Ini Cara yang Tepat Menyatakan Cinta

Tidak banyak perempuan yang berani untuk mengungkapkan perasaannya dan malah memilih untuk memendamnya entah sampai kapan. Sebenarnya, menyatakan cinta itu sah-sah saja selama anda menggunakan cara yang sopan dan tidak berlebihan.

Mengetahui Kadar Cinta Si Dia

Keingintahuan merupakan hal yang sangat wajar dalam kehidupan manusia. Keingintahuan dapat terkait dengan banyak hal dan salah satunya mengenai pasangan anda. Berikut beberapa tips untuk mengetahui kadar cinta si dia

Ada Banyak Cara Melupakan Mantan Pacar

Setiap hubungan percintaan pasti mengalami masa-masa yang sulit untuk bisa saling memahami perbedaan yang ada. Seringnya perbedaan tersebut malah membuat hubungan tersebut menjadi sangat buruk kualitasnya. Tidak jarang hal ini mengakibatkan putus cinta

Lewat Surat Cinta Bisa Lebih Ungkapkan Romantisme

E-mail, SMS, sampai instant messenger memang sangat mempermudah komunikasi kita dengan orang lain. Namun, ketika sedang menjalin kasih Anda pasti tak ingin menerima ucapan cinta melalui pesan singkat saja. Untuk mengatasi kebosanan dan membuat hubungan semakin romantis, tak ada salahnya untuk kembali menggunakan cara tradisional, yaitu surat cinta. Meski terbilang jadul, melalui surat cinta Anda bisa lebih puas mengungkapkan perasaan dengan kalimat yang lebih romantis. Apalagi jika surat itu Anda selipkan ke tangannya dilengkapi setangkai mawar merah.

Pada Bulan Merah Akankah Kau Pulang

Sampai penantian itu berbilang tahun --20 tahun hingga kini-- bagai kumbanng putus tali. Hilanng tanpa kendali. Andaikata pula ia tersesat, mestinya aku tahu di mana rimbanya. Kalaupun ia wafat, aku berharap tahu pula di mana tempat kuberziarah.

Doa Sebutir Peluru

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Senin, 08 Juli 2013

Tubuh Kurus Kering Akibat Menyusui Tuyul

Tubuh Kurus Kering Akibat Menyusui TuyulOleh: R. Mujiati

Makam Ngujang, Tulungagung, Jawa Timur, sudah lama dikenal sebagai tempatnya orang memuja pesugihan tuyul. Ini adalah kisah seorang penganut pesugihan di tempat ini yang tubuhnya kurus kering akibat menyusui tuyul yang dipeliharanya. Dialah Srikaya

Di zaman serba materialistik ini, orang terkadang rela melakukan apa saja. Tak peduli, jalan yang ditempuh sesat atau hitam, yang penting baginya adalah bisa hidup enak dan mewah. Namun apalah arti hidup bergelimang harta jika didapat dengan cara yang tidak halal. Apalagi jika dikemudian hari harta yang melimpah itu akan menyiksa lahir batin tanpa batas waktu.

Sebut saja namanya Srikaya, meski di masa mudanya kaya raya, ia tidak terlihat sumringah atau segar bila dipandang mata. Padahal ia sebenarnya bisa makan enak, membeli berbagai macam pakaian dan perhiasan bisa dilakukan dengan mudah. Namun, di usianya yang belum tua, ia justru terlihat ringkih seperti orang yang tengah sakit-sakitan. Perihal itu, tidak banyak orang yang tahu jika ia sebenarnya penganut pesugihan sejenis tuyul yang setiap malam minta disusuinya.

Pada saat di hari tuanya, bahkan Srikaya terlihat semakin renta saja. Tak hanya tubuhnya, penglihatan dan pendengarannya juga tidak begitu jelas. Karena itu jika berbicara dengannya harus ekstra keras yang disertai dengan menggunakan bahasa isyarat untuk memudahkan wanita tua ini menangkap maksud pembicaraan. Kini di hari tuanya, Srikaya hidup sebatang kara si sebuah desa di Tulungagung, yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Penulis mengetahui keberadaan Srikaya dan jauh-jauh datang ke tempat tinggalnya setelah seorang rekan mengirimkan sebuah pesan yang isinya cukup menarik untuk ditelusuri. Yakni mengenai kehidupan wanita ini yang katanya pernah menganut sebuah pesugihan tuyul yang diperolehnya di daerah Tulungagung, yakni di Makam Ngujang , Ngantru.

Tapi, saat Srikaya ditemui penulis, ia mulanya menolak permintaan mengobrol mengenai masa lalunya yang kelam tersebut. Berkali-kali ia mengatakan bahwa itu masa lalu, tidak perlu diingat-ingat lagi. Seorang rekan yang sudah beberapa kali mengunjungi nenek tua ini mengatakan bahwa harus cukup sabar untuk bisaa menggali cerita darinya.

Rekan yang mantan wartawan itu sebenrnya sudah banyak menggali informasi mengenai masa lalu nenek tua itu. Tapi, untuk meyaknkan penulis, ia minta untuk menanyakan sendiri atau barangkali ada data-data yang masih kurang lengkap untuk digali lagi dari nenek Srikaya tersebut.

Menurut rekan yang mantan wartawan itu, Srikaya terpaksa melakukan pesugihan tuyul sebab hidupnya selalu didera kemiskinan. Kakek neneknya miskin, begitu juga ibu dan bapaknya. Bahkan ketika Srikaya muda ini menikah ia justru mendapatkan seorang suami yang berasal dari keluarga miskin. Yang lebih menyakitkan, suaminya itu ternyata seorang pemalas dan suka main judi. Perihal hobi suaminya ini, Srikaya sering dibuat sakit hati. Tak hanya sakit hati akibat jarang diberi uang belanja, uang hasil kerjanya sendiri terkadang masih saja dirampasnya.

Konon, karena gelap mata jarang diberi nafkah, bahkan mungkin dalam beberapa minggu tidak pernah dikasih uang belanja oleh suaminya, Srikaya mendatangi Makam Ngujang, yang ada di Kecamatan Ngantru, Tulungagung, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Untuk itu, ia harus terpaksa menitipkan anak laki-lakinya yang baru berumur sekitar sembilan tahun pada orangtua kandungnya.

Mulanya, ia tak bermaksud untuk memuja pesugihan. Ia hanya ingin datang saja ke makam itu, setelah mendengar cerita dari orang-orang bahwa sudah banyak yang berhasil setelah berziarah ke situ. Selain itu, ia mengaku lebih tenang saat berada di makam itu. Ia seperti menemukan tempat yang damai di situ. Entahlah, apakah karena pengaruh kekuatan gaib yang ada di situ atau memang akibat suasana yang memang mendukung, yakni sejuk sebab banyak pepohonan yang ada di tempat itu.

Tak sekali saja Srikaya mendatangi makam itu. Srikaya sendiri lupa sampai berapa kali mendatangi makam itu, mungkin pula sudah berkali-kali. Meski sudah sering mendatangi makam itu, namun tidak ada tanda-tanda apa yang menjadi keinginannya akan bisa terkabul. Ia masih sering kekurangan dan pekerjaannya yang serabutan masih pula dijalaninya.

Sampai pada suatu malam, setelah siangnya baru mendatangi Makam Ngujang, dalam tidurnya Srikaya didatangi seorang anak gundul yang ingin kut dengannya. Karena merasa kasihan, Srikaya akhirnya menuruti keinginan anak kecil yang berkepala plontos itu.

Namun, di tengah jalan bocah itu minta air susunya. Srikaya mengiyakan begitu saja, tapi saat bocah itu menyedot air susunya, bocah tersebut seperti tidak ada habis-habisnya meminumnya. Karena merasa sakit, Srikaya akhirnya terbangun dari tidurnya. Srikaya kaget, sebab mimpi itu seperti nyata. Mimpi itu katanya jelas sekali, sampai-sampai ia gemetaran dan tubuhnya berkeringat dan keadaannya berantakan seperti orang yang memang baru saja menyusui anaknya.

Besoknya, Srikaya kembali bermimpi. Tapi, kali ini mimpinya didahului dengan menyusui anak kandungnya sendiri, tapi saat itu tiba-tiba ada bocah lain yang ingin menyusu padanya. Berkali-kali Srikaya mimpi seperti itu. Sampai akhirnya ia sendiri yakin jika ada makhluk lain yang mengikutinya, yakni makhluk gaib kecil ang brtelanjang dan berkepala plontos, yang mungkin sejenis tuyul.

Jika sebelumnya bocah gundul itu datang seperti dalam mimpi, kini Srikaya mengaku melihat dengan jelas kelebatnya. Bahkan terkadang, ia seperti mengintip atau memperhatikan Srikaya. Ia seperti tahu dan mendengarkan apa-apa yang diucapkan Srikaya. Pada saat itulah Srikaya iseng-iseng menyuruhnya melakukan ini dan itu dan ternyata bocah itu menurutinya. Perintah ini dan itu, salah satunya adalah mencarikan Srikaya uang yang entah uang itu didapatnya dari mana oleh bocah gundul itu. Mungkin juga mencuri milik orang-orang kaya. Meski begitu, katanya uang yang diperoleh bocah itu tidak pernah banyak, hanya beberapa lembar uang puluhan ribu. Meski begitu, hampir tiap hari Srikaya mendapatkannya.

Menurut Srikaya yang pernah diceritakan pada rekan yang mantan wartawan itu, semua itu berjalan seperti mimpi. Tidak ada perjanjian gaib antara dirinya dengan makhluk gaib penunggu makam Ngujang atau bahkan dengan bocah gundul tersebut.

Sejak itulah, tak butuh waktu lama, kehidupan wanita itu berangsur-angsur membaik. Ia tidak lagi menjadi buruh serabutan. Ia mulai membuka usaha kecil-kecilan. Dari usaha kecil-kecilan yang dirintisnya di pasar, yakni berjualan alat-alat dapur, usaha wanita itu cepat sekali perkembangannya. Sampai akhirnya Srikaya mempunyai stand di pasar yang dibeli dari uang tabungannya. Anehnya, jumlah tabungannya itu lebih besar dari perkiraannya. Mengenai hal itu, mungkin uang itu ditambahi dari makhluk kecil yang gundul tersebut.

Tak hanya sekedar punya, lambat laun kehidupan Srikaya benar-benar bergelimang harta benda. Dengan kekayaan itu, Srikaya sebenarnya bisa melakukan apa saja. Membeli pakaian yang bagus, perhiasan, makanan yang nikmat dan lezat, dan berbagai hal yang menyenangkan. Tapi, ada pandangan yang sungguh-sungguh mengiris hati, yakni meski bisa makan enak, pakaian mewah dan memakai perhiasan yang mahal, aura wajah Srikaya tidak menampakkan suatu yang membahagiakan. Wajah wanita itu redup, seperti ada sesuatu yang menutupi.

Tubuhnya kurus kering seperti orang yang sedang menderita sesuatu penyakit tertentu, tidak ada yang tahu jenis penyakit apa yang sedang diderita wanita ini. Meski begitu ada isu yang mengatakan jika wanita ini setiap malam menyusui makhluk gaib yang bernama tuyl. Karena disedot oleh tuyul yang minumnya banyak inilah wanita ini badannya kurus kering.

SEpuluh tahun berikutnya, setelah Srikaya mendapatkan kekayaan seperti yang menjadi keinginannya, cobaan itu mulai datang menerpa. Suaminya yang pemalas dan hobinya yang hanya main judi, selingkuh dengan wanita lain. Padahal uang untuk judi dan selingkuh itu justru didapatnya dari memeloroti atau diam-diam mengambil dari usaha istrinya. Srikaya yang marah dan menganggap lelaki itu tidak tahu diri akhirnya menceraikannya.

Setahun berikutnya, cobaan itu datang lagi, anak tunggalnya yang menginjak remaja mengalami kecelakaan di jalan raya sampai akhirnya meninggal seketika di tempat kejadian perkara. Ditinggal suami, wanita ini pada waktu itu masih bisa menahan kesedihannya. Tapi, kehilangan anak tunggalnya, sampai berbulan-bulan lamanya Srikaya tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.

Lamban laun namun pasti, kekayaan wanita itu mulai merosot sedikit demi sedikit. Usaha perdagangan yang dilakukannya banyak mengalami kendala dan akhirnya menemui kegagalan. Kepada rekan yang mantan wartawan itu, Srikaya sempat mengaku jika ia sama sekali tidak ada perjanjian gaib dengan penunggu makam Ngujang mengenai tumbal atau lain sebagainya. Srikaya sendiri tidak tahu, apakah meninggalnya anaknya akibat diambil penguasa gaib Makam Ngujang sebagai tumbal atau memang murni kecelakaan.

Meski tak juga mau bercerita panjang lebar mengenai masa lalunya pada penulis, wanita ini sempat juga mengaku jika ia tidak mau lagi didatangi bocah gundul yang menurut perkiraannya jelmaan tuyul itu. Ia tobat dan ingin meninkmati masa tuanya yang mungkin sebentar lagi akan diambil oleh Yang Maha Kuasa untuk hal-hal yang lebih bak lagi.

Baginya, sekarang ini harta benda tidak ada harganya. Sebab, selain tdak bisa menikmatinya, kekayaan itu tidak ada artinya jika ia hanya hidup sendiri dan keluargannya telah meninggalnya.
Sepulang dari menemui Srikaya, penulis sempat mampir di kompleks Makam Ngujang, Ngantru, Tulungagung. Sebuah makam yang dinaungi cungkup menyerupai rumah terlihat cukup dikeramatkan di antara makam-makam yang lain. Makam itu terkunci dan untuk memasukinya harus ijin juru kuncinya.

Sementara itu, di kompleks makam, di antara batu-batu nisan dan dahan-dahan pohon, puluhan kera atau monyet sibuk bergelantungan, bahkan terkadang mendekati orang yang sedang berziarah di makam ini. Konon, kera-kera ini adalah jelmaan para penganut pesugihan yang telah habis masa kontraknya. (*)

Sumber: Misteri Edisi 561 Tahun 2013

Minggu, 26 Mei 2013

Kembang Bernyanyi

Cerpen: Dadang Ari Murtono

Percayakah kau bila di dunia ini ada kembang yang ketika kuncup berwarna merah, semerah darah, dan perlahan-lahan, seiring dengan membukanya kuncup itu menuju sekuntum kembang yang mekar sempurna, warna merah itu luntur. Luntur dengan cara menetes. Serupa airmata yang menetes. Dan bersamaan dengan tetesan itu, akan kau dengar suara nyanyian yang menyayat. Nyanyian yang kadang lebih mirip suara tangisan. Itlah sebabnya, kemnbang yang ketika telah sempurna mekar berwarna putih itu, dinamakan kembang bernyanyi. Kembang yang akan segera layu dan luruh setelah warna putihnya memucat serupa wajah orang mati, lima menit seusai warna merahnya benar-benar tak ada.

Riwayat tentang kembang bernyanyi itu adalah sebuah riwayat tentang cinta yang tidak beruntung. Cerita tentang seorang pemuda yang menimpan cinta kepada seorang gadis. Gadis yang bagi si pemuda--seperti lazimnya orang yang jatuh cinta--adalah gadis paling cantik yang pernah ia lihat. Si pemuda merasa, dengan kecantikan si gadis, semua lelaki akan menyukai si gadis.

Bertahun-tahun si gadis menunggu Bertahun-tahun ia tetap terbangun di pagi hari dan mendapati sebuah kertas bertuliskan puisi dengan tulisan "ai" di akhir puisi di depan pintu rumahnya.

Secarik kertas dengan puisi-puisi cinta yang ditujukan kepada si gadis tetap didapati si gadis. Dan itu benar-benar mengherankan. "Bagaimana cara si pengirim puisi ini menaruh kertas ini tanpa sepengetahuanku? Padahal aku telah semalam berjaga mengintip dari balik jendela ini," itulah pertanyaan si gadis yang tidak pernah mampu ia jawab.

Sungguh, si gadis begitu berbahagia dan merasa teramat beruntung dicintai oleh seorang malaikat. Dan ia yakin, malaikat yang ia tunggu itu, yang mencintainya itu, suatu saat akan muncul menemuinya.

"Aku akan menunggu. Hanya dengannya aku akan menikah. Dan hidup bahagia selama-lamanya," gadis itu bersumpah.

Bertahun-tahun si gadis menunggu. Dan malaikatnya tidak juga muncul. Usianya merangkak semakin tua. Dan orantuanya mulai resah.

"Apalagi yang kau tunggu?"

"Aku menunggu malaikat yang mengirimku puisi-puisi ini. Hanyan dengannya aku akan menikah," demikian si gadis menjawab. Dan hal itu semakin membuat orang tuanya resah.

Orangtuanya memang paham benar perihal kertas-kertas bertuliskan puisi yang tiap pagi didapati putri mereka di depan pintu rumah. Dan hal itu juga membuat mereka penasaran. Seperti putri mereka, mereka juga berulang berusaha mengintip semalaman dari jendela untuk memergoki siapa gerangan pengirim puisi-puisi itu. Namun nasib mereka tidak berbeda dengan nasib putri mereka: usaha mereka tidak membuahkan hasil!

"Anak kita bakal jadi kembang bibir orang-orang. Apa yang lebih menyakitkan dari orangtua seorang gadis selain mendengar olok orang-orang bahwa anak mereka telah jadi perawan tua? Gadis yang tak laku?" demikian bapak dan ibu si gadis gelisah.

Si pemuda yang yang merasa begitu patah hati, dalam rangka untuk melupakan sakit hatinya itu, konon, dalam suatu pagi bergerimis, pergi meninggalkan kota kecamatan kecil tersebut. Pergi berjalan sambil menunduk. Gerimis membuat jalanan sepi dan tidak ada orang yang berpapasan dengannya sehingga tidak pula ada yang tahu kalau sepanjang jalan, ia tak henti-hentinya menangis. Menangis sambil menggumamkan puisi-puisi cinta cinta yang pernah ia kirimkan ke gadis. Dan selain puisi-puisi itu, ia gumamkan pula kalimat: ai... ai... cinta... cinta... aiku... aiku... cintaku... cintaku...

Si pemuda tak menoleh ke belakang. Dan tak pernah kembali ke kota kecamatan kecil itu. Tidak ada yang tahu engan pasti riwayat si pemuda kemudian.

Ada yang mengatakan bahwa pemuda itu mati lima hari kemudian dalam perjalanannya karena selama berjalan, ia tidak mau makan dan minum. Namun ada juga yang mengisahkan si pemuda di kemudian hari menjadi penyair cinta besar di kota besar yang selama sisa umurnya hidup sendirian dan menerbitkan serial puisi-puisi dengan judul Aiku. Dan karena buku itu tidak pernah ditemukan, maka cerita itu juga tidak dapat dijamin kebenarannya.

Ya. Si gadis yang dijodohkan paksa itu tiba-tiba jatuh sakit. Sakit yang misterius. Sakit yang tidak bisa dijelaskan apa sakitnya. Dokter dan tabib paling handal telah didatangkan dan tetap tak ada yang bisa menjelaskan apa sakit si gadis dan bagaimana cara mengobati penyakit itu. Si gadis hanya bisa terlentang di ranjangnya. Terlentang terpejam serupa orang yang tengah tidur. Sepanjang hari seperti itu. Dan mulut si gadis, terdengar gumam: ai... ai... ai...

Tidak ada yang tahu apa arti gumam itu. Gumam yang bila didengar berulang-ulang menjadi mirip nyanyian. Nyanyian yang begitu menyayat hati.

Dan menurut si empunya cerita, si gadis tidak bangun lagi. Tubuhnya pelan-pelan berubah menjadi tanah. Serupa mayat yang berubah menjadi tanah. Dan dari tanah itu yang berasal dari tubuh si gadis, menyembullah kuncup-kuncup tumbuhan. Tumbuhan kembang. Kembang yang kini disebut orang sebagai kembang bernyanyi.

Kembang yang ketika kuncupnya berwarna merah. Serupa merahnya gairah semangat remaja yang meruap-ruap. Dan seiring mekarnya kuncup itu, warna merah itu menetes. Menetes serupa darah. Menetes sambil mengeluarkan nyanyian yang menyayat seperti tangisan. Nyanyian yang berbunyi: ai... ai... ai...

Dan bagi penduduk asli daerah yang dulu bernama Ngudi Lor itu, bila ada yang bertanya kenapa kembang itu hanya sebentar mekar, mereka akan menjawab: gadis itu juga mekar sebentar ebelum kemudian mati terlalu dini. Mati karena cinta yang aneh. Dan bila ada yang bertanya kenapa kembang itu hanya bisa tumbuh di sana, maka mereka akan menjawab: karena di sanalah tubuh si gadis berubah menjadi tanah.

Tentu saja kau bisa meragukan cerita ini. Toh, sampai sekarang, para ahli masih melakukan penelitian tentang kembang itu. Mreka tengah berusaha mengklarifikasikan kembang itu, merembugkan nama ilmiahnya, dan berusaha mencari cara membudidayakan kembang itu di tempat lain (*)


Senin, 04 Maret 2013

Menguak Danyang Kampung Ular

Oleh: Suryadi Bejo

Ketika tangannya terulur hendak memetik cabe, tiba-tiba muncul ular kepala dua yang cukup besar. Ular di Kampung Cabean ini tetap menyimpan dendam pada lurah setempat sehingga tidak ada yang berani datang ke Kampung Cabean!

* * * * * * * * * * * * * * *

Jumadi (57), seorang petugas penjaga kantor Desa Jetis, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, sudah bertahun-tahun tinggal bersama istri tercintanya di rumah dinas tukan kebun desa. Walaupun sudah hampir berumur 60 tahun, namun pasangan ini tetap saja tampak hidup rukun dan sepertinya tidak pernah ada kekurangan.

Mereka juga mampu mendidik dan membimbing anak-anaknya hingga mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih bagus dibanding mereka, orang tuanya. Banyak warga sekitar yang merasa iri dan sering bertandang ke rumahnya walau hanya untuk bertukar pengalaman soal hidup dan kehidupan.

Dari Mbah Jumadi ini pula Misteri banyak mendapat cerita tentang Kampung Cabean, yang masuk ke wilayah Desa Jetis, yang konon dihuni ribuan ular sehingga dijuluki sebagai kampung ular.

Awalnya, Kampung Cabean hanyalah berupa gundukkan tanah yang berada di tengah sawah sehingga saat itu belumlah bisa disebut sebagai kampung. Di situ hanyalah terdapat tanaman liar yang banyak tumbuh di tempat itu. Warga sekitar juga tidak ada yang berani untuk menjamahnya, itu karena keangkerannya. Karena setiap ada orang yang akan masuk ke lokasi itu, maka dia akan mengalami fenomena yang aneh dan menakutkan.

Sebab itu ada keyakinan di kalangan para warga, pada gundukkan tanah yang lazim orang sebut gumuk itu, biasanya dihuni piaraan makhluk gaib, lengkap dengan kepalanya atau komandannya. Di gumuk itu juga banyak tanaman cabe rawit, meski tidak ada satu pun warga yang menanamnya. Tanaman itu tumbuh dengan subur seolah ada yang merawatnya.

Suatu saat petani yang ingin mencoba memetik cabe-cabe di situ. Sebab dilihatnya, cabe-cabe digumuk itu tersebut besar-besar dan sudah ramun, sudah waktunya dipanen. Namun baru saja tangannya terulur hendak memetik cabe itu, tiba-tiba saja muncul ular yang cukup besar, namun tidak terlalu panjang, hanya sekitar satu meteran.

Dan yang membuatnya sangat ketakutan, ular itu berkepala dua! Pada setiap kepala dan ekornya dihiasi warna merah. Itulah yang disebut sebagai ular cabe. Ular jenis ini dikenal sangat mematikan. Siapa saja yang terkena patuknya, dipastikan akan meninggal dunia karena bia ular cabe sulit ditawarkan dengan obat apapun.

Melihat kemunculan ular tersebut, si petani merasa sangat ketakutan sehingga ia tidak jadi memetik cabe-cabe itu dan langsung saja pulang ke rumah. Berita soal kemunculan ular berkepala dua dimana pada kepala dan ekornya dihiasi warna merah lantas saja tersiar kemana-mana. Dan sejak saat itu gumuk di tengah sawah tersebut dikenal dengan nama gumuk cabe.

Setiap kali ada yang membicarakan gumuk cabe, pasti akan langsung terbayang kekhawatiran dan ketakutan di wajah penduduk setempat. Bukan saja hanya soal ular kepala dua yang mereka takuti, namun juga kepada sang 'pemilik' ular tersebut. Sebab ada kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa ular-ular yang terbilang langka dan aneh tersebut pasti ada pemiliknya, yang sudah pasti mereka berasal dari makhluk gaib.

Namun setelah bertahun-tahun kemudian, ada seseorang yang bermaksud hendak mengubah bentuk gumuk itu untuk dijadikan sebuah kampun. "Saya sudah lupa nama seseorang itu. Tapi yang pasti dia memiliki ilmu spiritual yang sangat tinggi. Bisa disebut beliau semacam orang pintar, begitu. Dia bisa melihat dan mampu berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib," papar Mbah Jumadi.

Pada malam Jumat Kliwon, dia mulai memasuki lokasi itu tanpa seorang pengawal pun bersamanya. Pada saat itu dia hanya membawa sebuah keris pusaka dan sebungkus bunga beserta kemenyan. Dia langsung masuk lokasi, dan langsung menuju ke sebuah tempat yang pada siang harinya sudah dibersihkan terlebih dahulu. Di tempat itu dia lantas saja melakukan ritualnya.

Warga yang kemudian mengetahui ada orang yang dengan beraninya masuk ke Gumuk Cabe, lantas saja berkerumun dan ingin menyaksikan walau dari jauh dengan penuh tanda tanya. Meski banyak di antara mereka yang kagum dengan keberanian orang tersebut, namun tidak sedikit juga warga yang merasa was-was karena takut ritual yang dijalankan orang tersebut gagal dan sudah pasti akibatnya akan menimbulkan amarah penghuni Gumuk Cabe, makhluk penunggu Gumuk Cabe akan marah sehingga bisa saja menyerang warga secara membabi butaa.

Selang beberapa saat, warga mencium wewangian yang berasal dari hasil pembakaran kemenyan. Apa saja yang dilakukan orang itu, selanjutnya tidak ada yang mengetahui dengan pasti. Hanya saja warga sempat mendengar seperti ada rombongan yang tengah berbaris menuju gumuk itu. Mereka membawa tandu.

Ketika sampai di Gumuk Cabe, pembawa tandu terjatuh karena terantuk batu. Tandu itu rusak, dan sebuah kaki tandu itu patah. Namun insiden itu sepertinya tidak terlalu dihiraukan para rombongan itu. Rombongan itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka tanpa mengambil patahan kaki kursi tandu itu. Dan patahan kaki kursi itu tandu itu atau batang tersebut samapi sekarang masih tertanam di lokasi yang saat ini dimiliki Diri (54), warga Kampung Cabean tersebut.

Setelah melakukan ritual, orang tersebut kemudian membuat gubuk sebagai tempat tinggalnya. Dan kini setelah beberapa tahun kemudian, Kampung Gumuk Cabe sudah dihuni oleh delapan kepala keluarga yang mendiami delapan rumah. Namun untuk ketentraman warga berbagai pantangan pun diterapkan secara ketat kepada para penghuninya. Misalnya, tidak boleh membuat lubang sampah terlalu dalam.

Jika hendak membuat sumur, maka harus diberi pagar. Dan satu hal yang pasti adalah warga setempat tidak boleh dan diperkenankan untuk membunuh ular dengan suatu alasan apapun. Andai ada yang berani melanggar pantangan itu, maka mereka akan menerima dampaknya. Biasanya orang yang melnggar pantangan itu, kalau tidak sakit menahun, pasti akan meninggal secara mendadak.

"Rupanya dulu orang piintar yang pertama masuk ke Gumuk Cabe itu, sempat bertarung mati-matian dengan ular besar di situ, mungkin komandannya. Meski dia telah berhasil memenggal kepala ular itu dengan keris saktinya, namun pada saat-saat tertentu potongan tubuh ular tersebut itu bisa menyatu kembali," papar Jumadi.

Perihal adanya ular besar yang melingkar di Gumuk Cabe yang saat ini telah berubah menjadi Kampung Cabean, bukan cerita baru. Dan sudah banyak petani setempat yang melihat ular tersebut. Mereka-mereka yang melihat umumnya akan langsung kabur karena tidak ingin trkena sesuatu hal.

Namun ada satu fenomena lain yang menarik dan terus terjadi hingga saat ini. Dimana, jika ada lurah atau kepala desa yang berpidato di Kampung Cabean, dipastikan sang kepala desa akan jatuh tersungkur sebelum selesai berpidato. Kejadian ini sudah berulang kali terjadi.

Dari hasil penerawangan orang pintar diketahui, rupanya yang dulu masuk ke Gumuk Cabe dan melakukan ritual hingga hingga Gumuk Cabe bisa ditempati, bahkan sampai memenggal komandan ular, ternyata adalah seorang lurah. Tidak heran jika samapi saat ini ular-ular di Kampung Cabean memiliki dendam yang begitu besar dengan lurah.

Akibatnya, hingga saat ini tidak ada lurah atau kepala desa yang berani datang ke Kampung Cabean. Jika lura Jatis mendapat undangan ke Kampung Cabean atau ada warga Cabean yang meninggal, maka dapat dipastikan dia tidak akan datang ke sana, dan dia akan minta diwakilkan pada orang lain. Pernah juga ada satu kejadian yang sangat menggemparkan dimana ketika Martoyo (54), salah satu warga Kampung Cabean, menggelar resepsi pernikhan anaknya, warga merasa banyak ular yang ikut jagong.

"Pokoknya dimana-mana ada ular. Bahkan ular-ular itu ada juga yang masuk ke dalam gelas minuman. Karuan saja orang-orang yang kondangan menjadi panik dan ketakutan. Dan anehnya lagi saat air minum dibuang, ularnya juga ikut hilang."

Hingga saat ini Kampung Cabean hanya dihuni oleh beberapa keluarga saja. Mayoritas dari mereka bekerja menjadi petani dan buruh, juga usaha kecil. Namun para penghuni Kampung Cabean sendiri tidak terpengaruh dengan adanya cerita-cerita yang mengerikan soal kampung yang mereka tinggali. Sampai saat ini kehidupan di Kampung Cabean tetap berjalan normal sebagaimana layaknya kampung-kampung lain. (8)

Sumber: Misteri Edisi 550 Tahun 2013

Senin, 18 Februari 2013

Gerimis Tengah Hari

Cerpen: Erna Dwi Lestari

Mengapa dulu kau terima cintanya?
Mengapa kau beri dia kata manismu?


"Rin, ada titipan buat kamu," Mira menunjukkan sebuah kado mungil berpita merah kepadaku. "Dari Rudi lagi? Loe aja yang buka Mir. Setelah itu tolong simpankan di tempat biasa." Kataku tanpa mengalihkan wajahku dari novel yang sedang kubaca.

"Rin! Belajaralah menghargai orang lain!" Nada Mira mulai meninggi.

"Mir, ngapain sih selalu maksa gue? Lagian gue juga engga pernah minta hadiah-hadiah itu! Jadi, mau buka atau enggak, itu hak gue dong! Kok elu yang rese?!"

"Rina, keterlaluan kamu!" bentak Mira seraya merebut novel dari tanganku. Napasnya turun naik menahan kemarahan. Aku tak peduli. Akupun kesal dengan sikapnya. Entah mengapa Mira selalu mmbela Rudi dan menyalahkan aku.

Mira dengar! Elu selalu maksa gue untuk bersama Rudi, loe selalu ngebelain dia. Kenapa enggak loe aja yang pacaran dengannya?!"

Mira tampak terkejut dengan dengan ucapan barusan. Dia diam sejenak. Aku tahu bila sudah begitu, biasanya Mira sudah mulai mengalah. Tapi ternyata kali ini aku salah. Dia menyahut dengan suara yang tidak kalah kerasnya.

"Oke Rina! Sekarang katakan paddaku! Apa yang kau inginkan sebenarnya? Apa! mengapa kau dulu terima cintanya! Kenapa kau beri dia harapan-harapan. Kau buat dia melayang dengan kata-kata manismu. Mengapa kini kau menyiksanya dengan kesetiaannya yang sepihak! Dimana perasaanmu?"

"Cukup Mira!"

"Apa yang cukup Rin, katakan?! Untuk apa kau mengingat dia, sedangkan kau sendiri terus mengejar Roy....!!"

Astaga Roy.... mendengar nama Roy, marahku jadi reda. "Mir, gue nggak sempat melayani loe. Gue ada janji dengan Roy. Bye...." Tanpa rasa bersalah aku melompt keluar kamar. Tak kuhiraukan Mira yang sedang marah. Masih sempat kudengar suara novel yang dilempar ke pintu. Aku tak peduli lagi. Dengan taxi aku menuju alun-alun, karena Roy berjanji akan menjemputku di sana.

"Rin, maafkan aku." Hati-hati sekali Mira mengatakan itu sepulangnya aku dari jalan-jalan dengan Roy.

"Aku yang salah Mir. Aku terlalu egois. Sekarang kalau kau marah padaku makilah aku, Mir," kataku sambil mengambil kado dari yang masih tergeletak di meja. Seperti biasa, tanpa membukanya aku menyimpannya dalam kotak di lemari yang paling bawah.

Disitu terdapat banyak kado-kado dan kartu-kartu ucapan selamat dari Rudi, karena pada tiap hari istimewa dia selalu memberikannya untukku. Padahal sampai saat ini aku belum penah memberikan apapun untuknya. Bahkan hari ultahnya pun aku enggak mau tahu. Entah mengapa aku dulu menerimanya.

"Rin, aku minta maaf karena selama ini aku terlalu banyak mencampuri urusan pribadimu. Sebenarnya tak perlu kutanyakan, karena aku tahu bahwa dulu kamu menerima Rudi karena desakandan permintaanku..."

Aku terdiam mendengar perkataan Mira yang lembut itu. "Mir, aku sudah mencintainya, tapi sulit bagiku. Kamu tahu mengapa selama ini aku malas membuka kado-kado darinya Itu karena aku merasa tersiksa dengan kesetiaan dan cintannya yang terlalu tulus. Dia sangat setia Mir, bahkan melebihi kesetiaan wanita India. Sedangkan kau tahu sifatku, saat ini aku menyukai permainan playboy seperti Roy misalnya." Aku selalu terbuka pada Mira. Dia adalah sahabat terbaikku.

"Kalau begitu mengapa tidak kau katakan hal yang sebenarnya pada Rudi? Bukankah itu lebih baik untuknya. Ehm... maksudku untuk kebaikan kalian berdua." Ucap Mira dengan mata berbinar. Ada sinar aneh di matany. Ternyata dia menyadari dan segera menundukkan wajahnya.

"Mir, boleh aku tahu mengapa kau begitu memperhatikan Rudi?" Tanyaku hati-hati. Namun itu sudah cukup untuk membuat Mira gugup.

"Rin, jujur aja, aku... pernah mencintainya!" Ting...!! Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku hingga kunci almari yang kupegang jatuh ke lantai. Mira segera menyambung ucapannya. "Tapi itu dulu, Rin. Sekarang rasa itu menjadi rasa sayang seorang sahabat. Dulu, kamu bertetangga. Rudi begitu baik padaku, namun aku salah mengetikan kebaikannya, bahkan sampai mencintainya, walau kutahu bahwa dia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat. Lama-lama aku dapat juga merubah rasa cintaku menjadi sayang tulus seorang sahabat. Aku ingin melihatnya bahagia. Hanya itu Rin."

Aku tak dapat berkata-kata. Sulit bagiku mempercayainya. Melihatku hanya termangu Mira pun melanjutkan. "Hingga saat dia bilang padaku, dia menyukaimu. Tak ada keinginanku selain untuk menyatukan kalin. Ternyata aku salah. Tepukan yang hanya sebelah tangan tak mungkin dapat menimbulkan bunyi. Bahkan hanya menyiksa. Sebelum terlambat Rin, kumohon berilah kepastian yang jelas padanya." Aku hanya diam merenungi semuanya. Mira benar, aku harus membuat keputusan.

"Rudi ingin bertemu denganmu."

Aku terlonjak. "Suruhlah dia menunggu sebentar Mir," pintaku seraya menyisir rambutku. Entah mengapa hatiku berdebar-debar. Mengapa Rudi datang? Ada apa gerangan? Selama ini aku melarangnya sering-sering datang ke rumah.

Tadi malam Roy datang untuk memutuskan hubungan, karena dia sudah punya gadis lain. Setelah ditinggal Roy, aku baru menyadari bahwa Rudilah yang lebih baik dari semua yang kukerjakan selama ini. Kurasa ini bukan pelarian. Aku benar-benar sadar. Dan hari ini aku ingin minta maaf serta membuka lembaran baru bersama Rudi. Dan kebetulan siang ini dia datang.

"Hai Rudi, tumben kamu datang," sambutku dengan senyum ramah, Rudi pun membalas dengan senyum yang tak kalah manisnya. Oh my God. Aku benar-benar terpesona. Kupandangi dia, oh... betapa bodohnya yang telah mengabaikannya selama ini. Apa sih kurangnya? Mengapa baru ini aku menyadari bahwa tidak mudah menemukan orang seperti dia? Selain baik, dia juga lembut dan setia. Soal tampang, Rudi juga nggak kalah sama Roy.

"Rin, ada yang ingin aku bicarakan." Suara Rudi lembut.

"Tadi malam aku lewat sini, dan kulihat..."

"Rud... aku.." aku tercekik tak dapat meneruskan ucapanku. Tadi malam Roy datang. Walaupun kedatangannya untuk memutuskan hubungan, tetapi Rudi pasti menganggap kami sedang kencan.

"Rin, Roy adalah sahabatku," ucapan Rudi kali ini kurasakan bagai petir yang menyambar di siang bolong. Lidahku begitu kelu. Roy sahabat Rudi. Padahal aku sudah bercerita banyak pada Roy, tentang perasaanku pada Rudi selama ini.

"Dan semalam Roy menceritakan banyak hal padaku, Rin, mengapa kau lakukan semua ini padaku? Pernah aku menyakitkanmu? Mengapa Rin?" Rudi menatapku lekat-lekat. Ada kecewa disudut matanya. Aku hanya menunduk. Ingin merayunya, tapi aku tak bisa.

"Rud.... aku..." Sebelum kuteruskan, Rudi sudah memotong ucapanku. "Baru kutahu bahwa dulu kamu menerimaku karena terpaksa dan kasihan. Tapi aku tidak pernah memaksamu dan aku tidak mau dikasihani. Aku bukan pemgemis Rin!" Nada mulai meninggi.

"Rud, maafkan aku..." hanya itu yang mampu kuucapkan.

Akulah yang harus minta maaf Rin, aku telah membuatmu tersiksa selama ini. Aku tidak tahu bahwa selama ini kamu hanya bersandiwara. Bila kutahu melarangku datang tiap malam minggu, karena kau selalu ada acara dengan pujaan hatimu, karena kau ingin menghindriku, tentu aku takkan mengganggu hidupmu. Dan mengenai barang-barang pemberianku, kalau kamu tidak suka buang saja." Oh Tuhan bagaimana caraku untuk membujuknya?

"Rudi, dengarkan aku. Aku berjanji akan berusaha. Aku akan setia padamu dan tak...." lagi-lagi Rudi memotong pembicaraanku.

"Tak perlu Rin. Aku tak akan mengingatmu lagi. Hancur hatiku Rin Bukan karena pengkhianatanmu. Bukan. Kalau itu aku masih bisa memaafkan. Tapi ini lain Rin. Aku telah menyiksa batinmu selama ini. Itu yang membuatku hancur dan tidak dapat memaafkan diriku sendiri! Kamu tahu Rin, aku akan melakukan apa saja demi orang yang kucintai. Dan ternyata kau mengharapkan kepergianku. Walau dengan berat aku akan pergi. Selamat tinggal Rin." Rudi melangkah keluar.

Aku segera mengejar dan mencegahnya. "Rud, jangan pergi."

Dia behenti dan memegang pundakku. "Aku tak ingin melihatmu tersiksa Rin, mungkin aku salah telah mencintaimu. Dan kesalahan yang terbesar adalah mengapa aku menyatakannya padamu. Seharusnya aku menyimpannya sendiri agar tidak membebanimu. Maafkan aku..." Mata elang yang teduh itu menatap kosong.

Tapi Rud, cinta bukanlah dosa." Aku masih berusaha mencegahnya.

"Terima kasih Rin. Karena itulah aku terus mencintaimu walau kutahu kau bukan untukku." Setelah itu dia segara menyeberang jalan tanpa memperdulikan aku. Tiba-tiba aku merasa ada yang hilang.

"Bukan itu maksudku Rud!" Tanpa menoleh kanan kiri, kukejar dia yang sudah sampai di seberang. Ketika tiba-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku, aku terpaku, tak sempat berbuat apa-apa. Kudengar teriakan histeris saat kurasakan tubuhku membentur sesuatu. Dan aku tak ingat apa-apa lagi.

Ketika sadar, aku sudah ada di kamar kostku. Mira duduk di dekatku dengan bersimbah air mata. "Mir, aku belum mati?" tanyaku bertubi-tubi. Dan dengan tersendat-sendat Mira menjawab. "Tenanglah Rin, kamu tak apa-apa. Kamu hanya terluka sedikit. Kata dokter kamu sangat terkejut sampai pingsan.

"Tapi kalau aku tak apa-apa, apa yang kau tangiskan? Bagaimana aku bisa selamat, Mir?" tanyaku masih tidak percaya. Rudi yang menolongmu. Saat ada mobil yang akan menabrakmu, dia segera meloncat dan menolongmu. Kamu terlempar ke trotoar. Sedangkan dia sendiri tertabrak mobil." Mira bercertia dengan terisak-isak.

"Rudi menolong aku?!" Aku terbelalak. Rudi yang telah kulukai masih mau menolongku. Ingat Rudi, aku jai cemas. Bagaimana kalau lukanya lebih parah dariku. "Mir, katakan dimana Rudi sekarang! Dia tidak apa-apa kan? Katakan Mir, bahwa lukanya lebih ringan dariku! Ayo temani aku menjenguknya di rumah sakit. Mir, aku janji akan selalu merawatnya, menyayanginya, aku ak..."

"Tenanglah Rin. Rudi nggak apa-apa. Baiklah sekarang kita berangkat."

Ucapan Mira yang agak tenang itu sedikit melegakanku. Biarlah nanti di rumah sakit akan kukatakan pada Rudi bahwa aku sudah berubah. Akan kuberi perhatian, kasih sayang dan cintaku untuknya. Ya... tiba-tiba saja dia menjadi sangat berarti bagiku.

Mira membimbingku naik taxi. Mengapa hatiku berdebar-debar? Maukah Rudi memaafkanku nanti? selama perjalanan kami hanya membisu. Ketika taxi berhenti, baru kusadari bahwa kami tidak ke rumah sakit, tapi itu.... kuburan.

"Mir!" aku sangat terkejut. Mira segera memelukku. "Rin, Rudi.... sudah tiada." Mira menuntutku keluar dari taxi.

"Tidak...!!" Aku berteriak sekuat-kuatnya. Tak berdaya tubuhku jatuh terduduk di atas gundukan tanah yang masih merah itu. Bunga-bunga menutupi permukaannya. Serasa tidak percaya kubaca batu nisan. Ada nama Rudi di sana. Air mataku ikut menghiasi peraduan terakhirnya.

"Rud... jangan tinggalkan aku..." ratapku di batu nisannya. "Sudahlah Rin, biarkan dia tenang di sana..." Mira mencoba menghiburku. Tapi hal itu malah membuatku sedih.

Mengapa... harus Rudi yang pergi. Mengapa dia menolongku. Mengapa tidak dibiarkannya aku yang mati? Di saat terlupakan ddia rela brkorban untukku. Orang macam apa aku ini? mengapa baru kini aku sadar! Oh Rudi maafkan aku. Betapa kejamnya aku yang telah menyia-nyiakan tulusnya cinta kasihmu. Terbayang dimataku kelembutanmu, kebaikanmu, cintamu, dan juga kecewa dimatamu.

Kini hanya sesal yang menyibak di dadaku. Andai waktu bisa kembali, ingin aku menyayangimu di dadaku. Andai waktu bisa kembali, ingi aku menyayangimu. Tapi kini semua telah nyata. Kau berbaring di bawah rumpun kamboja dan kambing. an akulah penyebab semuannya. Sulit bagiku untuk memaafkan diriku sendiri. (*)

Senin, 04 Februari 2013

Krikil-Krikil Cinta

Cerpen: Eki Nastitie/Linda

Sebuah kendaraan dari samping kanan menyambar punggungnya dengan keras, membuatnya terpekik, kehilangan keseimbangan dan terpelanting jatuh ke sisi badan jalan....

* * * * * * * * * * * * * * *


Awal bulan terasa lebih dingin. Sejak sore tadi gerimis turun Anis duduk di bibir jendela. Pikirannya tengah melambung jauh di luar raga. Sesekali tarikan napasnya terdengr berat. Benaknya sepenuhnya terisi oleh kkejadian-kejadian yang membuatny begitu perih. Dimuli dari hari Senin itu, saat Anis melihat Dirga duduk semobil dengan seorang gadis, padahal cowok itu sudah janji mengantarnya pulang seusai sekolah.

Anis lalu pulang sendiri. Diperempatan mawar yang selalu macet, dia melihat starlet merah bergerak pelan dalam antrean. Di dalamnya terlihat Dirga sedang mengamati jalan, dan disampingnya duduk seorang gadis cantik! Menyakitkan! Itu satu-satunya perasaan yang menghujam dada Anis.