Ini Cara yang Tepat Menyatakan Cinta

Tidak banyak perempuan yang berani untuk mengungkapkan perasaannya dan malah memilih untuk memendamnya entah sampai kapan. Sebenarnya, menyatakan cinta itu sah-sah saja selama anda menggunakan cara yang sopan dan tidak berlebihan.

Mengetahui Kadar Cinta Si Dia

Keingintahuan merupakan hal yang sangat wajar dalam kehidupan manusia. Keingintahuan dapat terkait dengan banyak hal dan salah satunya mengenai pasangan anda. Berikut beberapa tips untuk mengetahui kadar cinta si dia

Ada Banyak Cara Melupakan Mantan Pacar

Setiap hubungan percintaan pasti mengalami masa-masa yang sulit untuk bisa saling memahami perbedaan yang ada. Seringnya perbedaan tersebut malah membuat hubungan tersebut menjadi sangat buruk kualitasnya. Tidak jarang hal ini mengakibatkan putus cinta

Lewat Surat Cinta Bisa Lebih Ungkapkan Romantisme

E-mail, SMS, sampai instant messenger memang sangat mempermudah komunikasi kita dengan orang lain. Namun, ketika sedang menjalin kasih Anda pasti tak ingin menerima ucapan cinta melalui pesan singkat saja. Untuk mengatasi kebosanan dan membuat hubungan semakin romantis, tak ada salahnya untuk kembali menggunakan cara tradisional, yaitu surat cinta. Meski terbilang jadul, melalui surat cinta Anda bisa lebih puas mengungkapkan perasaan dengan kalimat yang lebih romantis. Apalagi jika surat itu Anda selipkan ke tangannya dilengkapi setangkai mawar merah.

Pada Bulan Merah Akankah Kau Pulang

Sampai penantian itu berbilang tahun --20 tahun hingga kini-- bagai kumbanng putus tali. Hilanng tanpa kendali. Andaikata pula ia tersesat, mestinya aku tahu di mana rimbanya. Kalaupun ia wafat, aku berharap tahu pula di mana tempat kuberziarah.

Doa Sebutir Peluru

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Minggu, 03 Agustus 2014

Nol Berhamburan

Nol Berhamburan

Oleh: Abidah El Khalieqy



Terasa nyaman waktu. Sebab kita tak sendiri. Sinyal-sinyal indah meretas jarak antara langit dan bumi. Makin kuhikmati dirimu. Semestamu. Makin terang cahaya di atas lembaran buku-buku. Nol berhamburan. Keramaian politik bergeming memmbaca rindu alif-ba-ta-mu.

Membentang luas cakrawala di cekung matamu. Gugusan awan mencair, menjelma hujan. Hilang jarum jam dari dari menit dan detik. Namun api di dada masih tetap membara sampai jua rinduku di titik nadir. "Turunkan rindu ini. Cintaku, aku tak kuat lagi!"

"Ke mana akan turun, rindu itu selamanya surga."

"Surga pertama atau kedua?"

"Lebih dari Adam dan Hawa, dalam rindu kita tak ada surga kedua."

"Ke mana pun, asal tak di sini. Aku ingin meloncat keluar!"

"Jangan! Nanti terpercik api."

"Sesekali aku ingin terjilat."

"Jangan berlebihan! Kau nanti bisa hangus."

"Oleh apa?"

"Api cinta!"

"Seberapa kobarannya?"

"Lebih membakar dari tujuh jahanam."

"Tapi aku ingin, sesekali merasai kobarnya."

Rupanya, bukan aku saja yang terbakar. Engkau pun terbakar seperti para muda kasmaran cinta. Matamu merah. Senyum bibir di wajahmu juga merah. Aku terpana, menatap cahaya menyinar dari aorta seluruh tubuhmu. Sepanjang langitmu serasa cerah.

"Katanya dah siap menjadi Rabiah?"

"Otomatis! Jika kau juga serupa Ibrahim Adham!"

"Jadi?"

"Kita mesti mengembara, memadamkan api di dada."

"Bukan! Tapi menaklukan rimba. Semesta rimba raya."

"Termasuk rimba diri?"

Entah! Berjuta jam berdetak di jantung. Ingin turun dari langitmu, menjejak fakta di bumi cinta. Mengharu biru jejak rindu. Seberangi tujuh lembah, tujuh samudera, tujuh gunung, dan tujuh belantara. Hingga fajar ditembus mentari, berbilyun watt cahaya. Menikahkan langit dan bumi, aku dan engkau, semarakkan jagat sunyi. Surga abadi turun dari galaksinya, menawarkan buah khludi.

Seperti butir debu yang pertama kali merangkaiku, debu demi debu menggulung tubuhku. Maka terbanglah aku merunuti semesta, keliling memutari timur yang jauh, barat yang sekarat, di balik kutub utara dan selatan, amblas terbenam ke dasr bumi. Coba mengingat dan mengenangmu tanpa jeda sampai kita dipertemukan di alam, saling berpacu dalam melodi cinta.

Dan kini kita telah kembali, dipangku hijau bumi. Putik-putik rindu menguntum lalu mekar. Lahirlah kata-kata, puisi dan cinta. Kueja satu per satu frasanya, melintasi doa, coba pisahkan aku dan kau dalam kerinduan. Bermiliar galaksi menyusun bintang. Mengedar planet dan bulan, berenang sepanjang garis edar dalam keserasian. Aku dan kau yang ditetapkan baginya, tak kuasa.

Aku pun pulang dan kembali dalam rumah kehidupan. Merawat cinta di bawah matahari. Tapi efeknya, wajahku kehangusan, lidahku kelu menjawab pertanyaan.

"Kau ingin pergi dari nyata?"

"Bukan! Aku hanya ingin melihat wajahmu di cerminku."

"Tak perlu, akan kuambil seluruh cermin agar kau bisa tetap merawat cinta."

Sungguh ajaib. Kata tetangga, wajahku cemerlang penuh cahaya. Bersama keikhlasan yang tak rampung kumengerti, aku sedih karena tak bisa lagi menikmati wajah tampanmu.

Aku sabar mengingat pengorbanan cinta walau purnama berganti seribu kali.

"Jika rindu menyergap, tatap lekatkah langit cintamu?"

"Yups! Separo wajahmu tergambar di sana."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Ehm, aku agi siap-siap untuk..."

"Untuk apa? Jadi relawan bumi pertiwi penuh korupsi?"

"Bukan! Aku ingin..."

"Ingin menjadi relawan penjajah negeri?"

Wajahmu membiru, senyummu kaku. Aku tak kuasa ingin meraihmu. Mencabut kembali tanyaku. Sendu pilu mendera aorta. Awan berarak di ubun-ubun. Matahari tidur dan angin ikut libur. Nyeri di dada kian mematri.

"Ya. Seperti rencana semula. Aku ingin bertapa di dasar jiwamu."

"Agar aku tak repot jika ingin menyusulmu?"

"Kalau tak sanggup, biarlah cinta kembali bersamaku."

"Mana mungkin? Tinggal ini kenangan, aku bisa mati tanpa cinta."

"Jika begitu, aku berangkat duluan nuju kerajaan."

Kerajaan siapa?"

"Ibrahim Adham!"

"Dan aku...?"

"Rabiah Adawiyah!"

"Jika kukatakan, pemenuhan tugasmu lebih tinggi nilai dibanding senyap gua Rabiah, aku tak yakin kau tak bakal membantah."

"Begitukah?"

"Ya. Telah mendalam aku selam. Aku hapal luar dalam."

"Tentang apa?"

"Cinta dan kerinduan. Mahabbah dan Sauqiyah. Aku dan kau."

"Haha! Sok tahulah! Tapi benar juga. Masa kita sama manusia, tempuhan jalan mesti berbeda. Rasa-rasanya, aku ingin, kita berangkat bareng bertiga."

"Bahkan Ibrahim Adham pun cemburu. Untuk apa lagi ia harus ikutan nuju istana itu? Istana, kerajaan, dan mahkota, telah tersemat lekat di atas kepalanya. Engkau pangeranku..."

Tatapmu beralih, mendesahkan nasib yang memuja. Makhluk tak berada telah menundukkan semesta adamu, sekaligus mengerjaimu bertumpuk halaman, berjilid pengetahuan tentang makna hidup. Inti cinta.

Hakikat pengorbanan. Membuat aku tak mau menyerah, ingin sejalan seirama. Jika kau pergi dan masuk ke gua Adham, sendiri aku tak kuat berjalan.

"Baiklah, aku tak punya pilihan lagi selain menahan waktu yang akan menghapusku dari keberadaanmu."

Atas nama lepuh cinta, mulut manusia bercuaca membakar apa saja yang dianggap tak memiliki cita-rasa. Apa salah para pecinta hingga rela dipanggang seperti irisan daging kambing di atas tungku. Disayat-sayat, dilukai, dan dikutuki.

Hanyalah cemburu pada aroma yang merangsang lidah untuk bergoyang. Sampai cinta migrasi. Jikalah ada planet biru yang siap menunggu, akan kubangun rumah rindu yang baru. Tapi di manakah planet itu berada, dan mampu tinggalkan masa lalu.

"Sudah lenyap planet itu, di gempa abad."

"O ya nasib...! Kalau negeri angin, masih adakah jejanya?"

"Kudengar masih. Nanti kulihat jadwal pesawat, kalau-kalau ada penerbangan nuju sana."

Ternyata negeri rindu itu masih terpeta di bumi. Ada fakta. Ada penerbangan pagi dan siang nuju sana. Kami suka cita membaca cuaca cerah dan semlir angina dikirim langsung dari laut cinta, mengipasi hati untuk terus berbenah. Perjuangan mesti berderap doa, si lemah terpapar derita, maju menggema bergulung bak gelegar guntur merindu redam.

Cintaku padamu, Kekasih. Munajat tanpa ampun. Menggedor langit menyibak Arsistawa! Bukan hanya Chairil Anwar, Kekasih, aku juga tak bisa berpaling. Hilang bentuk, hilang rupa. Dilecur rindu, lari pontang-panting nuju cakrawala, stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara. Lalu-lalang manusia, mata-mata asing dan langkah terburu. Radiasi nuklir darurat cinta.

"Pakai masker dong!"

"aku tak biasa masker. Bahkan takut melihat para pengguna masker pelindung, seperti hantu di televisi, ditanda dua titik hitam, mata kiri dan kanan. Berkali sudah diterang-jelaskan, bahaya nuklir lebih mengerikan dibanding vampir, karena benar-benar bikin leher kehilangan jarak paling dekat antara aku dan kau. Aku hanya tahu, masker bikin sesak napas saja. Ogah, ah! Walau nuklir itu cintamu."

'Telah diciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, duka dan bahagia yang terus berputar di garis edarnya."

"Dan tahu dari dulu sejak aku bertemu dengan cintamu."

Kau pun diam dalam fakta-fakta. Menjelajah astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar Solar Apex. Terus bergerak sejauh 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, planet, dan satelit, aku dan kau juga berjalan menempuh jarak ini. Demi cinta yang tak pernah redam di dada.

"Benarkah?"

"Ya. Karena itu bukan kisah biasa. Tapi kisah cinta antara aku dan kau yang nestapa. Sampai-sampai langit pujangga menangis, mengolam airmata, bahkan mendanau. Namun di seberang danau itu, aku yakin suatu saat nanti kan terlihat kuntum demi kuntum mawar surga bermunculan. Wangi selaksa parfum bidadari. Mekar sepenggal bumi, sepotong waktu, tempat kita bercumbu mengekalkan makna setia. Hilanglah dunia seisinya jadi cemburu."

Kau diam diujung daun talas sehabis hujan. Lantas kubangun rumah rindu, sebisanya. Dan menyala bagaikan cahaya mengundang laron-laron saling berbondong ingin bertetangga.

Membangun rumah rindu, berjajar-jajar seperti seperti bintang di langit biru. Lantas kita pun sepakat, merayakan kampung rindu di negri antah baratah.

"Negeri rindu langit arsistawa, Bukan?

"Mungkin ya, mungkin juga bukan, karena aku dan kau masih serupa manusia."

Wajahku ngungun. Sepi sendiri di bawah singgasana, di antara kilatan cahaya kubah dan tiang-tiang yang dipikul para malaikat utusan Maha Pemurah yang bersemayam di atas lengkung tujuh langit. Tak berwujud. Bukan seperti singgasana para raja, atap rumah atau pilar dari logam mulia. Apalagi menjadi bagian dari punggung kaki, jejak cinta di gurun Layla-Majnun.

"Pusat pengendalian segala persoalan alam semesta, maksudmu?"

"Bisa jadi. Sebab cinta yang bersemayam di langit arsistawa bakal mengatur segala urusan."

"Urusan apa?"

"Urusan cinta antara aku dan kau!"

Tak dinyana, aku menggelapar di tengah kesunyian. Seribu kata berpendar lepas dari kesombongan hati. Bermiliar jarak menghiba di urat nadi. Coba terbang mengelilingi cakrawala semesta dengan sayap cinta. Dan gagal berkali-kali, tak kuasa mengejar malaikat bersayap cahaya yang bisa terbang ke mana saja. Seperti ayat-ayat suci menempel di jejak nol kilometer antara Adam dan Hawa.

Hatta mathla'il fajri. Kucari-cari cintamu hingga matahari sepenggalah. Namun apa daya, aku tetap mendebu di sini. Menunggu rumah rindu dikelilingi fakta bumi dan rupanya, belum juga beranjak dari tempat semula. Menggelepar sunyi. Menggapai-gapai matahari menyinari cinta di negeri zamrud khatulistiwa.

"Negeri Indonesia Raya maksudmu?"

"Tak ada negeri tanpa rindu. Tak ada Indonesia Raya tanpa cinta!"

"Hatta mathla'il fajri. Lailatul Qadar mengaji sepanjang malam, menapaki jejak-jejak kehidupan. Nol berhamburan di antara sepi dan sunyi. Menunggu kesejahteraan merata dikeliling fakta bumi, kedamaian dan keselamatan, namun rupanya belum juga beranjak. Masih melata sepertti semula.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Abidah El Khalieqy, penulis novel best seller Perempuan Berkalung Sorban. Tinggal di Jogjakarta

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 3 Agustus 2014

Minggu, 27 Juli 2014

Seekor Kupu-Kupu dalam Kebun Bunga Tanalia

Seekor Kupu-Kupu dalam Kebun Bunga Tanalia
Masya kehilangan Tanalia, berhari-hari Masya menunggu kepulangan anak perempuan dua belas tahun itu. Ia sudah lapor polisi. Belum ada hasil apa-apa. Sementara itu, Tanalia asyik bermain bersama kupu-kupu dalam kebun bunga di dinding kamarnya. Kebun bunga yang menempel di dinding keramik hadiah dari Masya. Bukan kebun bunga sungguhan, namun begitu, di mata Tanalia, bunga-bunga di sana benar-benar hidup.

Ia selalu mengira mamanya belum pulang kerja. Masya memang biasa kerja lama sekali. Kadang Tanalia bosan menunggunya pulang. Betapa ia ingin mamanya seharian di rumah saat ia libur sekolah. Tapi mamanya harus kerja. Tanalia tahu ia tidak punya seorang papa. jika tidak kerja keras bagaimana kita bisa makan? Itu yang sering dikatakan Masya pada Tanalia. Karena itu, hanya kupu-kupu yang bisa menjadi temannya.

Tapi, kupu-kupu itu hanya satu ekor. Kupu-kupu yang kesepian. Kupu-kupu itu mengatakan tidak bisa lama bermain bersama Tanalia. Ia akan mencari cahaya bersama teman kupu-kupunya pada saatnya kelak. Tanalia tidak ingin kupu-kupu itu pergi. Ia keluar mencari kupu-kupu yang barangkali saja hinggap di pohon jambu sedang berbunga milik tetangganya.

Tanalia mau menambah kupu-kupu di kebun bunganya. Supaya tak ada lagi yang kesepian. Supaya kupu-kupu tak perlu pergi mencari cahaya. Belum satu ekor kupu-kupu pun yang Tanalia temukan. Semua kupu-kupu seolah menghilang. Tanalia mendongak ke langit. Ia kaget. Ada titik besar d langit sana. Titik itu bergerak, melintas di atas kepalanya. anak-anak yang sedang bermain berbondong-bondong mengejar titik besar yang terus bergerak itu. Tanalia ikut-ikutan bersama rombongan anak-anak. Meeka menunjuk-nunjuk tanpa suara, seolah sedang melihat benda asing dari dunia lain.

"Itu kupu-kupu," kata Tanalia. Semua mata serentak menoleh padanya. Lalu kembali pada sesuatu yang melintas di langit. Tanalia berhenti mengejar. Ia ingat pada kupu-kupu di kebun bunga di dinding kamar. Ia berlari, kembali ke rumah. Sampai di halaman, ia berbalik sesaat, melihat lagi ke langit. Rombongan kupu-kupu itu terus menjauh. Terus terbang tinggi. Dada Tanalia berdegup-degup.

"Kau pergi," gumamnya menahan tangis. Tentu saja yang dimaksud Tanalia adalah kupu-kupu kuning yang ia sembunyikan dari Masya.

"Kau sungguh sudah pergi?" bisik Tanalia pilu. Ia masuk ke rumah yang cat dindingnya mulai mengelupas seolah-olah waktu sudah melompat jauh dan Tanalia tidak menyadarinya.

Masya memandangi tirai-tirai yang bergerak-gerak di tiup angin. Tirai jendela di kamar Tanalia. Sudah lama sekali ia di sana. Sudah banyak sekali ia menangis. Tanalia belum juga kembali. Mungkin Tanalia bermain agak jauh. Tak apa. Ia tak akan marah, segera pulang ya, Nalia, bisiknya dalam hati. Tanalia membuka pintu kamarnya. Dan menutup pintu itu dengan suara agak keras.

Nalia! Masya menoleh. Ia merasa baru bangun dari mimpi buruk yang amat panjang. Tanalia pulang. Tapi, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada. Perlahan wajah Masya redup kembali. Ternyata aingin baru saja bermain-main dengan pintu amar Tanalia.

Masya berpikir-pikir, ah, sejak kapan pintu itu terbuka? Siapa yang membukanya? Pintu kamar itu tertutup selama ia menanti Tanalia. Ia sudah berhari-hari di sana. Sudah meninggalkan pekerjaan. meninggalkan segalanya.

Tanalia berdiri memandangi kebun bunga di dinding kamarnya. Kemudian ia masuk ke kebun bunga itu. Ia menghibur diri dengan mencari kupu-kupu kuning di bawah daun mawar. Bagaimanapun selalu ada keajaiban dalam hidup. Siapa tahu kupu-kupu itu tidak kemana-mana. Tidak ada. Tanalia mendesah.

Ia melewati mawar. Mungkin saja kupu-kupu itu bermain di balik bunga lainnya. Tidak. Tidak ada. Kupu-kupu itu tidak ada di mana-mana. Ia benar-benar sudah pergi, Tanalia menggigit bibirnya. Tak ada lagi kepak sayap kupu-kupu kuning di kebun bunganya. Tak ada.

Kulit muka Tanalia pucat, nyaris putih. Betapa ngeri mengalami suatu kehilangan. Kedua kakinya gemetar. Ia tahu ini kenyataan. Ia kini seorang diri dan itu menakutkan. Betapa nakalnya kamu, Nalia, gerutu Masya. Ia berjalan ke jendela. Menempelkan sisi kanan kepalanya ke kaca dan matanya mencari-cari Tanalia di luar. Sekelompok anak-anak bermain. Satu orang anak masih mengenakan seragam sekolah dasr. Sudah lama sekali rasanya ia melihat anak-anak itu di sana. Apa di tempat mereka waktu berhenti bergerak?

Jangan-jangan begitu juga yang terjadi pada Tanalia. Waktu yang tidak bergerak dan karenanya ia belum pulang. Masya memandangi kamar Tanalia. Tirai. Alas tempat tidur. Baju yang digantung di belakang pintu. Lemari hitam yang masih mengeluarkan bau cat meski sudah bertahun-tahun lamanya.

Lukisan kupu-kupu dengan sebelah sayap yang robek. Mata Masya berhenti di lukisan itu. Ia tidak menyukainya. Kalau bukan karena Tanalia merengek berjam-jam, ia tak akan membiarkan lukisan kupu-kupu menempel di dinding itu. Tanalia penyuka kupu-kupu. Dari kecil selalu melukis kupu-kupu. Sementara Masya benci sekali pada kupu-kupu. Mengingatkannya pada masa lalu yang ingin ia lupakan bersama lelaki kupu-kupu yang menusuk dadanya. Cepat ia turunkan pandangan ke arah jam di meja belajar Tanalia. Jarum pendek jam itu menunjuk angka empat. Jarum panjangnya terus berdetak. Sekali lagi ia melempar pandangan keluar. Anak-anak itu masih di sana.

Di manakah Tanalia bermain? Tanalia tidak ada di antara anak-anak itu. Tanalia berdiri cepat-cepat. Kembali membuka pintu dan membantingnya. Nalia! Seru Masya sekali lagi. Pintu kamar Tanalia meninggalkan gema yang semakin lama semakin pelan. Masya mematung. Menatap pintu seolah-olah di sana Tanalia berdiri sedang memandangnya.

Tanalia sudah berada di halaman lagi. Di langit, kupu-kupu sudah menghilang. Muka Tanalia murung, bibirnya sedikit melengkung. Ke mana ia akan cari kupu-kupu itu? Ia tidak bisa mengejar kupu-kupu yang terbang terlalu tinggi. Apalagi sekarang ia tidak tahu kupu-kupu itu di mana.

Teman-teman Tanalia masih berkelompok, berdiri tak terlalu jauh dari rumahnya. Mata mereka memandang ke arah langit. Kadang tangan mereka menunjuk-nunjuk. Tanalia bergegas mendekat. Bergabung bersama anak-anak itu. Ikut memandang langit. Ia tidak melihat apa-apa selain beberapa gumpalan awan yang baru tumbuh.

"Kalian lihat apa?" tanya Tanalia. Anak-anak itu tidak menjawab. Bahkan mereka tidak menoleh. Mereka asyik saja menunjuk-nunjuk. Seakan sengaja ingin mempermainkan Tanalia. Atau mereka memang tidak mendengar suara Tanalia. Mereka hanya sibuk memikirkan benda yang terbang di langit. Mereka sedang menunggu-nunggu benda itu melintas lagi.

Tanalia menghentakkan kakinya dan meninggalkan anak-anak itu. Ia harus memikirkan bagaimana caranya membawa pulang kupu-kupu kuning. Nalia! Nalia! Masya berteriak dari jendela. Ia baru saja melihat Tanalia di antara anak-anak itu. Tanalia mengenakan baju main model kodok yang sangat disukainya. Baju itu hadiah ulang tahun darinya tiga tahun lalu.

Baju dengan corak bunga --sebagaimana kebanyakan baju Tanalia. Masya meninggalkan jendela, meninggalkan kamar Tanalia. Ia bergegas membuka pintu depan. Menghabur ke halaman. Melewati pintu pagar yang terbuka. Serombongan anak-anak menunjuk-nunjuk langit. Anak-anak yang dilihatnya dari jendela. Di mana Tanalia? gumamnya. Tadi ia sungguh-sungguh melihat Tanalia.

"Kau lihat Nalia?" tanyanya pada seorang anak yang masih memakai seragam sekolah dasar. Anak itu tidak menggubris. Ia sibuk berceloteh pada temannya sambil terus menunjuk-nunjuk langit.

Masya bertanya pada anak lain, tapi tak ada yang mengacuhkannya. Ingin sekali ia marah pada anak-anak itu. Ia ikut-ikutan melihat ke atas. Tak ada apa-apa. Langit biru lembut dan beberapa gumpal awan. Apa yang dilihat ana-anak itu? Ia segera teringat lagi pada Tanalia. Cepat-cepat ia pergi. Entah kemana. Ia hanya ingin mencari Tanalia sebelum anak itu pergi jauh.

Tanalia kembali ke kamarnya. Ia pandangi kebun bunga di dinding kamar itu. Betapa kosongnya kebun itu tanpa kupu-kupu kuning. Ia sudah berjalan jauh. Mencari ke mana-mana, kupu-kupu itu memang sudah benar-benar meninggalkannya.

Bagaimana kalau aku jadi seekor kupu-kupu saja? pikirnya. Tanalia terperanjat dengan pikirannya sendiri. Masya kembali ke kamar Tanalia. Ia sudah berjalan ke mana-mana. Tanalia tak juga ia temukan. Jejak Tanalia kembali hilang. Ia memutuskan untuk menunggu saja. Sekarang ia tengah memandangi kebun bunga di dinding kamar Tanalia. Ia ingat satu hari saat memberikan kejutan kebun bunga itu.

Tanalia memejamkan matanya. Ia memutuskan menjadi kupu-kupu. Kelak aku akan terbang tinggi ke langit, mengejar kupu-kupu kuning yang sedang mencari cahaya, batinnya. Masya lebih mendekat ke arah kebun bunga. Kebun itu tampak sangat sepi. Dulu Tanalia menginginkan seekor kupu-kupu.

Mungkin karena Tanalia terlalu kesepian. Ia ingin teman. Tapi Masya tak mungkin membiarkan Tanalia membawa masuk binatang itu. Tubuh Tanalia perlahan berubah menjadi kupu-kupu. Tanalia memiliki sayap tipis berdebu. Memiliki mulut penghisap dengan sebatang probois. Mata serupa belahan bola di atas kepala. Juga badan yang lembut. Kaki-kakinya ia gerak-gerakkan.

Tanalia belajar manaikkan tubuhnya ke udara. Mata Masya terbeliak melihat seekor anak kupu-kupu belajar terbang di kebun bunga di dinding kamar Tanalia. Itu kupu-kupu sungguhan, pikirnya merinding. Ia lari ke dapur. Mengambil sapu. ketika kembali, anak kupu-kupu sudah menempel di dinding. Masya segera memukulkan ujung sapu ke arah anak kupu-kupu.



GM, 2014
Yetti A.KA, buku terbarunya yang akan segera terbit, kumpulan cerpen Satu Hari yang Ingin Kuingat dan sebuah novel Seperti Krisan. Tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat



Kamis, 11 Juli 2013

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku Lumpuh

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku LumpuhOleh: Usep M

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang. Namun akibat yang ditimbulkan sungguh membuatku teriksa. Bahkan aku nyaris lumpuh dan kehilangan segala-galanya.

• • • • • • • • • • • • • • •


Aku ingat betul, bulan itu adalah awal bulan suci Ramadhan waktu, awal bagi umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan puasa dan menahan hawa nafsu, amarah, juga menahan rasa lapar dan dahaga selama satu bulan penuh. Di mana kebetulan juga malam itu jatuh pada malam Jumat Kliwon.

Seperti hari-hari biasanya, pada setiap pukul 02.30 WIB kebiasaanku adalah bangun dari tidurku untuk melaksanakan shalat malam, sunnah tahajjud juga shalat hajat. malam-malam yang tak pernah aku lewatkan untuk selalu berkomunikasi dengan Gusti Allah melalui shalat malam. Malam itu sebelum aku terbangun dari tidurku yang sangat lelap, aku bermimpi didatangi sesosok makhluk seperti seekor kelelawar besar dari atap kamarku.

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang, yang kulihat sepertinya makhluk itu akan menyerang tubuhku yang dalam keadaan sedang berbaring di tempat tdurku. Seketika aku tersentak dan terbangun, setelah aku sadari bahwa ternyata yang baru saja aku alami tadi hanyalah mimpi belaka, aku pun segera saja beranjak dari pembaringanku, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Sesampainya aku di kamar mandi aku mengalami kejadian yang sangat aneh. Secara tak terduga tiba-tiba saja tangan kananku bergerak dengan sendirinya dan secara reflek ingin memukul wajahku sendiri. Dengan reflek pula aku segera menahan ayunan tangan kananku yang mengarah ke wajahku sendiri dengan tangan kiriku.

Aku segera keluar dari kamar mandi. Sesaat aku tak dapat berkata dan berpkir apa-apa, aku hanya diam tertegun dan dan ucapan Istighfar terus kulantunkan tanpa henti, sambil tak lupa juga aku memohon dalam hati kepada Allah SWT, agar aku dilepaskan dari kejadian aneh yang kurasakan saat itu.

Apa salah dan dosak, pikirku. Kubatalkan niat shalat tahajjud dan hajatku malam itu, karena terus terang aku saat itu jadi merasa benar-benar takut dan terguncang dengan kejadian yang baru saja kualami dan tidak masuk akal pikiranku. Bagaimana mungkin salah satu anggota tubuhku ingin menyakiti anggota tubuhku yang lain, sungguh sangat musykil hal itu dilakukan oleh orang yang dalam kesadaran penuh, tidak gila.

Kejadian terus berlanjut, bukan tanganku yang ingin memukul wajahku, tetapi, dimana keesokan harinya tubuhku tiba-tiba saja terasa sangat lemas, nyaris seperti tak bertulang. Namun demikian ku coba paksakan diriku untuk tetap bekerja pada hari itu. Aku tetap berjalan untuk bekerja ke kantor seperti kegiatan rutin setiap harinya.

Namun setibanya d kantor, kurasakan seluruh tubuhku semakin bertambah lemas saja dan seolah tiada daya sama sekali. Atasanku yang mengetahui dan melihat keadaanku saat itu, memberi saran kepadaku untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Dia memberi ijin padaku untuk pulang saja guna berobat ke dokter, dab beristirahat beberapa hari sampai kondisiku sudah memungkinkan untuk kembali ke kantor dan bekerja seperti biasanya.

Tanpa buang waktu dan banyak pikir lagi, aku pun langsung kembali pulang ke rumah untuk kemudian pergi ke dokter praktek guna memeriksakan kondisiku yang semakin terasa lemas. Akhirnya hasil dari pemerksaan dokter itu, aku memang diharuskan istirahat total selama beberapa hari. Beruntung pimpananku di kantor sudah memberi ijin, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mendatangi kantor hanya sekedar untuk meminta ijin atasanku.

Aku pun mengambil kesepatan itu untuk pulang ke rumah orang tuaku agar dapat beristirahat dengan total sesuai yang dianjurkan dokter yang meemeriksaku. Setibanya di rumah orang tuaku, aku disambut dengan tidak kemengertian orang tuaku, kenapa aku kembali ke rumah mereka. Setelah kujelaskan semua keadaanku, dan mereka mengerti, aku langsung beranjak ke kamar tidur, dan langsung aku rebahkan tubuhku yang terasa lemas hingga aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, sampai beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja aku terbangun, kejadian malam di rumahku terjadi kembali di rumah orang tuaku. jiwaku semakin terguncang, istriku yang kuberitahu keadaanku yang berada di rumah orang tuaku segera datang menjemputku, untuk kembali pulang ke rumah. Tapi kami sempatkan juga untuk mampir mengunjungi rumah orang tua istriku. Sore harinya aku pulang dengan berjalan kaki bersama istriku dan ditemani oleh adik iparku.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba di ujubg kakiku terasa seperti ada sesuatu yang masuk, entah itu apa, tak sempat aku lihat. Benda itu seperti berjalan terus menjalar sampai ke ujung kepalaku. Sampai akhirnya kurasakan mulutku tertarik ke kanan, mataku terbuka lebar dan tubuhku kejang-kejang.

Istri an adik iparku yang melihat semua itu haya bisa menangis, mereka tak tega melihat kondisi badanku seperti itu. Aku masih bisa mendengar biskan adik ipar di telingaku agar aku tetap membaca istighfar. Sedangkan istrku segera mencari kendaraan taksi, untuk membawaku ke Rumah Sakit Pelabuhan Cirebon.

Sesampainya di rumah sakit itu, aku langsung dimasukan ke UGD dan dengan cepat ditangani oleh seorang dokter perempuan. Saat itu telingaku masih mendengar suara tangisan istri dan adik iparku, dokter yang menanganiku membisikkan kalimat di telingaku untuk tetap mengucapkan istighfar. Alhamdulillah keajaiban terjadi, seketika itu mulutku kembali seperti semula, dokter yang menanganiku sangat senang dan tiada hentinya mengucapkan Alhamdulillah.

Namun selang beberapa saat aku kembali kejang, seperti sesuatu yang terus masuk ke dalam tubuhku terus saja berjalan, suntikan pun diberikan dokter. Terasa obat di tanganku mengalir, sepertinya suntikan itu adalah obat untuk meringankan kejang, lalu aku dibawa ke ruang perawatan.

Setiba di penbaringan kurasakan kepalaku terasa berat seperti terdapat batu yang besar menindih kepalaku, tangan kanan dan kaki kananku terasa lemas seperti tidak dapat digerakan. Keesokan harinya pengobatan dilanjutkan, aku dibawa ke ruang scan untuk dilihat apa penyebab sakit di kepalaku.

Saat itu aku ditangani oleh seorang dokter ahli saraf, hasil dari scan didapat, ternyata di kepalaku terdapat darah menggumpal yang menutupi otakku, sehingga otakku tak dapat berfungsi sepenuhnya. Teman-teman, saudara-saudaraku, semuanya hanya bisa melihatku dengan rasa iba dan sembunyi-sembunyi menangis melihat penderitaan yang ku alami.

Selama 11 hari aku merasakan sakit, tiba-tiba tingkah lakuku pun sepertnya menjadi aneh. Bicaraku sering ngelantur ketika ibuku menanyakan nomor telepon kantorku, aku lupa. Anehnya lagi pada setiap orang yang datang, ibuku selalu bertanya kepadaku "Siapakah ini yang bersama ibu, kamu masih kenal kan?" Aku tidak bisa langsung mengingatnya dan mengenali orang yang bersama ibuku itu. Aku selalu tidak bisa dengan cepat menjawab pertanyaan itu. Memori di otakku sepertinya telah sangat lambat bekerja. Dokter ahi saraf pun akhirnya menyarankan kepadaku untuk melakukan scan kembali.

Dari hasil scan ke-2 aku disarankan dokter untk operasi, karena pembuluh darah yang menggumpal dan menutupi otakku harus dibuang, keluargaku pun segera mengadakan musyawarah mengambil keputusan tentang operasi yang ddsarankan dokter. Dari hasil musyawarah, ternyata keluargaku menolak dilakukan operasi atas dirkiu, karena walaupun berhasil dalam operasi, tetap saja akan ada efek samping dari hasil operasi itu, yaitu aku bsa saja lumpuh. Apalagi dokter pun tidak bisa bertanggung jawab penuh atas hasil operasi hidup atau matku.

Tiba-tiba aku teringat akan uwakku di Desa Cikeleng, Kabupaten Kuningan. Aku minta kepada ibuku agar uwakku didatangkan ke rumah sakit, ibuku pun segera mengabulkan permintaanku dengan menelpon uwakku untuk dapat segera datang ke rumah sakit menemaniku. Tidak memakan waktu sampai sehari, hari itu juga uwakku datang dan melihat diriku.

Melihat kondisiku, uwakku lalu menyarankan agar aku segera dibawa pulang saja, karena menurutnya kondisi penyakit yang kuderita bukanlah penyakit medis, tetapi penyakit non medis. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan peralatan dokter secanggih apapun. Tapi saat itu kelargaku tidak begitu saja percaya dengan ucapan uwakku, dan mereka tidak mengijinkannya. Mereka mash tetap bertahan dengan penyembuhan dari dokter rumah sakit itu. Maka uwakku pulang kembali ke Cikeleng.

Malam berikutnya di rumah sakit, aku bermimpi bertemu dengan seorang kuncen, kuncen itu adalah kuncen Nabi Musa AS, beliau meminta kepadaku agar aku menemui Nabi Musa , aku berkata kepada kuncen bahwa aku tidak bisa berjalan, kuncen itu naik ke atas untuk memberitahukan kepada Nabi Musa.

Nabi Musa turun dari atas, beliau berkata kepadaku "Wahai kaumku ikutlah denganku."

"Aku menjawab, "Wahai Nabi aku tak bisa berjalan, tubuhku gemuk. Bagaimana aku bisa mencapai e atas sana?" Kemudian Nabi Musa mengangkatku seolah aku ini tidak mempunyai beban berat, lalu aku dibawanya ke atas. Di sana aku diperlihatkan sebuah mushala yang sangat indah, di sana kulihat ada empat orang yang sedang berdzikir dengan memakai sorban putih. Aku pun bertanya kepada Nabi "Wahai Nabi apa yang dlakukan orang-orang itu?"

Nabi lalu menjawab "Itulah kaumku yang kin menempati mushala ini. Apabila kamu mau, akan kujadikan kau kaumku juga." Aku membalas, "Wahai Nabi, jangan kau ambil diriku dulu, karena diriku belum sepenuhnya membahagiakan orang tuaku dan istri, di mana anakku juga masih berusia 9 bulan, masih sangat butuh kasih sayang seorang ayah. Aku mohon kepadamu ya Nabi."

"Baiklah kalau itu maumu hanya satu yang kuminta darimu, bisakah kau mempertahankan ibadahmu, agar engkau tidak terjerumus menjadi orang-orang yang tersesat. Kalau engkau masih bisa mempertahankan semua itu, kau akan tetap menjadi kaumku," kata Nabi.
,br ?"Insya Allah ya Nabi, aku akan mencoba mempertahankan ibadahku ini," jawabku. Lalu aku dibawanya berkeliling mushala. Betapa megahnya mushala ini. Tetapi aneh, mengapa di pojok mushala masih ada kayun yang keropos. Aku pun bertanya kepada Nabi.

"Ya Nabi mengapa mushala yang begitu megahnya, masih ada kayu yang keropos?"

"Itulah satu tugasmu untuk di dunia." jawab Nabi.

Aku kemudian dibawa kembali ke bawah, dan aku diturunkan, dan sekitak itu aku terbangun dari tidur lelapku.Anehnya aku merasa kondisi badanku saat itu terasa lebih fit. Lalu aku meminta kepada keluargaku untuk memintakan ijin agar aku bisa segera pulang. Keesokan harinya dari pihak keluargaku pun menghadap ke dokter yang selama ini menanganiku.

Tetapi dokter yang menanganiku, tidak mengizinkanku pulang karena mengingat kondisi fisikku, selain belum benar-benar pulih. Dokter spesialis saraf juga tidak mau bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu keadaku, jika aku melaksanakan kehendak untuk pulang ke rumah. Ditambah lagi karena mata sebelah kananku pun tidak bisa melihat, tapi aku dan keluargaku meyaknkan dokter, bahwa Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa pada diriku, karena aku begitu yakin kalau uwakku dapat membantu untuk proses penyembuhan selanjutnya.

Sebelumnya aku memang telah disarankan oleh uwakku untuk dirawat di rumahnya. Setelah memperoleh ijin doter dan aku bisa pulang, aku dan keluarga pun segera berangkat e rumah uwakku di Cikeleng. Di rumah uwaku akupun mulai menjalani pengobatan lanjutan, dimana pada setiap malam, setiap pukul 01.00 WIB aku dibawa oleh uwaku ke makam buyut, makam keramat di Desa Cikeleng. Lokasi makamnya di tengah-tengah hutan, aku di sana berdzikir dengan uwaku dari pukul 01.00-03.00 WIB.

9 hari kemudian, malam itu malam Jumat Kliwon, aku disuruh untuk beristirahat oleh uwaku dari kegiatan melaksanakan dzikir dari pukul 01.00-03.00 WIB. Malam itu, tepatnya pukul 23.00 WIB, aku mendengar suara kroncongan kuda yang sedang berlari memutari rumah uwaku. Aku penasaran dengan suara itu, lalu beranjak ke tepi jendela, kulihat dari balik gorden jendela yang kusingkap, tapi tak tampak apapun di luar sana.

Akhirnya untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku pun keluar, ternyata kulihat uwa perempuan ku sedang melakukan semedi, dan uwaku yang laki-laki, seperti sedang melakukan sesuatu. Uwaku terkejut melihatku, aku disarankan untuk masuk kembali. Sepertinya mereka sedang melakukan ritual yang sangat serius. Tepat jam 24.00 WIB pada jam dndingku di kamar, aku mendengar seperti ada orang yang sedang berkelahi, aku hanya mendengarkan saja dari kamarku, tidak berani untuk melihatnya, sampai akhirnya tanpa aku sadari, aku tertidur.

Keesokan harinya jam 10.00 pagi, ketika aku ingin mandi dan aku membuka bajuku, istriku melihat dipundakku seperti ada bekas telapak tangan. Ketika istriku menanyakan kenapa, aku pun tidak tahu dan tidak dapat menjelaskan ada apa sebenarnya pada pundakku.

Lalu aku pun keluar kamar dan menanyakan kepada uwakku. Uwakku hanya diam tidak memberi jawaban, dia hanya meminta aku berbalik membelakanginya, dan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan kemudian ditiupnya bekas telapak tangan yang ada dipundakku. Seketka bekas telapak tangan dipundakku itu hilang dengan sendirinya. Aku meraba keningku, karena terasa seperti ada yang mengganjal, kutarik, ternyata di keningku ada kain kafan, kemudian kuraba pipiku yang seperti ada sesuatu juga, lalu kutarik dan ternyata ada sebuah jarum. Uwakku yang melihat itu semua hanya tersenyum, dan ia berkata bahwa hal itu semua pertanda ada kemajuan dalam pengobatan sakitku, dan uwakku bilang, tidak sia-sia selama 9 hari dia melaksankan ritual.

Kini mata sebelah kananku mulai membaik dan bisa melihat, kakiku pun yang terasa lemas beberapa hari lalu sudah mulai ada kekuatan dan aku sudah bisa berjalan kembali walau kulakukan masih perlahan-lahan. Tak kepalang betapa bahagianya keluargaku melihat kemajuan yang kudapat, maka sre itu pun kami mengadakan syukuran, dengan mengundang tetangga dekat, bersyukur bahwa diriku bisa terlepas dari pengaruh mistik yang entah siapa yang sudah berbuat setega itu padaku.

Kini tinggal sisa-sisa penyakit yang ada pada dirku, aku sudah berangsur pulih seperti sedikala. Lalu aku pun di anjurkan uwakku melakukan kontrol setiap minggu. Pada kesempatan lain aku yang merasa penasaran dengan penyakitku, dan ingin sekedar tahu saja siapakah yang dengan tega berbuat hal itu pada diriku, aku tanyakan hal itu kepada uwakku.

Jawabnya sungguh sangat mengherankan, menurut uwakku, aku terkena serangan santet yang sangat ganas, di mana menurut uwakku lagi semua itu adalah karena perbuatan teman sekantorku yang merasa iri karena aku dekat dengan atasanku. Mengetahui hal itu aku hanya mengucap sykur kepada Gusti Allah, bahwa aku masih dberi kesempatan untk sembuh. Aku pun berjanji dalam hati, bahwa aku tidak akan menaruh dendam pada teman kantorku itu, sesuai yang dsarankan uwakku juga. Dendam adalah perbuatan yang sangat menyakitkan di hati. Semua hanya kepasrahan kepada Gusti Allah. Semoga teman kantorku itu dberi kesadaran Gusti Allah untuk tidak berbuat hal yang sama pada orang lain. (*)

Sumber: Mistri Edisi 561 Tahun 2013

Senin, 08 Juli 2013

Tubuh Kurus Kering Akibat Menyusui Tuyul

Tubuh Kurus Kering Akibat Menyusui TuyulOleh: R. Mujiati

Makam Ngujang, Tulungagung, Jawa Timur, sudah lama dikenal sebagai tempatnya orang memuja pesugihan tuyul. Ini adalah kisah seorang penganut pesugihan di tempat ini yang tubuhnya kurus kering akibat menyusui tuyul yang dipeliharanya. Dialah Srikaya

Di zaman serba materialistik ini, orang terkadang rela melakukan apa saja. Tak peduli, jalan yang ditempuh sesat atau hitam, yang penting baginya adalah bisa hidup enak dan mewah. Namun apalah arti hidup bergelimang harta jika didapat dengan cara yang tidak halal. Apalagi jika dikemudian hari harta yang melimpah itu akan menyiksa lahir batin tanpa batas waktu.

Sebut saja namanya Srikaya, meski di masa mudanya kaya raya, ia tidak terlihat sumringah atau segar bila dipandang mata. Padahal ia sebenarnya bisa makan enak, membeli berbagai macam pakaian dan perhiasan bisa dilakukan dengan mudah. Namun, di usianya yang belum tua, ia justru terlihat ringkih seperti orang yang tengah sakit-sakitan. Perihal itu, tidak banyak orang yang tahu jika ia sebenarnya penganut pesugihan sejenis tuyul yang setiap malam minta disusuinya.

Pada saat di hari tuanya, bahkan Srikaya terlihat semakin renta saja. Tak hanya tubuhnya, penglihatan dan pendengarannya juga tidak begitu jelas. Karena itu jika berbicara dengannya harus ekstra keras yang disertai dengan menggunakan bahasa isyarat untuk memudahkan wanita tua ini menangkap maksud pembicaraan. Kini di hari tuanya, Srikaya hidup sebatang kara si sebuah desa di Tulungagung, yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Penulis mengetahui keberadaan Srikaya dan jauh-jauh datang ke tempat tinggalnya setelah seorang rekan mengirimkan sebuah pesan yang isinya cukup menarik untuk ditelusuri. Yakni mengenai kehidupan wanita ini yang katanya pernah menganut sebuah pesugihan tuyul yang diperolehnya di daerah Tulungagung, yakni di Makam Ngujang , Ngantru.

Tapi, saat Srikaya ditemui penulis, ia mulanya menolak permintaan mengobrol mengenai masa lalunya yang kelam tersebut. Berkali-kali ia mengatakan bahwa itu masa lalu, tidak perlu diingat-ingat lagi. Seorang rekan yang sudah beberapa kali mengunjungi nenek tua ini mengatakan bahwa harus cukup sabar untuk bisaa menggali cerita darinya.

Rekan yang mantan wartawan itu sebenrnya sudah banyak menggali informasi mengenai masa lalu nenek tua itu. Tapi, untuk meyaknkan penulis, ia minta untuk menanyakan sendiri atau barangkali ada data-data yang masih kurang lengkap untuk digali lagi dari nenek Srikaya tersebut.

Menurut rekan yang mantan wartawan itu, Srikaya terpaksa melakukan pesugihan tuyul sebab hidupnya selalu didera kemiskinan. Kakek neneknya miskin, begitu juga ibu dan bapaknya. Bahkan ketika Srikaya muda ini menikah ia justru mendapatkan seorang suami yang berasal dari keluarga miskin. Yang lebih menyakitkan, suaminya itu ternyata seorang pemalas dan suka main judi. Perihal hobi suaminya ini, Srikaya sering dibuat sakit hati. Tak hanya sakit hati akibat jarang diberi uang belanja, uang hasil kerjanya sendiri terkadang masih saja dirampasnya.

Konon, karena gelap mata jarang diberi nafkah, bahkan mungkin dalam beberapa minggu tidak pernah dikasih uang belanja oleh suaminya, Srikaya mendatangi Makam Ngujang, yang ada di Kecamatan Ngantru, Tulungagung, yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Untuk itu, ia harus terpaksa menitipkan anak laki-lakinya yang baru berumur sekitar sembilan tahun pada orangtua kandungnya.

Mulanya, ia tak bermaksud untuk memuja pesugihan. Ia hanya ingin datang saja ke makam itu, setelah mendengar cerita dari orang-orang bahwa sudah banyak yang berhasil setelah berziarah ke situ. Selain itu, ia mengaku lebih tenang saat berada di makam itu. Ia seperti menemukan tempat yang damai di situ. Entahlah, apakah karena pengaruh kekuatan gaib yang ada di situ atau memang akibat suasana yang memang mendukung, yakni sejuk sebab banyak pepohonan yang ada di tempat itu.

Tak sekali saja Srikaya mendatangi makam itu. Srikaya sendiri lupa sampai berapa kali mendatangi makam itu, mungkin pula sudah berkali-kali. Meski sudah sering mendatangi makam itu, namun tidak ada tanda-tanda apa yang menjadi keinginannya akan bisa terkabul. Ia masih sering kekurangan dan pekerjaannya yang serabutan masih pula dijalaninya.

Sampai pada suatu malam, setelah siangnya baru mendatangi Makam Ngujang, dalam tidurnya Srikaya didatangi seorang anak gundul yang ingin kut dengannya. Karena merasa kasihan, Srikaya akhirnya menuruti keinginan anak kecil yang berkepala plontos itu.

Namun, di tengah jalan bocah itu minta air susunya. Srikaya mengiyakan begitu saja, tapi saat bocah itu menyedot air susunya, bocah tersebut seperti tidak ada habis-habisnya meminumnya. Karena merasa sakit, Srikaya akhirnya terbangun dari tidurnya. Srikaya kaget, sebab mimpi itu seperti nyata. Mimpi itu katanya jelas sekali, sampai-sampai ia gemetaran dan tubuhnya berkeringat dan keadaannya berantakan seperti orang yang memang baru saja menyusui anaknya.

Besoknya, Srikaya kembali bermimpi. Tapi, kali ini mimpinya didahului dengan menyusui anak kandungnya sendiri, tapi saat itu tiba-tiba ada bocah lain yang ingin menyusu padanya. Berkali-kali Srikaya mimpi seperti itu. Sampai akhirnya ia sendiri yakin jika ada makhluk lain yang mengikutinya, yakni makhluk gaib kecil ang brtelanjang dan berkepala plontos, yang mungkin sejenis tuyul.

Jika sebelumnya bocah gundul itu datang seperti dalam mimpi, kini Srikaya mengaku melihat dengan jelas kelebatnya. Bahkan terkadang, ia seperti mengintip atau memperhatikan Srikaya. Ia seperti tahu dan mendengarkan apa-apa yang diucapkan Srikaya. Pada saat itulah Srikaya iseng-iseng menyuruhnya melakukan ini dan itu dan ternyata bocah itu menurutinya. Perintah ini dan itu, salah satunya adalah mencarikan Srikaya uang yang entah uang itu didapatnya dari mana oleh bocah gundul itu. Mungkin juga mencuri milik orang-orang kaya. Meski begitu, katanya uang yang diperoleh bocah itu tidak pernah banyak, hanya beberapa lembar uang puluhan ribu. Meski begitu, hampir tiap hari Srikaya mendapatkannya.

Menurut Srikaya yang pernah diceritakan pada rekan yang mantan wartawan itu, semua itu berjalan seperti mimpi. Tidak ada perjanjian gaib antara dirinya dengan makhluk gaib penunggu makam Ngujang atau bahkan dengan bocah gundul tersebut.

Sejak itulah, tak butuh waktu lama, kehidupan wanita itu berangsur-angsur membaik. Ia tidak lagi menjadi buruh serabutan. Ia mulai membuka usaha kecil-kecilan. Dari usaha kecil-kecilan yang dirintisnya di pasar, yakni berjualan alat-alat dapur, usaha wanita itu cepat sekali perkembangannya. Sampai akhirnya Srikaya mempunyai stand di pasar yang dibeli dari uang tabungannya. Anehnya, jumlah tabungannya itu lebih besar dari perkiraannya. Mengenai hal itu, mungkin uang itu ditambahi dari makhluk kecil yang gundul tersebut.

Tak hanya sekedar punya, lambat laun kehidupan Srikaya benar-benar bergelimang harta benda. Dengan kekayaan itu, Srikaya sebenarnya bisa melakukan apa saja. Membeli pakaian yang bagus, perhiasan, makanan yang nikmat dan lezat, dan berbagai hal yang menyenangkan. Tapi, ada pandangan yang sungguh-sungguh mengiris hati, yakni meski bisa makan enak, pakaian mewah dan memakai perhiasan yang mahal, aura wajah Srikaya tidak menampakkan suatu yang membahagiakan. Wajah wanita itu redup, seperti ada sesuatu yang menutupi.

Tubuhnya kurus kering seperti orang yang sedang menderita sesuatu penyakit tertentu, tidak ada yang tahu jenis penyakit apa yang sedang diderita wanita ini. Meski begitu ada isu yang mengatakan jika wanita ini setiap malam menyusui makhluk gaib yang bernama tuyl. Karena disedot oleh tuyul yang minumnya banyak inilah wanita ini badannya kurus kering.

SEpuluh tahun berikutnya, setelah Srikaya mendapatkan kekayaan seperti yang menjadi keinginannya, cobaan itu mulai datang menerpa. Suaminya yang pemalas dan hobinya yang hanya main judi, selingkuh dengan wanita lain. Padahal uang untuk judi dan selingkuh itu justru didapatnya dari memeloroti atau diam-diam mengambil dari usaha istrinya. Srikaya yang marah dan menganggap lelaki itu tidak tahu diri akhirnya menceraikannya.

Setahun berikutnya, cobaan itu datang lagi, anak tunggalnya yang menginjak remaja mengalami kecelakaan di jalan raya sampai akhirnya meninggal seketika di tempat kejadian perkara. Ditinggal suami, wanita ini pada waktu itu masih bisa menahan kesedihannya. Tapi, kehilangan anak tunggalnya, sampai berbulan-bulan lamanya Srikaya tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.

Lamban laun namun pasti, kekayaan wanita itu mulai merosot sedikit demi sedikit. Usaha perdagangan yang dilakukannya banyak mengalami kendala dan akhirnya menemui kegagalan. Kepada rekan yang mantan wartawan itu, Srikaya sempat mengaku jika ia sama sekali tidak ada perjanjian gaib dengan penunggu makam Ngujang mengenai tumbal atau lain sebagainya. Srikaya sendiri tidak tahu, apakah meninggalnya anaknya akibat diambil penguasa gaib Makam Ngujang sebagai tumbal atau memang murni kecelakaan.

Meski tak juga mau bercerita panjang lebar mengenai masa lalunya pada penulis, wanita ini sempat juga mengaku jika ia tidak mau lagi didatangi bocah gundul yang menurut perkiraannya jelmaan tuyul itu. Ia tobat dan ingin meninkmati masa tuanya yang mungkin sebentar lagi akan diambil oleh Yang Maha Kuasa untuk hal-hal yang lebih bak lagi.

Baginya, sekarang ini harta benda tidak ada harganya. Sebab, selain tdak bisa menikmatinya, kekayaan itu tidak ada artinya jika ia hanya hidup sendiri dan keluargannya telah meninggalnya.
Sepulang dari menemui Srikaya, penulis sempat mampir di kompleks Makam Ngujang, Ngantru, Tulungagung. Sebuah makam yang dinaungi cungkup menyerupai rumah terlihat cukup dikeramatkan di antara makam-makam yang lain. Makam itu terkunci dan untuk memasukinya harus ijin juru kuncinya.

Sementara itu, di kompleks makam, di antara batu-batu nisan dan dahan-dahan pohon, puluhan kera atau monyet sibuk bergelantungan, bahkan terkadang mendekati orang yang sedang berziarah di makam ini. Konon, kera-kera ini adalah jelmaan para penganut pesugihan yang telah habis masa kontraknya. (*)

Sumber: Misteri Edisi 561 Tahun 2013

Minggu, 26 Mei 2013

Kembang Bernyanyi

Cerpen: Dadang Ari Murtono

Percayakah kau bila di dunia ini ada kembang yang ketika kuncup berwarna merah, semerah darah, dan perlahan-lahan, seiring dengan membukanya kuncup itu menuju sekuntum kembang yang mekar sempurna, warna merah itu luntur. Luntur dengan cara menetes. Serupa airmata yang menetes. Dan bersamaan dengan tetesan itu, akan kau dengar suara nyanyian yang menyayat. Nyanyian yang kadang lebih mirip suara tangisan. Itlah sebabnya, kemnbang yang ketika telah sempurna mekar berwarna putih itu, dinamakan kembang bernyanyi. Kembang yang akan segera layu dan luruh setelah warna putihnya memucat serupa wajah orang mati, lima menit seusai warna merahnya benar-benar tak ada.

Riwayat tentang kembang bernyanyi itu adalah sebuah riwayat tentang cinta yang tidak beruntung. Cerita tentang seorang pemuda yang menimpan cinta kepada seorang gadis. Gadis yang bagi si pemuda--seperti lazimnya orang yang jatuh cinta--adalah gadis paling cantik yang pernah ia lihat. Si pemuda merasa, dengan kecantikan si gadis, semua lelaki akan menyukai si gadis.

Bertahun-tahun si gadis menunggu Bertahun-tahun ia tetap terbangun di pagi hari dan mendapati sebuah kertas bertuliskan puisi dengan tulisan "ai" di akhir puisi di depan pintu rumahnya.

Secarik kertas dengan puisi-puisi cinta yang ditujukan kepada si gadis tetap didapati si gadis. Dan itu benar-benar mengherankan. "Bagaimana cara si pengirim puisi ini menaruh kertas ini tanpa sepengetahuanku? Padahal aku telah semalam berjaga mengintip dari balik jendela ini," itulah pertanyaan si gadis yang tidak pernah mampu ia jawab.

Sungguh, si gadis begitu berbahagia dan merasa teramat beruntung dicintai oleh seorang malaikat. Dan ia yakin, malaikat yang ia tunggu itu, yang mencintainya itu, suatu saat akan muncul menemuinya.

"Aku akan menunggu. Hanya dengannya aku akan menikah. Dan hidup bahagia selama-lamanya," gadis itu bersumpah.

Bertahun-tahun si gadis menunggu. Dan malaikatnya tidak juga muncul. Usianya merangkak semakin tua. Dan orantuanya mulai resah.

"Apalagi yang kau tunggu?"

"Aku menunggu malaikat yang mengirimku puisi-puisi ini. Hanyan dengannya aku akan menikah," demikian si gadis menjawab. Dan hal itu semakin membuat orang tuanya resah.

Orangtuanya memang paham benar perihal kertas-kertas bertuliskan puisi yang tiap pagi didapati putri mereka di depan pintu rumah. Dan hal itu juga membuat mereka penasaran. Seperti putri mereka, mereka juga berulang berusaha mengintip semalaman dari jendela untuk memergoki siapa gerangan pengirim puisi-puisi itu. Namun nasib mereka tidak berbeda dengan nasib putri mereka: usaha mereka tidak membuahkan hasil!

"Anak kita bakal jadi kembang bibir orang-orang. Apa yang lebih menyakitkan dari orangtua seorang gadis selain mendengar olok orang-orang bahwa anak mereka telah jadi perawan tua? Gadis yang tak laku?" demikian bapak dan ibu si gadis gelisah.

Si pemuda yang yang merasa begitu patah hati, dalam rangka untuk melupakan sakit hatinya itu, konon, dalam suatu pagi bergerimis, pergi meninggalkan kota kecamatan kecil tersebut. Pergi berjalan sambil menunduk. Gerimis membuat jalanan sepi dan tidak ada orang yang berpapasan dengannya sehingga tidak pula ada yang tahu kalau sepanjang jalan, ia tak henti-hentinya menangis. Menangis sambil menggumamkan puisi-puisi cinta cinta yang pernah ia kirimkan ke gadis. Dan selain puisi-puisi itu, ia gumamkan pula kalimat: ai... ai... cinta... cinta... aiku... aiku... cintaku... cintaku...

Si pemuda tak menoleh ke belakang. Dan tak pernah kembali ke kota kecamatan kecil itu. Tidak ada yang tahu engan pasti riwayat si pemuda kemudian.

Ada yang mengatakan bahwa pemuda itu mati lima hari kemudian dalam perjalanannya karena selama berjalan, ia tidak mau makan dan minum. Namun ada juga yang mengisahkan si pemuda di kemudian hari menjadi penyair cinta besar di kota besar yang selama sisa umurnya hidup sendirian dan menerbitkan serial puisi-puisi dengan judul Aiku. Dan karena buku itu tidak pernah ditemukan, maka cerita itu juga tidak dapat dijamin kebenarannya.

Ya. Si gadis yang dijodohkan paksa itu tiba-tiba jatuh sakit. Sakit yang misterius. Sakit yang tidak bisa dijelaskan apa sakitnya. Dokter dan tabib paling handal telah didatangkan dan tetap tak ada yang bisa menjelaskan apa sakit si gadis dan bagaimana cara mengobati penyakit itu. Si gadis hanya bisa terlentang di ranjangnya. Terlentang terpejam serupa orang yang tengah tidur. Sepanjang hari seperti itu. Dan mulut si gadis, terdengar gumam: ai... ai... ai...

Tidak ada yang tahu apa arti gumam itu. Gumam yang bila didengar berulang-ulang menjadi mirip nyanyian. Nyanyian yang begitu menyayat hati.

Dan menurut si empunya cerita, si gadis tidak bangun lagi. Tubuhnya pelan-pelan berubah menjadi tanah. Serupa mayat yang berubah menjadi tanah. Dan dari tanah itu yang berasal dari tubuh si gadis, menyembullah kuncup-kuncup tumbuhan. Tumbuhan kembang. Kembang yang kini disebut orang sebagai kembang bernyanyi.

Kembang yang ketika kuncupnya berwarna merah. Serupa merahnya gairah semangat remaja yang meruap-ruap. Dan seiring mekarnya kuncup itu, warna merah itu menetes. Menetes serupa darah. Menetes sambil mengeluarkan nyanyian yang menyayat seperti tangisan. Nyanyian yang berbunyi: ai... ai... ai...

Dan bagi penduduk asli daerah yang dulu bernama Ngudi Lor itu, bila ada yang bertanya kenapa kembang itu hanya sebentar mekar, mereka akan menjawab: gadis itu juga mekar sebentar ebelum kemudian mati terlalu dini. Mati karena cinta yang aneh. Dan bila ada yang bertanya kenapa kembang itu hanya bisa tumbuh di sana, maka mereka akan menjawab: karena di sanalah tubuh si gadis berubah menjadi tanah.

Tentu saja kau bisa meragukan cerita ini. Toh, sampai sekarang, para ahli masih melakukan penelitian tentang kembang itu. Mreka tengah berusaha mengklarifikasikan kembang itu, merembugkan nama ilmiahnya, dan berusaha mencari cara membudidayakan kembang itu di tempat lain (*)