkekeh. "Tentu saja aku ada di sana. Kau pikir kawan-kawan busukmu itu bisa tanpa aku? Kalian hanya butir-butir bedebah, tak bisa berbuat apa-apa kalau aku tak turun tangan mengakhiri pekerjaan terkutuk yang kalian lakukan. Cih! Sebetulnya aku bosan, asal kau tahu."

Tuan, boleh saya minta tolong sesuatu?" hujan masih membasah, mencipta merah di tanah, bercampur darah.

"Apa itu?"

"Bisakah, Tuan. Sekali saja, berhenti bekerja dan tak menjadikan tempat ini neraka? Kasianilah saya, Tuan. Kasihanilah kawan-kawan saya kelak. Saya tak ingin nanti ada kawan-kawan saya yang berakhir dengan cara seperti ini; bersarang di tubuh yang tak berhak dan tak pantas untuk mati dengan cara semengerikan ini," engkau memohon. "Juga kasihanilah manusia-manusia di pulau ini."

Sosok di hadapanmu murung, langit malam yang kelam bertambah suram. "Ah kau ini. Andaikata saja aku bisa. Tapi siapalah aku ini."

"Tapi Anda adaala Izrailsang perkasa, malaikat pencabut nyawa," katamu, menengadah.

"hah, kau ini bodoh atau apa? Aku juga menjalankan titah."

Engkau terbengong-bengong. Bagaimana mungkin sosok yang sudah dianggap semacam dewa bagi kau dan kawan-kawanmu itu juga menjalankan titah? "Titah? Titah siapa? Jangan bilang kalau Anda juga budak setan yang karena tarikan tangannya di pelatuk itu maka saya berakhir di sini."

Suara gelak. "Kau memang benar-benar bodoh! Hahahaha... ya, aku tidak menyalahkan kalau selama ini kau memang tak tahu apa-apa karena selalu terkukung di dalam sarung-sarung. Eh, sekalinya keluar malah bernasib sial. Hahahaha...."

"Tuan, bisakah Anda berbaik hati menjawab saja pertanyaan saya? Titah siapakah itu?"

Sosok itu menengadah ke langit, menadah hamparan hujan. "Tuhan," jawabnya.

"Tuhan?" engkau mengerut. Mendengar nama yang satu itu disebut membuat tubuhmu seketika lisut. "Apakah itu nama yang tadi dirapal manusia malang ini?"

"Ya, kau benar. Keputusan apakah aku mencerabut hidup satu manusia tetap berada di tangan-Nya."

"Apakah Ia juga bisa mendengar percakapan kita?" engkau memandang berkeliling mencari-cari sosok Tuhan.

"Tentu saja Ia mendengar. Ah, kau ini memang bodoh ternyata."

"begini saja, Tuan. Riwayat saya sebentar lagi berakhir. Mungkin tubuh saya akan segera diangkat, diperiksa, dianalisa. Setelah itu mungkin saya tidak akan bisa kembali bersuara. Bisakah Anda berbaik hati menyampaikan ini kepada Tuhan?"

"Bicaralah!"

"Semenjak saya berada di sini, di dalam lehr manusia ini. Saya melihat begitu banyak hal indah. Pulau ini begitu melimpah dengan harta. Emas, uranium, dan harta-harta lain yang tidak bisa saya kenali. Manusia ini juga pergi kemari dengan berjuta harapan dan keinginan. Saya yakin ada banyak manusia lain yang memiliki harapan yang sama.

Saya tidak tahu, tidak mengerti hal seperti apa yang sedang dipertikaikan dan diperebutkan di pulau kaya raya ini, Tuan. Saya hanya memohon agar Tuhan kelak melindungi siapa saja dari amukan kawan-kawan saya demi tujuan bejat mereka. Kasihanilah mereka; manusia-manusia ini. Senantiasa lindungilah mereka. Bisakah Anda menyampaikan semua kata-kata saya barusan?"

"Tidak perlu. Ia sudah mendengar doamu. Tapi agar kau tak penasaran, iya nanti aku sampaikan."

"Doa? Makhluk macam apa pula it?"

"Haduh, aku capek bicara denganmu. Yang kau ucapkan sedari tadi itu adalah doa, tolol!"

"Apakah doa itu sesuatu yang baik?" kau mulai kebingungan.

"Sepanjang doa itu untuk kebaikan maka doa itu adalah baik."

"Apakah saya boleh berdoa agar setan-setan itu juga digiring ke neraka sekarang juga?" kau berharap-harap cemas.

"Ya ya ya... berdoalah sesukamu."

"Tuhan, menurut Izrail di hadapan saya ini, saya boleh berdoa apa saja. Tolong, jebloskan setan-setan yang berkeliaran di pulau ini ke neraka sekarang juga."

"Amin," ucap sosok bersayap hitamm itu.

"Hah, apa itu amin?"

"Kau ingin kita ngobrol di sini semalaman atau bagaimana? Aku banyak pekerjaan. Sudahlah, mari kita akhiri saja."

"Lalu bagaimana nasib saya, Tuan? Apakah Tuan sudah mencabut nyawa manusia malang ini?"

"Kau, tetaplah berdiam di situ sampai manusia lain menemukanmu. Dan ya, sudah sedari tadi aku mencabut hidup manusia malang ini. Kasihan dia kalau harus mendengar ocehanmu."

Kemudian sosok itu menghilang, ditelan malam, ditelan hujan.

Engkau terdiam, menatap malam, meneruskan rapal doa dalam gumam. (*)

-------------------------------------------------------------------
Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Oktober 2012
-------------------------------------------------------------------

Jumat, 05 Oktober 2012

7 Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Setelah Putus

1. Jangan Mencoba Tetap Berteman
Jarang ada dua orang yang bisa membuat peralihan secara baik-baik dari kekasih menjadi teman, namun jika Anda akan melakukan hal tersebut, jangan mencobanya hingga luka yang ada terobati. Tetap berteman setelah putus membuat Anda tidak punya cukup kesempatan untuk melupakannya. Segera putuskan seluruh hubungan Anda, setidaknya hingga luka Anda terobati.

2. Jangan Kuntit Mereka di Twitter atau Facebook
Seolah-olah kita tidak punya cukup masalah yang dihadapi saat putus, kini kita hidup di sebuah zaman saat media sosial membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk. Duduk sambil memandangi profil Facebook mantan kekasih Anda merupakan sebuah kesalahan yang serius setelah Anda putus. Jika Anda merasa butuh untuk melihat profilnya secara diam-diam, barangkali menghapus akunnya dari semua situs media sosial Anda merupakan hal yang terbaik. Anda akan marah jika melihat mantan Anda memberikan tanda “like” pada foto wanita lain atau mengubah status hubungan mereka. Mengapa Anda menyiksa diri sendiri?

3. Jangan Melampiaskannya Dengan Minum Alkohol
Ketika kita merasa sedih dan melampiaskannya pada alkohol terkadang tampak sangat menarik. Namun, jangan lakukan hal itu — memadukan antara putus hubungan dan alkohol sama saja dengan mencampurkan susu dengan vodka, karena akan memunculkan sebuah kekacauan. Kemungkinan yang akan terjadi adalah, Anda akan mabuk dan kemudian akan melakukan kesalahan. Sebaliknya, kendalikan diri Anda dari dengan berada bersama teman dan keluarga yang bisa Anda lampiaskan perasaan Anda tanpa ada penilaian ataupun tanpa kehilangan kesadaran Anda.

4. Jangan Mencari Penggantinya Dulu
”Cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah dengan orang yang baru.” Ini cuma mitos. Hati Anda kosong setelah ditinggalkan oleh pacar? Jangan coba mengisinya dulu. Anda perlu menunggu sampai luka itu sembuh alami, daripada mencoba untuk mencari penggantinya. Menggunakan orang lain untuk menggantikan posisi mantan pacar Anda tidak hanya tindakan yang egois, tapi juga kontraproduktif. Anda perlu mengatasi emosi Anda, namun dengan mencari pengganti kekasih Anda hanya akan memperpanjang rasa sakit Anda karena Anda tidak pernah benar-benar berdamai dengan perasaan Anda. Melakukan hubungan seks dengan orang lain juga hal yang tidak boleh dilakukan. Hal tersebut akan membuat Anda merasa diperalat dan malu.

5. Jangan Pernah Berpikir Bahwa Anda Akan Selalu Merasa Sedih
Ya, Anda menghabiskan 10 bungkus tisu dan Anda larut dalam air mata di depan kolega Anda lima kali pekan ini (dan itu hanya pada Senin pagi), tapi jangan khawatir. Sangat mudah memang untuk merasa Anda tidak akan pernah merasa bahagia lagi, tapi suatu saat Anda pasti akan bahagia. Setiap hari Anda akan mulai merasa semakin kuat hingga suatu hari Anda akan menyadari bahwa tidak lama lagi Anda akan merasa bebas dari mantan Anda.

6. Jangan Menghubungi Mantan Anda Untuk Alasan Apa Pun
“Aku harus mengingatkannya soal jadwal berobat ke dokter giginya”, “Aku harus bilang padanya bahwa anak kucingku baru saja bisa berjalan”.. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak! Di masa yang rumit setelah putus seperti itu, Anda bisa saja duduk sambil mencari-cari alasan untuk menghubungi mantan Anda, namun sangat penting untuk tidak melakukan itu. Jika Anda berdua memutuskan bahwa berpisah adalah keputusan yang tepat, biarkan luka Anda terobati karena lambat laun Anda tidak akan tergoda lagi untuk menghubungi mantan Anda.

7. Jangan Biarkan Diri Anda Berlebihan
Putus merupakan alasan yang tepat untuk duduk sambil menikmati es krim dalam jumlah banyak, namun hal baik yang berlebihan tidak pernah bagus untuk Anda. Manfaatkan waktu Anda setelah putus dengan santai, jika sebelumnya Anda selalu berusaha tampil sempurna saat masih bersamanya. Namun jika Anda sudah merasa sudah makan berlebihan selama empat hari berturut-turut, itu mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk mulai menjadi diri Anda sendiri. Pakai baju terbagus Anda dan keluarlah untuk bersenang-senang lagi.

Sumber: Yahoo SHE