Ini Cara yang Tepat Menyatakan Cinta

Tidak banyak perempuan yang berani untuk mengungkapkan perasaannya dan malah memilih untuk memendamnya entah sampai kapan. Sebenarnya, menyatakan cinta itu sah-sah saja selama anda menggunakan cara yang sopan dan tidak berlebihan.

Mengetahui Kadar Cinta Si Dia

Keingintahuan merupakan hal yang sangat wajar dalam kehidupan manusia. Keingintahuan dapat terkait dengan banyak hal dan salah satunya mengenai pasangan anda. Berikut beberapa tips untuk mengetahui kadar cinta si dia

Ada Banyak Cara Melupakan Mantan Pacar

Setiap hubungan percintaan pasti mengalami masa-masa yang sulit untuk bisa saling memahami perbedaan yang ada. Seringnya perbedaan tersebut malah membuat hubungan tersebut menjadi sangat buruk kualitasnya. Tidak jarang hal ini mengakibatkan putus cinta

Lewat Surat Cinta Bisa Lebih Ungkapkan Romantisme

E-mail, SMS, sampai instant messenger memang sangat mempermudah komunikasi kita dengan orang lain. Namun, ketika sedang menjalin kasih Anda pasti tak ingin menerima ucapan cinta melalui pesan singkat saja. Untuk mengatasi kebosanan dan membuat hubungan semakin romantis, tak ada salahnya untuk kembali menggunakan cara tradisional, yaitu surat cinta. Meski terbilang jadul, melalui surat cinta Anda bisa lebih puas mengungkapkan perasaan dengan kalimat yang lebih romantis. Apalagi jika surat itu Anda selipkan ke tangannya dilengkapi setangkai mawar merah.

Pada Bulan Merah Akankah Kau Pulang

Sampai penantian itu berbilang tahun --20 tahun hingga kini-- bagai kumbanng putus tali. Hilanng tanpa kendali. Andaikata pula ia tersesat, mestinya aku tahu di mana rimbanya. Kalaupun ia wafat, aku berharap tahu pula di mana tempat kuberziarah.

Doa Sebutir Peluru

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Rabu, 04 Maret 2015

Laku Prihatin dan Tirakat (Bag 1)


Kebatinan adalah sesuatu yang dirasakan manusia pada batin yang paling dalam, dan terjadi pada siapa saja, termasuk pada orang-orang yang sangat tekun dan murni dalam agamanya, karena setiap agama pun mengajarkan juga tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan untuk selalu membersihkan hati, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dan sebagainya.

_________________________

Dalam masing-masing firman dan sabda terkandung makna kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Bahkan panggilan yang dirasakan seseorang untuk beribadah, itu juga batin. Dan di dalam batin tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika dilatih dan diolah. Kekuatan batin manjadi kekuatan hati dalam menjalani hidup dan memperkuat keimanan seseorang. Ajaran kebatinan kejawen pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan orang Jawa terhadap Tuhan . kejawen atau Kejawaan (ke-jawi-an) dalam pandangan umum berisi kesenian, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen mencerminkan spritualis orang Jawa.

Ajaran kejawen tidak terpaku pada aturan yang formal seperti dalam agama, tetapi menekankan pada konsep “keseimbangan dan dan keharmonisan hidup”. Kebatinan Jawa merupakan tradisi dan warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, jauh sebelum hadirnya agama-agama di Pulau Jawa, yang pada prakteknya, selain berisi ajaran-ajaran budi perkerti, juga diwarnai ritual-ritual yang berbau mistik.

Secara kebatinan dan spiritual dipaham bahwa kehidupan manusia di alam ini hanyalah sementara saja, yang pada akhirnya nanti semua orang akan kembali lagi kepada Sang Pencipta. Manusia, bila hanya sendiri, adalah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, lemah dan fana. Karena itulah manusia manusia harus bersandar kepada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi (roh-roh dan Tuhan), dan beradaptasi dengan lingkungan alam dan memeliharanya, bukan melawannya, apalagi merusaknya. Lebih baik untuk menjaga sikap dan tidak membuat masalah. Memiliki sedikit lebih baik, daripada berambisi mencari “lebih”.

Dengan demikian idealism kebatinan Jawa menuntun manusia pada sikap menerima, sabar, rendah hati, sikap tahu diri, kesederhanaan, suka menolong, tidak serakah tidak foya-foya/berhura-hura, dsb. Idealism inilah yang menjadikan manusia hidup tentram dan penuh rasa syukur kepada Tuhan. Mereka terbiasa hidup sederhana dann papun yang mereka miliki akan mereka syukuri sebaga karunia Allah.

Mereka percaya adanya “berkah” dari rooh-roh, alam dan Tuhan, dan kehidupan mereka akan lebih baik bila mereka “keberkahan”. Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin dan ditambah dengan laku prihatin dan tirakat supaya hidup mereka diiberkahi. Mereka tekun menjalankan “laku” untuk pencerahan cipta, rasa, budi, dan karsa.

laku adalah usaha/upaya
Prihatin adalah sikap menahan diri, menjauhi perilaku bersenang-senang, enak-enakan.

Tirakat adalah usaha-usaha tertentu sebagai tambahan, untuk terkabulnya suatu keinginan. Hakekat dan tujuan dari laku prihatin dan tirakat adalah usaha untuk menjaga agar kehidupan manusia selalu “keberkahan”, selamat dan sejahtera dalam lindungan Tuhan, agar dihindarkan dari kesulitan-kesulitan dan terkabul keinginan-keinginannya. Proses laku mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu bersikap positif dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bijaksana, demi tercapainya tujuan hidup.

Di luar segala bentuk laku prihatin yang dijalankan manusia, ada laku lain yang sifatnya sangat mendasar, yaitu puasa hati dan batin, yang dalam kesehariannya dilakukan tanpa kelihatan bentuk dasar lakunya. Laku pribadi yang biasa dilakukan pada dasarnya adalah:

1. Membersihkan hati dan batin dan membentuk hati tulus dan ikhlas.

2. Hidup sederhana dan tidak tamak, selalu bersyukur atas apa yang dimiliki.

3. Mengurangi makan dan tidur.

4. Tidak melulu mengejar kesenangan hidup.

5. Menjaga sikap eling lan waspada.

Di dalam spiritual kejawen, seorang penghayat kejawen biasa melakukan puasa dan biasanya disesuaikan dengan kalender Jawa, misalnya puasa Senin-Kamis, wetonan, Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, dan sebagainya.

Puasa tersebut dimaksudkan untuk menjadikan hidup mereka lebih “bersih” dan keberkahan, sekaligus juga bersifat kebatinan, yaitu untuk memelihara kepekaan batin dan memperkuat hubungan mereka dengan saudara kembar gaib, yang biasa disebut “sedulur papat”, sehingga puasa itu juga memelihara “berkah” indera keenam seperti peka firasat, peka terhadap petunjuk gaib/pertanda, peka tanda-tanda alam, dan sebagainya.

Lalu prihatin pada prinsipnya adalah perbuatan sengaja untuk menahan diri terhadap kesenangan-kesenangan, keinginan-keinginan dan nafsu/hasrat yang tidak baik dan tidk bijaksana dalam kehidupan. Laku prihatin juga dimaksud sebagai upaya menggembleng diri untuk mendapatkan “ketahanan” jiwa dan raga dalam menghadapai gelombang-gelombang dan kesulitan hidup. Orang yabg tidak biasa laku prihatin, tidak biasa menahan diri, akan merasakan beratnya menjalani laku prihatin.

Laku prihatin dapat dilihat dari sikap seseorang yang menjalani hidup ini secara tidak berlebih-lebihan. Idealnya, hidup ini dijalani proporsonal, selaras dengan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan hidup, dan tidak melebihi batas nilai kepantasan atau kewajaran (tidak berlebih dan tidak pamer).

Walaupun kepemilikan kebendaan seringkali dianggap sebagai ukuuran kualitas dan keberhasilan hidup seseorang, dan sekalipun seseorang sudah jaya dan berkecukupan, laku prihatin dapat dilihat dari sikapnya yang menahan diri dari perilaku konsumtif berlebihan. Menjalani laku prihatin juga tidak sama dengan menahan diri karena hidup yang serba kekurangan. Laku prihatin melandasi perbuatan yang bermoral.

Prihatinnya Orang Miskin Harta.
Walaupun seseorang kekurangan harta, tetapi dia tidak mengisi hidupnya dengan kesedihan, rasa iri dan dengki dan tidak mengejer kekayaan dengan cara tercela. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.

Walaupun tidak dapat memenuhi keinginan kebendaan duniawi secara berlebihan, tetapi tetap menjalani hidup dengan rasa menerima dan bersyukur. Dan sekalipun menolong dan membantu orang lain, tetapi dilakukan tanpa pilih kasih dan tanpa pamrih kebendaan, dengan demikian hidupnya juga memberkahi orang lain.

Filosofinya, makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan (hewan). Urip iku mung manpir ngumbe thok.

Hidup seperlunya saja sesuai kebutuhan, bukannya mengejar/menumpuk harta atau apapun juga yang nantinya toh tidak akan dibawa mati, dan dibaw masuk ke dalam kubur.

Sekalipun mereka miskin harta, tetapi kaya di hati, sugih tanpa bandha. Berbeda dengan orang yang berjiwa miskin, yang sekalipun sudah berkecukupan harta, tetapi selalu merasa takut miskin, dan akan melakukan apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, untuk terus menambah kekayaannya.

Prihatinnya Orang Kaya Harta.
Walaupun seseorang berlebihan harta, tetapi tidak mengisi hidupnya dengan dengan kesombongan dan bermewah-mewahan. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan tidak memenuhi segala keinginan melebihi apa yang menjadi kebutuhan.

Seseorang yang kaya berlimpah harta, memiliki banyak benda yang bagus dan mahal harganya dan melakukan pengeluaran yang “lebih” untuk ukuran orang biasa, bukan selalu berarti tidak nejalani laku prihatin. Namun hidup yang bermewah-mewah sama saja dengan hidup berlebih-lebihan (melebihi apa yang menjadi kebutuhan), inilah yang disebut tidak menjalani laku prihatin.

Orang kaya harta, yang selalu mensyukuri kesejahteraannya, akan tampak dari sikap hatinya yang selalu memberi “lebih” kepada orang-orang yang membutuhkan pemberiannya, bukan sekedar memberi, walaupun perbuatannya itu tidak ada yang melihat. Dan semua kewajibannya, duniawi maupun keagamaan, yang berhubungan dengan hartanya akan dipenuhinya, tidak ada yang dikurangkan.

Prihatinnya Orang Kaya Ilmu.
Orang kaya ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu spiritual, akan menjalani laku prihatin dengan cara memanfaatkan tidak untuk kesombongan, kejayaan, dan kepentingan diri sendiri, serta tidak untuk membodohi atau menipu orang lain, tetapi dimanfaatkan juga untuk menolong orang lain dan membaginya kepada siapa saja yang layak menerimanya, tanpa pamrih kehormatan atau upah.

Prihatinnya Orang Berkuasa.
Seorang penguasa hidup prihatin dengan menahan kesombongannya, menahan hawa nafsu sok kuasa, dan tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk kejayaan diri sendiri dan keluarganya saja. Kekuasaan dijadikan sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi para bawahan dan masyarakat yang dipimpinnya.Kekuasaan dimanfaatkan untuk menciptakan negeri yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kertoraharjo, sebagaimana layaknya seorang negarawan sejati.

Seorang politikus hidup prihatin dengan tidak hanya membela kepentingannya, kelompoknya atau golongannya sendiri, tau untuk mencari populeritas, menggoyang pemerintahan yang ada, tetapi digunakan untuk mendukung pemerintahan yang ada dan meluruskan jalannya yang keliru, yang menyimpang, untuk kepentingan rakyat banyak.

Seorang aparat negara, aparat keamanan atau penegak hukum, hidup prihatin dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban tugasnya dengan senantiasa dan tidak menyalahgunakan kewenangan untuk menindas, memeras atau berpihak kepada pihak-pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain, mencukupkan diri dengan gajinya dan menambah rejeki dengan cara yang halal, tidak mencuri, tidak memeras, tidak meminta/menerima sogokan.

Orang Jawa bilang intinya kita harus selalu eling lan waspada. Selalu ingat Tuhan. Tetapi biasanya manusia hanya mengejar kesuksesan saja, keberhasilan, keberuntungan, dsb, tapi tidak tahu pengapesannya.

Sering dikatakan orang-orang yang selalu ingat Tuhan dan menjaga moralitas, seringkali hidupnya banyak godaan dan banyak kesusahan. Kalau eling ya harus tulus, jangan ada rasa sombong, jangan merasa lebih baik atau lebih benar dibanding orang lain, jangan ada pikiran jelek tentang orang lain, karena kalau kita bersikap begitu sama saja kita bersikap negatif dalam diri kita. Aura negatif akan menarik hal-hal yang negatif juga, sehingga kehidupan kita juga akan banyak berisi hal-hal yang negatif.

Di sisi lain kita juga harus sadar, bahwa orang-orang yang banyak menahan diri, membatasi perbuatan-perbuatannya, seringkali menjadi kurang kreatif dan yang didapatnya juga akan lebih sedikit dibandingkan orang-orang yang tidak menahan diri. Itulah resikonya menahan diri. Tetapi mereka yang sadar pada kemampuan dan potensi diri, peluang-peluang, dsb, dan dapat memanfaatkannya dengan tindakan nyata, akan juga dapat menghasilkan banyak, tanpa harus lupa Tuhan dan merusak moralitasnya.

Di sisi lain sering dikatakan orang-orang yang tidak ingat Tuhan atau tidak menjaga moralitas, seringkali kelihatan hidupnya lebih enak. Bisa terjadi begitu karena mereka tidak banyak beban, tidak banyak menahan diri, apa saja akan dilakukan walaupun tidak baik, walaupun tercela. Beban hidupnya lebih ringan daripada yang menahan diri. Mereka bisa mendapatkan lebih banyak, karena mereka tidak banyak menahan diri.

Di luar pandangan-pandangan di atas, sebenarnya, jalan kehidupan masing-masing makhluk, termasuk manusia, sudah ada garis-garis besarnya, sehingga bisa diramalkan oleh orang-orang tertentu yang bisa meramal. Tinggal masing-masing manusianya saja dalam menjalani kehidupannya, apakah akan banyak eling dan menahan diri, ataukah akan mengumbar keduniawiannya.

Dalam tradisi Jawa, laku prihatin dan tirakat adalah bentuk upaya spiritual/kerohanian seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan raga, ditambah dengan laku-aku tertentu, untuk tujuan mendapatkan keberkahan dan keselamatan hidup, kesejahteraan lahiriah maupun batin, atau juga untuk mendapatkan keberkahan tertentu, suatu ilmu tertentu, kekayaan, kesaktian, pangkat atau kemuliaan hidup. Laku prihatin dan tirakat ini, selain merupakan bagian dari usaha dan doa kepada Tuhan, juga merupakan suatu “keharusan” yang sudah menjadi tradisi, yang diajarkan oleh para pendahulu mereka.

Ada pepatah, puasa adalah makanan jiwa. Semakin gentur laku puasa seseorang, semakin kuat jiwanya, sukmanya.

Laku puasa yang dilakukan sebagai kebiasaan rutin akan membentuk kebatinan manusia yang kuat untuk bisa mengatasi belenggu duniawi lapar dan haus, mengatasi godaan hasrat dan nafsu duniawi, dan menjadi upaya membersihkan hati serta mencari keberkahan pada jalan hidup. Akan lebih baik bila sebelum dan selama melakukan laku tersebut selalu berdoa niat dan tujuannya, mendekatkan hati dengan Tuhan, jangan hanya dijadikan kebiasaan rutin saja.

Berat-ringannya suatu laku kebatinan bergantung pada kebulatan tekad sejak awal sampai akhir. Bentuk laku yang dijalani tergantung pada niat dan tujuannya. Diawali dengan mandi keramas/bersuci, menyajikan sesaji sesuai yang diajarkan dan menanjatkan doa tentang niat dan tujuannya melakukan laku tersebut dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat dan tercela. Ada juga yang melakukannya bersama dengan laku berziarah, atau bahkan tapa brata, di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di gunung, makam leluhur/orang-orang linuwih, hutan, goa, bangunan yang wingit, dan sebagainya.

Ada beberapa bentuk formal laku prihatin dan tirakat, misalnya:

1. Puasa, tidak makan dan minum atau berpantang makanan tertentu.

Jenisnya:
Puasa Senin-Kamis, yaitu puasa tidakk makan dan minun setiap hari Senin dan Kamis.

Puasa Weton, puasa tidak makan dan minum setiap hari weton (hari+pasaran) kelahiran seseorang.

Puasa tidak makan apa-apa, boleh minum hanya air putih saja.

Puasa Mutih, tidak makan apa-apa kecuali nasi putih dan air putih saja.

Puasa Mutih Ngepel, dari pagi sampai Maghrib tidak makan dan minum, untuk sahur dan buka puasa hanya 1 kepal nasi dan 1 gelas air putih.

Puasa Ngepel, dalam sehari hanya makan satu atau beberapa kepal nasi saja.

Puasa Ngeruh, hanya makan sayuran atau buah-buahan saja, tidak makan daging, ikan, telur, terasi, dan sebagainya.

Puasa Ngayep, hampir sama dengan Puasa Mutih, tetapi makanannya lebih beragam asalkan tidak mempunyai rasa, yaitu tidak memakai bumbu pemanis, cabai, dan garam.

Puasa Ngrowot, dilakukan dari Subuh sampai Maghrib. Saat sahur dan buka puasa hanya makan buah-buahan, dan umbi-umbian yang sejenis saja, maksimal 3 buah.

Puasa Ngebleng, tidak makan dan minum sehari penuh siang dan malam, atau beberapa, siang dan malam tanpa putus, biasanya 1-3 hari.

2. Menyepi dan berdoa di dalam rumah. Tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.

3. Menyepi dan berdoa di makam leluhur/orang-orang linuwih, dan tempat-tempat yang dianggap keramat, tidak mendatangi tempat keramaian serta tida menonton hiburan.

4. Berziarah dan berdoa di makam leluhur/orang-orang linuwih, dan tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di gunung,pohon, goa, banguan yang wingit, dan sebagainya.

5. Mandi kembang telon aau kembang setaman tujuh rupa.

6. Tapa Melek, tidak tidur, biasanya 1-3 hari. Tidak mendatangi tempat keramaian dan tiida menonton hiburan.

7. Tapa Melek Ngalong, biasanya 1-7 hari. Siang hanya boleh tidur, tetapi selama malam hari tidak tidur, tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.

8. Tapa Bisu dan Lelono, melakukan perjalanan berjalan kaki dan bisu tidak bicara, dari Maghrib sampai pagi, melakukan kunjungan ke makam leluhur/orang-orang linuwih atau ke temapt-tempat keramat dan berdoa.

9. Tapa Pati Geni, diam di dalam suatu ruangan , tidak terkena cahaya apapun, selama sehari atau beberapa hari, biasanya untuk tujuan keilmuan. Ada juga yang disebut Tapa Pendem, yaitu puasa dan berdiam di dalam rongga di dalam tanah seperti orang yang dimakamkan, biasanya selama 1-3 hari.

10.Tapa Kungkum, ritual berendam di sendang atau sungai, terutama di pertemuan 2 sungai (tempuran sungai), selama beberapa malam berturut-turut dan tidak boleh tertidur, dengan posisi berdiri atau duduk bersila di dalam air dengan kedalaman air setinggi leher atau pundak.

Laku prihatin dan tirakat nomor 1 sampai 5 adalah yang biasa dilakukan orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan kombinasi 1 sampai 10 dilakukan untuk terkabulnya suatu keinginan tertentu yang bersifat khusus, biasanya supaya mendapatkan berkah tertentu, atau untuk tujuan keilmuan.

Tidak hanya dalam kehidupan keseharian, laku-laku kebatinan di atas juga seringkali dilakukan sebelum seseorang melakukan suatu kegiata/usaha yang dianggap penting dalam kehidupannya, seperti memulai suatu usaha ekonomi, akan pergi merantau, akan hajatan nikahan, dsb. Bahkan sudah biasa bila orang-orang tua berpuasa untuk memohonkan keberhasilan kehidupan dan usaha anak-anaknya.

Masing-masing bentuk laku prihatin dan tirakat mempunyai kegunaan dan kegaiban sendiri-sendiri yang dapat dirasakan para pelakunya, dan mempunyai kegaiban sendiri-sendiri dalam membantu mewujudkan tujuan laku pelakunya. (*)

Rabu, 26 November 2014

Kisah Cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah

Pulau KemaroOleh Putra Kurusetra

Ada sebuah kisah atau legenda yang mengiringi setiap kali perayaan Imlek di Palembang. Kisah ini menunjukkan sebuah sikap pembauran antara etnis Tionghoa dengan Melayu di Palembang. Legenda itu terkait dengan percintaan Tan Bun An dengan Siti Fatimah, yang berlangsung di masa Kerajaan Sriwijaya.

Kini, makam Siti Fatimah dan Tan Bun An berada di Pulau Kemaro, sebuah delta yang berada di Sungai Musi. Delta ini tak jauh dari lokasi Kuto Gawang, yang kini menjadi lokasi pabrik PT Pupuk Sriwidjaja. Kuto Gawang merupakan kota tempat berdiamnya pemerintahan Kerajaan Palembang. Bahkan diyakini pula sebagai kota di masa Kerajaan Sriwijaya.

Setiap kali perayaan Imlek, Pulau Kemaro selalu dijadikan pusat perayaan. Sebab selain terdapat makam Siti Fatimah, yang lokasinya berada di dalam Klenteng Hok Tjing Rio, juga terdapat sebuah kuil Budha. Selama perayaan Imlek 2012, di Pulau Kemaro dihiasi sekitar 2.00 lampion.

Nah, kembali ke legenda itu.

Berdasarkan berbagai sumber, maka diceritakan, dahulu kala, di masa Kerajaan Sriwijaya, Palembang sebagai pusat pemerintahan terdapat sebuah perguruan tinggi agama Budha yakni Sjakhyakirti. Lalu salah satu pangeran dari Tiongkok, yang bernama Tan Bun An menuntut ilmu di perguruan tinggi tersebut.

Dalam proses belajarnya di Palembang, Tan Bun An mengenal seorang putri dari seorang pangeran Palembang yang beragama Islam. Namanya Siti Fatimah. Mereka pun jatuh cinta, dan sepakat menikah. Orangtua Siti Fatimah setuju, begitu pun dengan orang tua Tan Bun An.

Tan Bun An kemudian mengirim seorang pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta emas kawin. Tentu saja permintaan ini disetujui orang tua Ta Bun An. Mereka pun mengirim keramik, guci, koin emas dan perak. Agar tidak dicuri atau dirampok di tengah perjalanan, semua emas kawin itu diletakkan di dalam guci raksasa yang di atasnya diletakkan sayur-sayuran. Panglima maupun hulubalang yang membawa guci-guci itu sama sekali tidak tahu keberadaa emas kawin tersebut.

Namun, saat kapal bersandar di pelabuhan Kuto Gawang, Tan Bun An terkejut, sebab tidak ada barang yang sesuai dengan permintaannya. Dia hanya menemukan puluhan guci berisi sayuran. Tan Bun An pun marah. Kesal. Dia menyangka kedua orangtuanya tidak setuju dirinya menikah dengan Siti Fatimah.

Sambil emosi dibuangnya guci-guci itu ke Sungai Musi. Tapi saat guci terakhir, guci kesembilan dibuangnya, guci itu terjatuh di tepi kapal, pecah, sebelum jatuh ke Sungai Musi. Lalu terlihatlah sejumlah benda berharga seperti yang dimintanya, seperti keramik, koin emas, dan koin perak.

Tan Bun An terkejut melihat hal tersebut. Dia pun sangat menyesal. Diperintahnya panglima dan para hulubalang untuk mengambil kembali guci-guci yang sudah tenggelam ke Sungai Musi.

Sayang, guci itu tak ditemukan. Bahkan panglima dan para hulubalang tidak muncul lagi ke permukaan air. Tan Bun An memutuskan turut terjun ke Sungai Musi mencari guci-guci tersebut. Nasibnya pun sama. Dirinya tenggelam di Sungai Musi.

Mendengar kabar itu, Siti Fatimah yang berada di rumah, menjadi sedih. Dia pun minta diantar dayang-dayangnya ke lokasi kejadian. Sungguh mengejutkan, di lokasi kejadian, Siti Fatimah tak dapat menahan rasa sedihnya, dia pun terjun ke Sungai Musi.

Tak lama kemudian, di lokasi kejadian muncul sebuah delta kecil yang di atasnya terdapat dua unggukan tanah seperti kuburan atau makam. Masyarakat Palembang pun percaya bahwa dua unggukan tanah itu merupakan makam Tan Bun An dan Siti Fatimah.

Sementara etnis Tionghoa, sejak saat itu sering berziarah ke delta tersebut, hingga ahirnya pada tahun 1962 di lokasi makam Tan Bun An dan Siti Fatimah dibangun Klenteng Hok Tjing Rio.

Namun, keberadan Pulau Kemaro ini memang memiliki banyak sejarah. Disebutkan di lokasi itu didirikan sebuah benteng oleh Kesultanan Palembang Darussalam buat menghadang para tentara VOC yang ingin menyerang Palembang. Selain itu, seusai Peritiwa 30 September 1965, di lokasi itu didirikan sebuah camp buat menampung tahanan anggota PKI dan simpatisannya.

Kini, sejak tiga tahun terakhir, para pemburu benda beharga di Sungai Musi, selalu menyelam di sekitar Pulau Kemaro. Mereka percaya legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah itu ada benarnya, sehingga mereka berharap menemukan benda-benda berharga yang terbuang di Sungai Musi tersebut.



------------------------------------------------------
Berita Musi, 24 Januari 2012 04:17 AM



Pulau Kemaro

Minggu, 03 Agustus 2014

Nol Berhamburan

Nol Berhamburan

Oleh: Abidah El Khalieqy



Terasa nyaman waktu. Sebab kita tak sendiri. Sinyal-sinyal indah meretas jarak antara langit dan bumi. Makin kuhikmati dirimu. Semestamu. Makin terang cahaya di atas lembaran buku-buku. Nol berhamburan. Keramaian politik bergeming memmbaca rindu alif-ba-ta-mu.

Membentang luas cakrawala di cekung matamu. Gugusan awan mencair, menjelma hujan. Hilang jarum jam dari dari menit dan detik. Namun api di dada masih tetap membara sampai jua rinduku di titik nadir. "Turunkan rindu ini. Cintaku, aku tak kuat lagi!"

"Ke mana akan turun, rindu itu selamanya surga."

"Surga pertama atau kedua?"

"Lebih dari Adam dan Hawa, dalam rindu kita tak ada surga kedua."

"Ke mana pun, asal tak di sini. Aku ingin meloncat keluar!"

"Jangan! Nanti terpercik api."

"Sesekali aku ingin terjilat."

"Jangan berlebihan! Kau nanti bisa hangus."

"Oleh apa?"

"Api cinta!"

"Seberapa kobarannya?"

"Lebih membakar dari tujuh jahanam."

"Tapi aku ingin, sesekali merasai kobarnya."

Rupanya, bukan aku saja yang terbakar. Engkau pun terbakar seperti para muda kasmaran cinta. Matamu merah. Senyum bibir di wajahmu juga merah. Aku terpana, menatap cahaya menyinar dari aorta seluruh tubuhmu. Sepanjang langitmu serasa cerah.

"Katanya dah siap menjadi Rabiah?"

"Otomatis! Jika kau juga serupa Ibrahim Adham!"

"Jadi?"

"Kita mesti mengembara, memadamkan api di dada."

"Bukan! Tapi menaklukan rimba. Semesta rimba raya."

"Termasuk rimba diri?"

Entah! Berjuta jam berdetak di jantung. Ingin turun dari langitmu, menjejak fakta di bumi cinta. Mengharu biru jejak rindu. Seberangi tujuh lembah, tujuh samudera, tujuh gunung, dan tujuh belantara. Hingga fajar ditembus mentari, berbilyun watt cahaya. Menikahkan langit dan bumi, aku dan engkau, semarakkan jagat sunyi. Surga abadi turun dari galaksinya, menawarkan buah khludi.

Seperti butir debu yang pertama kali merangkaiku, debu demi debu menggulung tubuhku. Maka terbanglah aku merunuti semesta, keliling memutari timur yang jauh, barat yang sekarat, di balik kutub utara dan selatan, amblas terbenam ke dasr bumi. Coba mengingat dan mengenangmu tanpa jeda sampai kita dipertemukan di alam, saling berpacu dalam melodi cinta.

Dan kini kita telah kembali, dipangku hijau bumi. Putik-putik rindu menguntum lalu mekar. Lahirlah kata-kata, puisi dan cinta. Kueja satu per satu frasanya, melintasi doa, coba pisahkan aku dan kau dalam kerinduan. Bermiliar galaksi menyusun bintang. Mengedar planet dan bulan, berenang sepanjang garis edar dalam keserasian. Aku dan kau yang ditetapkan baginya, tak kuasa.

Aku pun pulang dan kembali dalam rumah kehidupan. Merawat cinta di bawah matahari. Tapi efeknya, wajahku kehangusan, lidahku kelu menjawab pertanyaan.

"Kau ingin pergi dari nyata?"

"Bukan! Aku hanya ingin melihat wajahmu di cerminku."

"Tak perlu, akan kuambil seluruh cermin agar kau bisa tetap merawat cinta."

Sungguh ajaib. Kata tetangga, wajahku cemerlang penuh cahaya. Bersama keikhlasan yang tak rampung kumengerti, aku sedih karena tak bisa lagi menikmati wajah tampanmu.

Aku sabar mengingat pengorbanan cinta walau purnama berganti seribu kali.

"Jika rindu menyergap, tatap lekatkah langit cintamu?"

"Yups! Separo wajahmu tergambar di sana."

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Ehm, aku agi siap-siap untuk..."

"Untuk apa? Jadi relawan bumi pertiwi penuh korupsi?"

"Bukan! Aku ingin..."

"Ingin menjadi relawan penjajah negeri?"

Wajahmu membiru, senyummu kaku. Aku tak kuasa ingin meraihmu. Mencabut kembali tanyaku. Sendu pilu mendera aorta. Awan berarak di ubun-ubun. Matahari tidur dan angin ikut libur. Nyeri di dada kian mematri.

"Ya. Seperti rencana semula. Aku ingin bertapa di dasar jiwamu."

"Agar aku tak repot jika ingin menyusulmu?"

"Kalau tak sanggup, biarlah cinta kembali bersamaku."

"Mana mungkin? Tinggal ini kenangan, aku bisa mati tanpa cinta."

"Jika begitu, aku berangkat duluan nuju kerajaan."

Kerajaan siapa?"

"Ibrahim Adham!"

"Dan aku...?"

"Rabiah Adawiyah!"

"Jika kukatakan, pemenuhan tugasmu lebih tinggi nilai dibanding senyap gua Rabiah, aku tak yakin kau tak bakal membantah."

"Begitukah?"

"Ya. Telah mendalam aku selam. Aku hapal luar dalam."

"Tentang apa?"

"Cinta dan kerinduan. Mahabbah dan Sauqiyah. Aku dan kau."

"Haha! Sok tahulah! Tapi benar juga. Masa kita sama manusia, tempuhan jalan mesti berbeda. Rasa-rasanya, aku ingin, kita berangkat bareng bertiga."

"Bahkan Ibrahim Adham pun cemburu. Untuk apa lagi ia harus ikutan nuju istana itu? Istana, kerajaan, dan mahkota, telah tersemat lekat di atas kepalanya. Engkau pangeranku..."

Tatapmu beralih, mendesahkan nasib yang memuja. Makhluk tak berada telah menundukkan semesta adamu, sekaligus mengerjaimu bertumpuk halaman, berjilid pengetahuan tentang makna hidup. Inti cinta.

Hakikat pengorbanan. Membuat aku tak mau menyerah, ingin sejalan seirama. Jika kau pergi dan masuk ke gua Adham, sendiri aku tak kuat berjalan.

"Baiklah, aku tak punya pilihan lagi selain menahan waktu yang akan menghapusku dari keberadaanmu."

Atas nama lepuh cinta, mulut manusia bercuaca membakar apa saja yang dianggap tak memiliki cita-rasa. Apa salah para pecinta hingga rela dipanggang seperti irisan daging kambing di atas tungku. Disayat-sayat, dilukai, dan dikutuki.

Hanyalah cemburu pada aroma yang merangsang lidah untuk bergoyang. Sampai cinta migrasi. Jikalah ada planet biru yang siap menunggu, akan kubangun rumah rindu yang baru. Tapi di manakah planet itu berada, dan mampu tinggalkan masa lalu.

"Sudah lenyap planet itu, di gempa abad."

"O ya nasib...! Kalau negeri angin, masih adakah jejanya?"

"Kudengar masih. Nanti kulihat jadwal pesawat, kalau-kalau ada penerbangan nuju sana."

Ternyata negeri rindu itu masih terpeta di bumi. Ada fakta. Ada penerbangan pagi dan siang nuju sana. Kami suka cita membaca cuaca cerah dan semlir angina dikirim langsung dari laut cinta, mengipasi hati untuk terus berbenah. Perjuangan mesti berderap doa, si lemah terpapar derita, maju menggema bergulung bak gelegar guntur merindu redam.

Cintaku padamu, Kekasih. Munajat tanpa ampun. Menggedor langit menyibak Arsistawa! Bukan hanya Chairil Anwar, Kekasih, aku juga tak bisa berpaling. Hilang bentuk, hilang rupa. Dilecur rindu, lari pontang-panting nuju cakrawala, stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara. Lalu-lalang manusia, mata-mata asing dan langkah terburu. Radiasi nuklir darurat cinta.

"Pakai masker dong!"

"aku tak biasa masker. Bahkan takut melihat para pengguna masker pelindung, seperti hantu di televisi, ditanda dua titik hitam, mata kiri dan kanan. Berkali sudah diterang-jelaskan, bahaya nuklir lebih mengerikan dibanding vampir, karena benar-benar bikin leher kehilangan jarak paling dekat antara aku dan kau. Aku hanya tahu, masker bikin sesak napas saja. Ogah, ah! Walau nuklir itu cintamu."

'Telah diciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, duka dan bahagia yang terus berputar di garis edarnya."

"Dan tahu dari dulu sejak aku bertemu dengan cintamu."

Kau pun diam dalam fakta-fakta. Menjelajah astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar Solar Apex. Terus bergerak sejauh 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, planet, dan satelit, aku dan kau juga berjalan menempuh jarak ini. Demi cinta yang tak pernah redam di dada.

"Benarkah?"

"Ya. Karena itu bukan kisah biasa. Tapi kisah cinta antara aku dan kau yang nestapa. Sampai-sampai langit pujangga menangis, mengolam airmata, bahkan mendanau. Namun di seberang danau itu, aku yakin suatu saat nanti kan terlihat kuntum demi kuntum mawar surga bermunculan. Wangi selaksa parfum bidadari. Mekar sepenggal bumi, sepotong waktu, tempat kita bercumbu mengekalkan makna setia. Hilanglah dunia seisinya jadi cemburu."

Kau diam diujung daun talas sehabis hujan. Lantas kubangun rumah rindu, sebisanya. Dan menyala bagaikan cahaya mengundang laron-laron saling berbondong ingin bertetangga.

Membangun rumah rindu, berjajar-jajar seperti seperti bintang di langit biru. Lantas kita pun sepakat, merayakan kampung rindu di negri antah baratah.

"Negeri rindu langit arsistawa, Bukan?

"Mungkin ya, mungkin juga bukan, karena aku dan kau masih serupa manusia."

Wajahku ngungun. Sepi sendiri di bawah singgasana, di antara kilatan cahaya kubah dan tiang-tiang yang dipikul para malaikat utusan Maha Pemurah yang bersemayam di atas lengkung tujuh langit. Tak berwujud. Bukan seperti singgasana para raja, atap rumah atau pilar dari logam mulia. Apalagi menjadi bagian dari punggung kaki, jejak cinta di gurun Layla-Majnun.

"Pusat pengendalian segala persoalan alam semesta, maksudmu?"

"Bisa jadi. Sebab cinta yang bersemayam di langit arsistawa bakal mengatur segala urusan."

"Urusan apa?"

"Urusan cinta antara aku dan kau!"

Tak dinyana, aku menggelapar di tengah kesunyian. Seribu kata berpendar lepas dari kesombongan hati. Bermiliar jarak menghiba di urat nadi. Coba terbang mengelilingi cakrawala semesta dengan sayap cinta. Dan gagal berkali-kali, tak kuasa mengejar malaikat bersayap cahaya yang bisa terbang ke mana saja. Seperti ayat-ayat suci menempel di jejak nol kilometer antara Adam dan Hawa.

Hatta mathla'il fajri. Kucari-cari cintamu hingga matahari sepenggalah. Namun apa daya, aku tetap mendebu di sini. Menunggu rumah rindu dikelilingi fakta bumi dan rupanya, belum juga beranjak dari tempat semula. Menggelepar sunyi. Menggapai-gapai matahari menyinari cinta di negeri zamrud khatulistiwa.

"Negeri Indonesia Raya maksudmu?"

"Tak ada negeri tanpa rindu. Tak ada Indonesia Raya tanpa cinta!"

"Hatta mathla'il fajri. Lailatul Qadar mengaji sepanjang malam, menapaki jejak-jejak kehidupan. Nol berhamburan di antara sepi dan sunyi. Menunggu kesejahteraan merata dikeliling fakta bumi, kedamaian dan keselamatan, namun rupanya belum juga beranjak. Masih melata sepertti semula.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Abidah El Khalieqy, penulis novel best seller Perempuan Berkalung Sorban. Tinggal di Jogjakarta

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Citra Budaya
Sumatera Ekspres, Minggu, 3 Agustus 2014

Minggu, 27 Juli 2014

Seekor Kupu-Kupu dalam Kebun Bunga Tanalia

Seekor Kupu-Kupu dalam Kebun Bunga Tanalia
Masya kehilangan Tanalia, berhari-hari Masya menunggu kepulangan anak perempuan dua belas tahun itu. Ia sudah lapor polisi. Belum ada hasil apa-apa. Sementara itu, Tanalia asyik bermain bersama kupu-kupu dalam kebun bunga di dinding kamarnya. Kebun bunga yang menempel di dinding keramik hadiah dari Masya. Bukan kebun bunga sungguhan, namun begitu, di mata Tanalia, bunga-bunga di sana benar-benar hidup.

Ia selalu mengira mamanya belum pulang kerja. Masya memang biasa kerja lama sekali. Kadang Tanalia bosan menunggunya pulang. Betapa ia ingin mamanya seharian di rumah saat ia libur sekolah. Tapi mamanya harus kerja. Tanalia tahu ia tidak punya seorang papa. jika tidak kerja keras bagaimana kita bisa makan? Itu yang sering dikatakan Masya pada Tanalia. Karena itu, hanya kupu-kupu yang bisa menjadi temannya.

Tapi, kupu-kupu itu hanya satu ekor. Kupu-kupu yang kesepian. Kupu-kupu itu mengatakan tidak bisa lama bermain bersama Tanalia. Ia akan mencari cahaya bersama teman kupu-kupunya pada saatnya kelak. Tanalia tidak ingin kupu-kupu itu pergi. Ia keluar mencari kupu-kupu yang barangkali saja hinggap di pohon jambu sedang berbunga milik tetangganya.

Tanalia mau menambah kupu-kupu di kebun bunganya. Supaya tak ada lagi yang kesepian. Supaya kupu-kupu tak perlu pergi mencari cahaya. Belum satu ekor kupu-kupu pun yang Tanalia temukan. Semua kupu-kupu seolah menghilang. Tanalia mendongak ke langit. Ia kaget. Ada titik besar d langit sana. Titik itu bergerak, melintas di atas kepalanya. anak-anak yang sedang bermain berbondong-bondong mengejar titik besar yang terus bergerak itu. Tanalia ikut-ikutan bersama rombongan anak-anak. Meeka menunjuk-nunjuk tanpa suara, seolah sedang melihat benda asing dari dunia lain.

"Itu kupu-kupu," kata Tanalia. Semua mata serentak menoleh padanya. Lalu kembali pada sesuatu yang melintas di langit. Tanalia berhenti mengejar. Ia ingat pada kupu-kupu di kebun bunga di dinding kamar. Ia berlari, kembali ke rumah. Sampai di halaman, ia berbalik sesaat, melihat lagi ke langit. Rombongan kupu-kupu itu terus menjauh. Terus terbang tinggi. Dada Tanalia berdegup-degup.

"Kau pergi," gumamnya menahan tangis. Tentu saja yang dimaksud Tanalia adalah kupu-kupu kuning yang ia sembunyikan dari Masya.

"Kau sungguh sudah pergi?" bisik Tanalia pilu. Ia masuk ke rumah yang cat dindingnya mulai mengelupas seolah-olah waktu sudah melompat jauh dan Tanalia tidak menyadarinya.

Masya memandangi tirai-tirai yang bergerak-gerak di tiup angin. Tirai jendela di kamar Tanalia. Sudah lama sekali ia di sana. Sudah banyak sekali ia menangis. Tanalia belum juga kembali. Mungkin Tanalia bermain agak jauh. Tak apa. Ia tak akan marah, segera pulang ya, Nalia, bisiknya dalam hati. Tanalia membuka pintu kamarnya. Dan menutup pintu itu dengan suara agak keras.

Nalia! Masya menoleh. Ia merasa baru bangun dari mimpi buruk yang amat panjang. Tanalia pulang. Tapi, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada. Perlahan wajah Masya redup kembali. Ternyata aingin baru saja bermain-main dengan pintu amar Tanalia.

Masya berpikir-pikir, ah, sejak kapan pintu itu terbuka? Siapa yang membukanya? Pintu kamar itu tertutup selama ia menanti Tanalia. Ia sudah berhari-hari di sana. Sudah meninggalkan pekerjaan. meninggalkan segalanya.

Tanalia berdiri memandangi kebun bunga di dinding kamarnya. Kemudian ia masuk ke kebun bunga itu. Ia menghibur diri dengan mencari kupu-kupu kuning di bawah daun mawar. Bagaimanapun selalu ada keajaiban dalam hidup. Siapa tahu kupu-kupu itu tidak kemana-mana. Tidak ada. Tanalia mendesah.

Ia melewati mawar. Mungkin saja kupu-kupu itu bermain di balik bunga lainnya. Tidak. Tidak ada. Kupu-kupu itu tidak ada di mana-mana. Ia benar-benar sudah pergi, Tanalia menggigit bibirnya. Tak ada lagi kepak sayap kupu-kupu kuning di kebun bunganya. Tak ada.

Kulit muka Tanalia pucat, nyaris putih. Betapa ngeri mengalami suatu kehilangan. Kedua kakinya gemetar. Ia tahu ini kenyataan. Ia kini seorang diri dan itu menakutkan. Betapa nakalnya kamu, Nalia, gerutu Masya. Ia berjalan ke jendela. Menempelkan sisi kanan kepalanya ke kaca dan matanya mencari-cari Tanalia di luar. Sekelompok anak-anak bermain. Satu orang anak masih mengenakan seragam sekolah dasr. Sudah lama sekali rasanya ia melihat anak-anak itu di sana. Apa di tempat mereka waktu berhenti bergerak?

Jangan-jangan begitu juga yang terjadi pada Tanalia. Waktu yang tidak bergerak dan karenanya ia belum pulang. Masya memandangi kamar Tanalia. Tirai. Alas tempat tidur. Baju yang digantung di belakang pintu. Lemari hitam yang masih mengeluarkan bau cat meski sudah bertahun-tahun lamanya.

Lukisan kupu-kupu dengan sebelah sayap yang robek. Mata Masya berhenti di lukisan itu. Ia tidak menyukainya. Kalau bukan karena Tanalia merengek berjam-jam, ia tak akan membiarkan lukisan kupu-kupu menempel di dinding itu. Tanalia penyuka kupu-kupu. Dari kecil selalu melukis kupu-kupu. Sementara Masya benci sekali pada kupu-kupu. Mengingatkannya pada masa lalu yang ingin ia lupakan bersama lelaki kupu-kupu yang menusuk dadanya. Cepat ia turunkan pandangan ke arah jam di meja belajar Tanalia. Jarum pendek jam itu menunjuk angka empat. Jarum panjangnya terus berdetak. Sekali lagi ia melempar pandangan keluar. Anak-anak itu masih di sana.

Di manakah Tanalia bermain? Tanalia tidak ada di antara anak-anak itu. Tanalia berdiri cepat-cepat. Kembali membuka pintu dan membantingnya. Nalia! Seru Masya sekali lagi. Pintu kamar Tanalia meninggalkan gema yang semakin lama semakin pelan. Masya mematung. Menatap pintu seolah-olah di sana Tanalia berdiri sedang memandangnya.

Tanalia sudah berada di halaman lagi. Di langit, kupu-kupu sudah menghilang. Muka Tanalia murung, bibirnya sedikit melengkung. Ke mana ia akan cari kupu-kupu itu? Ia tidak bisa mengejar kupu-kupu yang terbang terlalu tinggi. Apalagi sekarang ia tidak tahu kupu-kupu itu di mana.

Teman-teman Tanalia masih berkelompok, berdiri tak terlalu jauh dari rumahnya. Mata mereka memandang ke arah langit. Kadang tangan mereka menunjuk-nunjuk. Tanalia bergegas mendekat. Bergabung bersama anak-anak itu. Ikut memandang langit. Ia tidak melihat apa-apa selain beberapa gumpalan awan yang baru tumbuh.

"Kalian lihat apa?" tanya Tanalia. Anak-anak itu tidak menjawab. Bahkan mereka tidak menoleh. Mereka asyik saja menunjuk-nunjuk. Seakan sengaja ingin mempermainkan Tanalia. Atau mereka memang tidak mendengar suara Tanalia. Mereka hanya sibuk memikirkan benda yang terbang di langit. Mereka sedang menunggu-nunggu benda itu melintas lagi.

Tanalia menghentakkan kakinya dan meninggalkan anak-anak itu. Ia harus memikirkan bagaimana caranya membawa pulang kupu-kupu kuning. Nalia! Nalia! Masya berteriak dari jendela. Ia baru saja melihat Tanalia di antara anak-anak itu. Tanalia mengenakan baju main model kodok yang sangat disukainya. Baju itu hadiah ulang tahun darinya tiga tahun lalu.

Baju dengan corak bunga --sebagaimana kebanyakan baju Tanalia. Masya meninggalkan jendela, meninggalkan kamar Tanalia. Ia bergegas membuka pintu depan. Menghabur ke halaman. Melewati pintu pagar yang terbuka. Serombongan anak-anak menunjuk-nunjuk langit. Anak-anak yang dilihatnya dari jendela. Di mana Tanalia? gumamnya. Tadi ia sungguh-sungguh melihat Tanalia.

"Kau lihat Nalia?" tanyanya pada seorang anak yang masih memakai seragam sekolah dasar. Anak itu tidak menggubris. Ia sibuk berceloteh pada temannya sambil terus menunjuk-nunjuk langit.

Masya bertanya pada anak lain, tapi tak ada yang mengacuhkannya. Ingin sekali ia marah pada anak-anak itu. Ia ikut-ikutan melihat ke atas. Tak ada apa-apa. Langit biru lembut dan beberapa gumpal awan. Apa yang dilihat ana-anak itu? Ia segera teringat lagi pada Tanalia. Cepat-cepat ia pergi. Entah kemana. Ia hanya ingin mencari Tanalia sebelum anak itu pergi jauh.

Tanalia kembali ke kamarnya. Ia pandangi kebun bunga di dinding kamar itu. Betapa kosongnya kebun itu tanpa kupu-kupu kuning. Ia sudah berjalan jauh. Mencari ke mana-mana, kupu-kupu itu memang sudah benar-benar meninggalkannya.

Bagaimana kalau aku jadi seekor kupu-kupu saja? pikirnya. Tanalia terperanjat dengan pikirannya sendiri. Masya kembali ke kamar Tanalia. Ia sudah berjalan ke mana-mana. Tanalia tak juga ia temukan. Jejak Tanalia kembali hilang. Ia memutuskan untuk menunggu saja. Sekarang ia tengah memandangi kebun bunga di dinding kamar Tanalia. Ia ingat satu hari saat memberikan kejutan kebun bunga itu.

Tanalia memejamkan matanya. Ia memutuskan menjadi kupu-kupu. Kelak aku akan terbang tinggi ke langit, mengejar kupu-kupu kuning yang sedang mencari cahaya, batinnya. Masya lebih mendekat ke arah kebun bunga. Kebun itu tampak sangat sepi. Dulu Tanalia menginginkan seekor kupu-kupu.

Mungkin karena Tanalia terlalu kesepian. Ia ingin teman. Tapi Masya tak mungkin membiarkan Tanalia membawa masuk binatang itu. Tubuh Tanalia perlahan berubah menjadi kupu-kupu. Tanalia memiliki sayap tipis berdebu. Memiliki mulut penghisap dengan sebatang probois. Mata serupa belahan bola di atas kepala. Juga badan yang lembut. Kaki-kakinya ia gerak-gerakkan.

Tanalia belajar manaikkan tubuhnya ke udara. Mata Masya terbeliak melihat seekor anak kupu-kupu belajar terbang di kebun bunga di dinding kamar Tanalia. Itu kupu-kupu sungguhan, pikirnya merinding. Ia lari ke dapur. Mengambil sapu. ketika kembali, anak kupu-kupu sudah menempel di dinding. Masya segera memukulkan ujung sapu ke arah anak kupu-kupu.



GM, 2014
Yetti A.KA, buku terbarunya yang akan segera terbit, kumpulan cerpen Satu Hari yang Ingin Kuingat dan sebuah novel Seperti Krisan. Tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat



Kamis, 11 Juli 2013

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku Lumpuh

Santet Kelelawar Nyaris Membuatku LumpuhOleh: Usep M

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang. Namun akibat yang ditimbulkan sungguh membuatku teriksa. Bahkan aku nyaris lumpuh dan kehilangan segala-galanya.

• • • • • • • • • • • • • • •


Aku ingat betul, bulan itu adalah awal bulan suci Ramadhan waktu, awal bagi umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan puasa dan menahan hawa nafsu, amarah, juga menahan rasa lapar dan dahaga selama satu bulan penuh. Di mana kebetulan juga malam itu jatuh pada malam Jumat Kliwon.

Seperti hari-hari biasanya, pada setiap pukul 02.30 WIB kebiasaanku adalah bangun dari tidurku untuk melaksanakan shalat malam, sunnah tahajjud juga shalat hajat. malam-malam yang tak pernah aku lewatkan untuk selalu berkomunikasi dengan Gusti Allah melalui shalat malam. Malam itu sebelum aku terbangun dari tidurku yang sangat lelap, aku bermimpi didatangi sesosok makhluk seperti seekor kelelawar besar dari atap kamarku.

Aku tidak tahu dari mana kelelawar itu datang, yang kulihat sepertinya makhluk itu akan menyerang tubuhku yang dalam keadaan sedang berbaring di tempat tdurku. Seketika aku tersentak dan terbangun, setelah aku sadari bahwa ternyata yang baru saja aku alami tadi hanyalah mimpi belaka, aku pun segera saja beranjak dari pembaringanku, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Sesampainya aku di kamar mandi aku mengalami kejadian yang sangat aneh. Secara tak terduga tiba-tiba saja tangan kananku bergerak dengan sendirinya dan secara reflek ingin memukul wajahku sendiri. Dengan reflek pula aku segera menahan ayunan tangan kananku yang mengarah ke wajahku sendiri dengan tangan kiriku.

Aku segera keluar dari kamar mandi. Sesaat aku tak dapat berkata dan berpkir apa-apa, aku hanya diam tertegun dan dan ucapan Istighfar terus kulantunkan tanpa henti, sambil tak lupa juga aku memohon dalam hati kepada Allah SWT, agar aku dilepaskan dari kejadian aneh yang kurasakan saat itu.

Apa salah dan dosak, pikirku. Kubatalkan niat shalat tahajjud dan hajatku malam itu, karena terus terang aku saat itu jadi merasa benar-benar takut dan terguncang dengan kejadian yang baru saja kualami dan tidak masuk akal pikiranku. Bagaimana mungkin salah satu anggota tubuhku ingin menyakiti anggota tubuhku yang lain, sungguh sangat musykil hal itu dilakukan oleh orang yang dalam kesadaran penuh, tidak gila.

Kejadian terus berlanjut, bukan tanganku yang ingin memukul wajahku, tetapi, dimana keesokan harinya tubuhku tiba-tiba saja terasa sangat lemas, nyaris seperti tak bertulang. Namun demikian ku coba paksakan diriku untuk tetap bekerja pada hari itu. Aku tetap berjalan untuk bekerja ke kantor seperti kegiatan rutin setiap harinya.

Namun setibanya d kantor, kurasakan seluruh tubuhku semakin bertambah lemas saja dan seolah tiada daya sama sekali. Atasanku yang mengetahui dan melihat keadaanku saat itu, memberi saran kepadaku untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Dia memberi ijin padaku untuk pulang saja guna berobat ke dokter, dab beristirahat beberapa hari sampai kondisiku sudah memungkinkan untuk kembali ke kantor dan bekerja seperti biasanya.

Tanpa buang waktu dan banyak pikir lagi, aku pun langsung kembali pulang ke rumah untuk kemudian pergi ke dokter praktek guna memeriksakan kondisiku yang semakin terasa lemas. Akhirnya hasil dari pemerksaan dokter itu, aku memang diharuskan istirahat total selama beberapa hari. Beruntung pimpananku di kantor sudah memberi ijin, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mendatangi kantor hanya sekedar untuk meminta ijin atasanku.

Aku pun mengambil kesepatan itu untuk pulang ke rumah orang tuaku agar dapat beristirahat dengan total sesuai yang dianjurkan dokter yang meemeriksaku. Setibanya di rumah orang tuaku, aku disambut dengan tidak kemengertian orang tuaku, kenapa aku kembali ke rumah mereka. Setelah kujelaskan semua keadaanku, dan mereka mengerti, aku langsung beranjak ke kamar tidur, dan langsung aku rebahkan tubuhku yang terasa lemas hingga aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, sampai beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja aku terbangun, kejadian malam di rumahku terjadi kembali di rumah orang tuaku. jiwaku semakin terguncang, istriku yang kuberitahu keadaanku yang berada di rumah orang tuaku segera datang menjemputku, untuk kembali pulang ke rumah. Tapi kami sempatkan juga untuk mampir mengunjungi rumah orang tua istriku. Sore harinya aku pulang dengan berjalan kaki bersama istriku dan ditemani oleh adik iparku.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba di ujubg kakiku terasa seperti ada sesuatu yang masuk, entah itu apa, tak sempat aku lihat. Benda itu seperti berjalan terus menjalar sampai ke ujung kepalaku. Sampai akhirnya kurasakan mulutku tertarik ke kanan, mataku terbuka lebar dan tubuhku kejang-kejang.

Istri an adik iparku yang melihat semua itu haya bisa menangis, mereka tak tega melihat kondisi badanku seperti itu. Aku masih bisa mendengar biskan adik ipar di telingaku agar aku tetap membaca istighfar. Sedangkan istrku segera mencari kendaraan taksi, untuk membawaku ke Rumah Sakit Pelabuhan Cirebon.

Sesampainya di rumah sakit itu, aku langsung dimasukan ke UGD dan dengan cepat ditangani oleh seorang dokter perempuan. Saat itu telingaku masih mendengar suara tangisan istri dan adik iparku, dokter yang menanganiku membisikkan kalimat di telingaku untuk tetap mengucapkan istighfar. Alhamdulillah keajaiban terjadi, seketika itu mulutku kembali seperti semula, dokter yang menanganiku sangat senang dan tiada hentinya mengucapkan Alhamdulillah.

Namun selang beberapa saat aku kembali kejang, seperti sesuatu yang terus masuk ke dalam tubuhku terus saja berjalan, suntikan pun diberikan dokter. Terasa obat di tanganku mengalir, sepertinya suntikan itu adalah obat untuk meringankan kejang, lalu aku dibawa ke ruang perawatan.

Setiba di penbaringan kurasakan kepalaku terasa berat seperti terdapat batu yang besar menindih kepalaku, tangan kanan dan kaki kananku terasa lemas seperti tidak dapat digerakan. Keesokan harinya pengobatan dilanjutkan, aku dibawa ke ruang scan untuk dilihat apa penyebab sakit di kepalaku.

Saat itu aku ditangani oleh seorang dokter ahli saraf, hasil dari scan didapat, ternyata di kepalaku terdapat darah menggumpal yang menutupi otakku, sehingga otakku tak dapat berfungsi sepenuhnya. Teman-teman, saudara-saudaraku, semuanya hanya bisa melihatku dengan rasa iba dan sembunyi-sembunyi menangis melihat penderitaan yang ku alami.

Selama 11 hari aku merasakan sakit, tiba-tiba tingkah lakuku pun sepertnya menjadi aneh. Bicaraku sering ngelantur ketika ibuku menanyakan nomor telepon kantorku, aku lupa. Anehnya lagi pada setiap orang yang datang, ibuku selalu bertanya kepadaku "Siapakah ini yang bersama ibu, kamu masih kenal kan?" Aku tidak bisa langsung mengingatnya dan mengenali orang yang bersama ibuku itu. Aku selalu tidak bisa dengan cepat menjawab pertanyaan itu. Memori di otakku sepertinya telah sangat lambat bekerja. Dokter ahi saraf pun akhirnya menyarankan kepadaku untuk melakukan scan kembali.

Dari hasil scan ke-2 aku disarankan dokter untk operasi, karena pembuluh darah yang menggumpal dan menutupi otakku harus dibuang, keluargaku pun segera mengadakan musyawarah mengambil keputusan tentang operasi yang ddsarankan dokter. Dari hasil musyawarah, ternyata keluargaku menolak dilakukan operasi atas dirkiu, karena walaupun berhasil dalam operasi, tetap saja akan ada efek samping dari hasil operasi itu, yaitu aku bsa saja lumpuh. Apalagi dokter pun tidak bisa bertanggung jawab penuh atas hasil operasi hidup atau matku.

Tiba-tiba aku teringat akan uwakku di Desa Cikeleng, Kabupaten Kuningan. Aku minta kepada ibuku agar uwakku didatangkan ke rumah sakit, ibuku pun segera mengabulkan permintaanku dengan menelpon uwakku untuk dapat segera datang ke rumah sakit menemaniku. Tidak memakan waktu sampai sehari, hari itu juga uwakku datang dan melihat diriku.

Melihat kondisiku, uwakku lalu menyarankan agar aku segera dibawa pulang saja, karena menurutnya kondisi penyakit yang kuderita bukanlah penyakit medis, tetapi penyakit non medis. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan peralatan dokter secanggih apapun. Tapi saat itu kelargaku tidak begitu saja percaya dengan ucapan uwakku, dan mereka tidak mengijinkannya. Mereka mash tetap bertahan dengan penyembuhan dari dokter rumah sakit itu. Maka uwakku pulang kembali ke Cikeleng.

Malam berikutnya di rumah sakit, aku bermimpi bertemu dengan seorang kuncen, kuncen itu adalah kuncen Nabi Musa AS, beliau meminta kepadaku agar aku menemui Nabi Musa , aku berkata kepada kuncen bahwa aku tidak bisa berjalan, kuncen itu naik ke atas untuk memberitahukan kepada Nabi Musa.

Nabi Musa turun dari atas, beliau berkata kepadaku "Wahai kaumku ikutlah denganku."

"Aku menjawab, "Wahai Nabi aku tak bisa berjalan, tubuhku gemuk. Bagaimana aku bisa mencapai e atas sana?" Kemudian Nabi Musa mengangkatku seolah aku ini tidak mempunyai beban berat, lalu aku dibawanya ke atas. Di sana aku diperlihatkan sebuah mushala yang sangat indah, di sana kulihat ada empat orang yang sedang berdzikir dengan memakai sorban putih. Aku pun bertanya kepada Nabi "Wahai Nabi apa yang dlakukan orang-orang itu?"

Nabi lalu menjawab "Itulah kaumku yang kin menempati mushala ini. Apabila kamu mau, akan kujadikan kau kaumku juga." Aku membalas, "Wahai Nabi, jangan kau ambil diriku dulu, karena diriku belum sepenuhnya membahagiakan orang tuaku dan istri, di mana anakku juga masih berusia 9 bulan, masih sangat butuh kasih sayang seorang ayah. Aku mohon kepadamu ya Nabi."

"Baiklah kalau itu maumu hanya satu yang kuminta darimu, bisakah kau mempertahankan ibadahmu, agar engkau tidak terjerumus menjadi orang-orang yang tersesat. Kalau engkau masih bisa mempertahankan semua itu, kau akan tetap menjadi kaumku," kata Nabi.
,br ?"Insya Allah ya Nabi, aku akan mencoba mempertahankan ibadahku ini," jawabku. Lalu aku dibawanya berkeliling mushala. Betapa megahnya mushala ini. Tetapi aneh, mengapa di pojok mushala masih ada kayun yang keropos. Aku pun bertanya kepada Nabi.

"Ya Nabi mengapa mushala yang begitu megahnya, masih ada kayu yang keropos?"

"Itulah satu tugasmu untuk di dunia." jawab Nabi.

Aku kemudian dibawa kembali ke bawah, dan aku diturunkan, dan sekitak itu aku terbangun dari tidur lelapku.Anehnya aku merasa kondisi badanku saat itu terasa lebih fit. Lalu aku meminta kepada keluargaku untuk memintakan ijin agar aku bisa segera pulang. Keesokan harinya dari pihak keluargaku pun menghadap ke dokter yang selama ini menanganiku.

Tetapi dokter yang menanganiku, tidak mengizinkanku pulang karena mengingat kondisi fisikku, selain belum benar-benar pulih. Dokter spesialis saraf juga tidak mau bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu keadaku, jika aku melaksanakan kehendak untuk pulang ke rumah. Ditambah lagi karena mata sebelah kananku pun tidak bisa melihat, tapi aku dan keluargaku meyaknkan dokter, bahwa Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa pada diriku, karena aku begitu yakin kalau uwakku dapat membantu untuk proses penyembuhan selanjutnya.

Sebelumnya aku memang telah disarankan oleh uwakku untuk dirawat di rumahnya. Setelah memperoleh ijin doter dan aku bisa pulang, aku dan keluarga pun segera berangkat e rumah uwakku di Cikeleng. Di rumah uwaku akupun mulai menjalani pengobatan lanjutan, dimana pada setiap malam, setiap pukul 01.00 WIB aku dibawa oleh uwaku ke makam buyut, makam keramat di Desa Cikeleng. Lokasi makamnya di tengah-tengah hutan, aku di sana berdzikir dengan uwaku dari pukul 01.00-03.00 WIB.

9 hari kemudian, malam itu malam Jumat Kliwon, aku disuruh untuk beristirahat oleh uwaku dari kegiatan melaksanakan dzikir dari pukul 01.00-03.00 WIB. Malam itu, tepatnya pukul 23.00 WIB, aku mendengar suara kroncongan kuda yang sedang berlari memutari rumah uwaku. Aku penasaran dengan suara itu, lalu beranjak ke tepi jendela, kulihat dari balik gorden jendela yang kusingkap, tapi tak tampak apapun di luar sana.

Akhirnya untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku pun keluar, ternyata kulihat uwa perempuan ku sedang melakukan semedi, dan uwaku yang laki-laki, seperti sedang melakukan sesuatu. Uwaku terkejut melihatku, aku disarankan untuk masuk kembali. Sepertinya mereka sedang melakukan ritual yang sangat serius. Tepat jam 24.00 WIB pada jam dndingku di kamar, aku mendengar seperti ada orang yang sedang berkelahi, aku hanya mendengarkan saja dari kamarku, tidak berani untuk melihatnya, sampai akhirnya tanpa aku sadari, aku tertidur.

Keesokan harinya jam 10.00 pagi, ketika aku ingin mandi dan aku membuka bajuku, istriku melihat dipundakku seperti ada bekas telapak tangan. Ketika istriku menanyakan kenapa, aku pun tidak tahu dan tidak dapat menjelaskan ada apa sebenarnya pada pundakku.

Lalu aku pun keluar kamar dan menanyakan kepada uwakku. Uwakku hanya diam tidak memberi jawaban, dia hanya meminta aku berbalik membelakanginya, dan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan kemudian ditiupnya bekas telapak tangan yang ada dipundakku. Seketka bekas telapak tangan dipundakku itu hilang dengan sendirinya. Aku meraba keningku, karena terasa seperti ada yang mengganjal, kutarik, ternyata di keningku ada kain kafan, kemudian kuraba pipiku yang seperti ada sesuatu juga, lalu kutarik dan ternyata ada sebuah jarum. Uwakku yang melihat itu semua hanya tersenyum, dan ia berkata bahwa hal itu semua pertanda ada kemajuan dalam pengobatan sakitku, dan uwakku bilang, tidak sia-sia selama 9 hari dia melaksankan ritual.

Kini mata sebelah kananku mulai membaik dan bisa melihat, kakiku pun yang terasa lemas beberapa hari lalu sudah mulai ada kekuatan dan aku sudah bisa berjalan kembali walau kulakukan masih perlahan-lahan. Tak kepalang betapa bahagianya keluargaku melihat kemajuan yang kudapat, maka sre itu pun kami mengadakan syukuran, dengan mengundang tetangga dekat, bersyukur bahwa diriku bisa terlepas dari pengaruh mistik yang entah siapa yang sudah berbuat setega itu padaku.

Kini tinggal sisa-sisa penyakit yang ada pada dirku, aku sudah berangsur pulih seperti sedikala. Lalu aku pun di anjurkan uwakku melakukan kontrol setiap minggu. Pada kesempatan lain aku yang merasa penasaran dengan penyakitku, dan ingin sekedar tahu saja siapakah yang dengan tega berbuat hal itu pada diriku, aku tanyakan hal itu kepada uwakku.

Jawabnya sungguh sangat mengherankan, menurut uwakku, aku terkena serangan santet yang sangat ganas, di mana menurut uwakku lagi semua itu adalah karena perbuatan teman sekantorku yang merasa iri karena aku dekat dengan atasanku. Mengetahui hal itu aku hanya mengucap sykur kepada Gusti Allah, bahwa aku masih dberi kesempatan untk sembuh. Aku pun berjanji dalam hati, bahwa aku tidak akan menaruh dendam pada teman kantorku itu, sesuai yang dsarankan uwakku juga. Dendam adalah perbuatan yang sangat menyakitkan di hati. Semua hanya kepasrahan kepada Gusti Allah. Semoga teman kantorku itu dberi kesadaran Gusti Allah untuk tidak berbuat hal yang sama pada orang lain. (*)

Sumber: Mistri Edisi 561 Tahun 2013