Ini Cara yang Tepat Menyatakan Cinta

Tidak banyak perempuan yang berani untuk mengungkapkan perasaannya dan malah memilih untuk memendamnya entah sampai kapan. Sebenarnya, menyatakan cinta itu sah-sah saja selama anda menggunakan cara yang sopan dan tidak berlebihan.

Mengetahui Kadar Cinta Si Dia

Keingintahuan merupakan hal yang sangat wajar dalam kehidupan manusia. Keingintahuan dapat terkait dengan banyak hal dan salah satunya mengenai pasangan anda. Berikut beberapa tips untuk mengetahui kadar cinta si dia

Ada Banyak Cara Melupakan Mantan Pacar

Setiap hubungan percintaan pasti mengalami masa-masa yang sulit untuk bisa saling memahami perbedaan yang ada. Seringnya perbedaan tersebut malah membuat hubungan tersebut menjadi sangat buruk kualitasnya. Tidak jarang hal ini mengakibatkan putus cinta

Lewat Surat Cinta Bisa Lebih Ungkapkan Romantisme

E-mail, SMS, sampai instant messenger memang sangat mempermudah komunikasi kita dengan orang lain. Namun, ketika sedang menjalin kasih Anda pasti tak ingin menerima ucapan cinta melalui pesan singkat saja. Untuk mengatasi kebosanan dan membuat hubungan semakin romantis, tak ada salahnya untuk kembali menggunakan cara tradisional, yaitu surat cinta. Meski terbilang jadul, melalui surat cinta Anda bisa lebih puas mengungkapkan perasaan dengan kalimat yang lebih romantis. Apalagi jika surat itu Anda selipkan ke tangannya dilengkapi setangkai mawar merah.

Pada Bulan Merah Akankah Kau Pulang

Sampai penantian itu berbilang tahun --20 tahun hingga kini-- bagai kumbanng putus tali. Hilanng tanpa kendali. Andaikata pula ia tersesat, mestinya aku tahu di mana rimbanya. Kalaupun ia wafat, aku berharap tahu pula di mana tempat kuberziarah.

Doa Sebutir Peluru

Engkau teerdiam, bersarang di dalam leher seseorang setelah sebelumnya menerjang, berteriak garang. Engkau masih terdiam ketika leher yang kau lubangi itu mengucurkan darah merah, memulas tanah, mengguris hitam pada sejarah. Kemudian perlahan engkau meringis, mulai menangis, memaki segala macam tragedi sementara tubuhmu tak dapat bergerak, tetap berdiam di tubuh manusia malang itu.

Minggu, 08 Juli 2012

Abu Nawas Menduduki Singgasana Raja

Abu Nawas Menduduki Singgasana Raja

Kecerdikan akal dan pikiran Abu Nawas sudah tersebar di seluruh penjuru kerajaan yang dipimpin oleh Raja Harun Ar-Rasyid. Bahkan raja sendiri pun mengakui kehebatan Abu Nawas hingga mengajaknya tinggal di istana.

Raja Harun telah memberikan kebebasan kepada Abu Nawas untuk keluar masuk istana tanpa prosedur yang berbelit. Dengan hadirnya Abu Nawas di istana, maka raja dapat setiap saat meminta pertimbangan, pendapat kepada Abunawas dalam setiap keputusannya, sebagai penasehat kerajaan.

Namun, tampaknya kali ini Abu Nawas mulai bosan tinggal di istana, ia tidak terbiasa dengan hidup berfoya-foya. Meskipun semua yang diinginkan selalu tersedia, namun Abu Nawas memilih ingin tinggal di luar istana, ia rindu sekali untuk menggarap sawah dan merawat hewan ternaknya.

Dari sinilah kenudian muncul dalam pikiran Abu Nawas untuk keluar dari istana. Diputarlah otaknya untuk mencari alasan agar ia bisa keluar.

Menduduki Singgasana Raja.
Setelah semalamam dipikirkan, Abu Nawas menemukan cara jitu untuk keluar dari lingkungan istana.

Pada keesokan harinya, ia sengaja bangun pagi-pagi sekali kemudian pergi ke ruang utama istana. Saat itu suasana masih sepi, hanya terdapat beberapa pengawal. Raja Harun sendiri masih terbaring di tempat tidurnya.

Pada saat Abu Nawas itulah Abu Nawas mendekati singgasana raja dan mendudukinya. Tak hanya itu saja, Abu Nawas juga mengangkat kaki dan menyilangkan salah satu kakinya seolah-olah dialah rajanya.

Melihat kejadian itu, beberapa pengawal kerjaaan terpaksa mengangkap Abu Nawas. Mereka menilai bahwa siapapun tidak berhak duduk di singgasana raja kecuali Raja Harun sendiri.

Barang siapa yang menempati tahta raja, termasuk dalam kejahatan yang besar dan hukuman mati yang diberikan.

Para pengawal menangkapAbu Nawas kemudian menyeretnya turun dari tahta dan memukulinya.

Mendengar teriakan Abu Nawas yang kesakitan, raja menjadi terbangun dan menghampirinya.

"Wahai pengawal, apa yang kalian lakukan?" tanya raja.

"Ampun Baginda, Abu Nawas telah lancang duduk di singgasana Paduka, kami terpaksa menyeret dan memukulinya," jawab salah seorang pengawal.

Sesaat setelah itu, Abu Nawas tiba-tiba saja menangis. Tangisannya sengaja ia buat kencang sekali sehingga banyak menyita perhatian penduduk istana lainnya.

"Benarkah yang dikatakan pengawal itu wahai Abu Nawas?" kata Raja Harun.

"Benar Paduka," jawan Abu Nawas.

Tujuan Keluar Istana Tercapai
Raja sangat terkejut dengan penuturan Abu Nawas itu. jika sesuai peraturan yang ada, Abu Nawas akan dikenai hukuman mati. Namun, Raja Harun tak sampai hati melaksanakannya mengingat begitu banyak jasa yang diberikan Abu Nawas kepada kerajaan.

"Sudahlah, tak usah menangis. Jangan khawatir, aku tidak akan menghukummu. Cepat hapus air matamu," ucap sanga raja.

"Wahai Baginda, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis, aku menangis karena kasihan terhadap Paduka," kata Abu Nawas yang membuat raja tercenganng oleh ucapan itu.

"Engkau mengasihaniku?" tanya Raja Harun.

"Mengapa engkau harus menagisiku?" kata raja lagi.

Harga Diri Raja Tercoreng
Abu Nawas menjawab. "Wahai raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali, tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi paduka, paduka telah menduduki tahta selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan paduka terima? Aku menangis karena memikirkan nasib paduka yang malang," jawab Abu Nawas.

Jawaban itu membuat raja tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak menyangka Abu Nawas menjual harga dirinya di depan banyak pengawal. Oleh karena itu, Raja Harun hanya menghukum Abu Nawas untuk dikeluarkan dari istana. "Baiklah jika demikian, mulai detik ini kamu harus keluar dari sitanaku," kata raja sedikit geram.

"Terima kasih paduka, memang itulah yang saya kehendaki," balas Abu Nawas sambil menyalami Raja Harun untuk kemudian pamit keluar dari istana.

Sabtu, 07 Juli 2012

Di Balik Jendela

Di Balik Jendela


Brak!!!

Klik!!!

Suara pintu berdentum keras di belakangku, diikuti suara anak kunci diputar. Pintu dikundi dari luar. Aku menarik napas panjang. Tanda kelegaan yang luar biasa. Beberapa detik kemudian aku masih terdiam, menunggu keadaan benar-benar aman.

Sret... sret... sret... suara sandal yang di seret menjauh dari pintu menyakinkanku bahwa bahwa pemiliknya sudah pergi. Kuayun langkah mendekati Alya, putri kecilku. Dia duduk di sudut. Meringkuk ketakutan dengan tubuh mengigil. Seingatku, setiap kali ayahnya ada di rumah, Alya lebih sering dalam posisi seperti itu. Ketakutan akan sosokk ayah ayah membuatnya menekuk tubuh seperti itu.

Kupeluktubuh kecil mungil itu. Di usianya yang hampir enam tahun, posturnya tak lebih besar dari anak berumur empat tahun. Rambutnya tipis, bahkan nyaris botak akibat sering di tarik-tarik. Tingkahh tidak seperti anak-anak sebayanya. Gadis kecilku itu mengalami keterbelakangan mental.

"Ngg... Gi? Aya.. gi?" tanyanya berulang-ulang.

"Iya, Sayang. Ayah sudah pergi."

Sesaat dia menatapku sebelum akhirnya asyik dengan boneka lusuhnya.

Kuedarkan mataku mengelilingi ruangan. Tempat ini begitu pengap dan dingin. Rasanya lebih tepat jika kukatakan lebih mirip gudang daripada rumah. Bagaimana tidak, satu-satunya sumber penerangan di malam hari hanyalah redp lampu di tengah ruangan. Di sana-sini berserakan pakaian kotor, piring bekas makanan, dan botol-botol bir bekas minuman Bayu suamiku.

Dulu, sesekali aku mencoba membereskan ruangan ini. Tetapi lama kelamaan kurasa tak ada gunanya, karena setiap kali Bayu datang, ia memorakkporandakannya lagi. Melemparkan segala macam barang kesana kemari hingga Alya ketakutan setengah mati.

Terkadang ulahnya bisa lebih parah lagi. Entah sudah berapa ribu kali dia menendang, memukul dan menjambakku. Tapi aku selalu pasrah menerima perlakuannya, selama diia tidak mengganggu Alya. Bila dia mulai menampar Alya, aku akan berteriak mencaci-maki agar dia mengalihkan perhatiannya kepadaku dan melupakan kekkesalannya pada gadis kecilkku itu.

Sudah sekitar tujuh tahun aku terkurung di sini. Sejak menikah dengannya duniaku menyempit menjadi hanya seukuran ruangan berukuran dua puluh llima meter di lantai dua ini. Saat Bayu tidak di rumah dia akan mengunci pintu dari luar. Meninggalkan aku dan Alya terpenjara di dalam.

Jendela ruangan inilah satu-satunya penghubungku dengan dunia luar. Aku senang berlama-lama di situ jika Bayu tidak sedang di rumah. Berjam-jam memandangi orang-orang tak kukenal yang lewat di depan rumah susun kami. Menyenangkan sekali melihat kehidupan dari balik jendela ini. Seperti pagi hari ini, ada seorang tukang sayur berhenti. Beberapa ibi langsunng mengerumuninya.

"Bawa sayur bayam nggak, Bang?" tanya ibu berbaju mmerah yang menggandeng anak lellakinya.

"Ada, Bu. Mau ambil berapa? Masih segar lo."

Boleh deh. Dua ikat ya, Bang. Buat anak saya, dia lagi senang-senangnya makan sayur bayam."

Sesekali mereka tertawa memdengar salah seorang dari mereka melontarkan kalimat-kalimat lucu.

Aku tersenyum sendiri, membayangkan seandainya aku ada di sana bersama mereka. Kalau saja hidup kami seperti mereka, mungkin aku pun bisa berbelanja sambil menggandeng Alya. Sayangnya, suamiku yang pemabuk dan ringan tangan itu tidak akan membiarkanku dan Alya berkeliaran. Alya yang cacat mental membuatnya malu mengakui bahwa gadis kecil itu adalah anak kandungnya. Dia sering menimpakan kesalahan padaku. "Dasar perempuan tak berguna! Pasti kau berselinguh dengan lelaki lain! Bisa-bisanya melahirkan anak cacat seperti itu," serunya.

Aku diam saja. Terbiasa dalam situasi seperti ini tidak membuatku tidak lagi banyak mengeluh. Bukannya aku tidak pernah memikirkan bagaimana caranya untuk melarikan diri dari tempat ini. Berulang kali aku sempat berpikir untuk kabur dengan berbagai cara. Namun selalu urunng kulakukan saat ingat bagaimana harus membawa kabur Alya dan menghidupinya di tengah kota sebesar Jakarta.

Jadi, aku biarkan apa saja dilakukannya padaku asalkan dia tidak menyentuh Alya. Memar dan ngilu di tulang hampir setiap hari kurasakan. Saking seringnya, aku bahkan mungkin tidak akan tahu bedanya jika ada salah satu tulangku yang patah atau tidak.

Pkiranku melayang ke peristiwa bertahun-tahun lalu. Ketika itu kami masih pacaran. Tak henti-hentinya Bayu meminta uang hasil kejaku setiap lkali aku menerima gaji. Seharusnya saat itu juga aku harus bahwa Bayu bukanlah calon suami yang baik. Tapi entah mengapa aku selalu luluh setiap kali dia memohon-mohon maaf dariku sehabis memaksaku memberikan uang, membentak atau mencaciku. Bagai debu tersapu hujan, aku pun melupakan kesalahannya.

Kini setelah hampir tujuh tahun perangainya semakin mennjadi buruk saja. Terkurung di dunia sempit membuatku lupa berharap untuk bisa keluar dari kekacauan ini. Aku si bungsu dalam keluarga yang selalu dimanjakan oleh kakak-kakakku, kini harus bisa bertahan hidup demi Alya. Tidak ada kakak dan orang tua yang bisa melindungiku seperti dulu. Mungkin mereka pun tidak tahu apakah aku hidup atau mati, karena selama aku menikah tidak pernah sekalipun aku bisa menghubungi mereka.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Kilatan pisau beradu dengan sinar matahari membuat mataku silau. Sontak aku memekik kaget ketika melihat Alya memegang pisau itu.

"Alya! Lepaskan pisau itu, Nsk!" pekikku khawatir.

Alya tertawa-tawa dengan pisau dalam genggamannya. Mungkin baginya pisau itu mainan baru yang menyenangkan. Dimainkannya pisau itu hingga membentuk kilauan sinar di dinding.

"Bu.. liat... liat..." ucapnya kegirangan.

Aku berusaha merebut pisau itu dari genggamannya.

"Jangan, Nak! Sini.. berikan pada ibu."

"Aa..! Gak au..! Alya berusaha menghindar dariku. Aku semakin jadi khawatir karenanya.

"Nak, jangan main-main dengan pisau, berbahaya!" Mendengar aku berteriak, Alya semakin keras melawan. Dia berlari sementara aku mengejarnya.

Kres!!!

Darah menetes di mana-mana. Aku terpaku. Menatap tanganku yang berlumuran darah.

"Tidaaaaaaak...!!!" teriakku.

Aku terbangun dengan napas terengah. Ternyata hanya mimpi. Aku bersyukur dalam hati.

Sinar matahari menerobos lubang di jendela. Aku menggeliat sebentar, meneliti sekeliling ruangan yang tampak sama seperti kemarin. Bayu pasti tidak pulanng semalaman, pikirku. Betepa senangnya aku jika Bayu tidak pulang hingga berhari-hari lamanya. Sebagai istri seharusnya aku mengharapkannya pulang. Tetapi hari-hari gelap yang telah kulalui selama ini membuat hatiku beku. Sejak ia memperlakukanku tanpa belas kasih, aku tak lagi mengharapkannya pulang.

Kulihat Alya masih tertidur meringkuk bagai kucing di tikar. Dengkuran halus terdengar sesekali. Aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju meja makan yang penuh dengan remah-remah roti. Hanya sedikit yang tersisa di meja itu. Tiga potong roti tawar dengan beberapa pisang. Kadang Bayu pulang membawa makanan entah dari mana.

Sambil mengunyah roti aku teringat mimpiku tadi malam. Mimpi buruk. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku bermimpi indah. Rasanya sejak tiba di tempat ini, mimpiku selalu buruk.

Kupandangi Alya lagi. Jika bukan karena Alya, mungkin aku tidak akan bisa bertahan di sini. Membuat Alya ikut hidup menderita adalah penyesalan terbesarku. Karenanya, aku berjanji dalam hati untuk selalu melindunginya.

Jangan khawatir, Nak. Ibu akan selalu menjagamu, bisikku padanya.

Khawatir langkahku akan membangunkannya, pelan-pelan aku mennuju jendela. Betapa rindunya aku melihat dunia luar. Kemarin Bayu seharian berada di rumah. Bila dia berada di rumah, aku tidak akan bisa sekedar melongok ke luar jendela. Dia akan murka hanya karena aku memiliki dunia sebesar jendela itu.

Kubuka lebar-lebar daaun jendela tersebut. Udara pagi menyeruak masuk ke dalam hidungku. Kuhirup dalam-dalam aroma dunia luar yang tidak pernah nyata aku rasakan lagi. Di bawah sana terlihat beberapa anak sedang berangkat sekkolah. Sebagian diantar oleh ibunya, sebagian lagi berkelompok dengan teman-teman sebayanya. Mereka bersanda-gurau, sesekali suara tawa mereka terdengar di telingaku.

Aku tersenyum. Sungguh berbeda kehidupan di luar sana. Meski hanya dibatasi sebuah jendela, kehidupanku di sini kontras sekali. Di balik jendela ini aku bisa sedikit merasakan kehidupan luar. Ini membuatku sejenak melupakan derita yang kurasakan. Bagaimanapun, sejak aku terpenjara di dalam rumah, tidak pernah sekkalipun aku berbincang dengan orang lain kecuali dengan Alya yang tidak mengerti betul apa yang kukatakan.

Tetangga-tetanggaku bahkan mungkin tidak akan tahu kalauada aku di dalam salah satu ruang di rumah susun ini. Tentu saja. Maklum, hampir setiap waktu pintu rumah terkunci dari luar, sementara jendela pun hanya sesekali kubuka saat Bayu tidak berada di rumah. Orang-orang di luar sana juga tidak akan tahu apa sebenarnya terjadi di balik jendela ini.

"Bu... bu..." suara Alya membuat lamunanku buyar.

"Ada apa, Nak?"

"Na.. ik.. Itut, Bu....," katanya terbata-bata ingin ikut naik di atas kursi yang kududuki. Kuangkat tubuh mungilnya ke pangkuanku. Dia lalu melonjak-lonjak kegirangan melihat beberapa anak kecil berkejar-kejaran di depan rumah susun.

Aku memandangi Alya dengan dada sesak. Ada sesal yang mendesak-desak ke luar rongga hatiku. Betapa sayangnya aku pada Alya. Rasanya, apa pun akan kulakukan untuk membahagiakannya.

Tubuh Alya tiba-tiba mengerut, membuatku terkejut.

"Kenapa, Nak?"

"Ng.. ng.." ucapnya takjelas. Mata bulat yang tadiya berbinar ceria mendadak berubah. Ketakutan jelas terpancar dari mata itu.

Aku tersadar, sekilas kulihat ke bawah, tampak Bayu sedang berjalan bersama seorang perempuan cantik. Mereka bergandengan tangan bak sepasang kekasih. Belum pernah aku melihat Bayu berjalan dengan seorang perempuan. Tapi hatiku benar-benar sudah beku. Rasanya aku tak perduli lagi apakah dia akan berselingkuh atau tidak.

Tiba-tiba Bayu menatap ke atas. Tepat pada saat aku melihatnya dari jendela. Buru-buru kututup daun jendela setelah Bayu menatap geram ke kami. Tubuh Alya semakin meringkuk dipangkuanku. Tidak hanya Alya yang ketakutan, aku pun demikian. Belum pernah sekalipun Bayu memergoki kami sedang membuka jendela di saat dia tidak ada di rumah.

Sret... sret.. sret...

Suara langkah kaki terdengar mendekati pintu.

Dia datang! Dia datang!

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Sedemikian takutnya aku sampai-sampai tanganku bergetar hebat. meski telah sering mengalami perlakuan buruk darinya,, entah kenapa perasaanku mengatakan ini akan lebih buruk dari yang sudah-sudah.

Kupeluk Alya erat-erat. Kami berdua lalu meringkkuk di pojok ruang seperti yang biasa kami lakukan jikka Bayu datang.

Brak!!

Pintu terbuka lebar. Bayu masuk dengan langkah terhuyung. Dengan sebelah tangan dibantingnya lagi pintu itu kembali.

Brak!!!

Dia lalu menuju ke arahku dan Allya.

"Sudah kubilang jangan pernah membuka jendela! Berapa kali harus akku katakan, heh!" bentakknya tepat di wajahku. Bau alkohol langsung tercium.

Sudah kuduga dia pasti mabuk, pikirku.

Matanya yang merah menghujam mataku. Kurengkuh bahu Alya erat-erat. Sementara Alya menggigil ketakutan.

"Kau tahu apa akibatnya jika melanggar perintahku?!!"

Bayu mengangkat daguku tinggi-tinggi. Tangannya yang kasar dan kuat menampar wajahku berkali-kali hingga aku ajtuh tersungkur. Kepalaku terasa pusing. Samar-samar kulihat Bayu menghampiri Alya.

Aku berusaha bangkit. Saat itu hanya satu hal yang ada di dalam pikiranku. Menyelamatkan Alya.

Alyaku sayang, jangan sampai Bayu menyakkitimu! Pekikku dalam hati.

Bayu menarik rambut Alya hingga Alya menjerit kesakitan.

"Hei, ternyata kamu cantik juga ya?" gumam Bayu sambil mengamati Alya. Si pemabuk itu mulai mengucapkan kata-kata yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Krek!!!!

Disobeknya baju Alya dengan paksa hingga dadanya terlihat. Kulitnya yang putih mulus sedikit kemerahan karena tercakar. Alya semakin kencang memanggilku.

Tuhan, apa yang akan dilakukannya?

Terhuyung-huyung aku berjalan ke arah mereka. Tapi Bayu kembali menamparku hingga aku terjatuh. Kekuatannya sungguh luar biasa. Aku tahu dalam keadaaan mabuk seperti ini dia bisa melakukan apa saja. Tapi aku harus menolong Alya. Alya adalah hidupku! Alyalah kebahagiaanku!

Mataku menangkap sebuah benda berkilat di atas meja. Tanpa pikir panjang aku ambil beda itu dan berjalan terhuyung menuju Bayu.

Kress!!

Darah menetes di mana-mana. Memenuhi lantai, baju dan tanganku!

Sinar matahari menerobos masuk dari celah jendela mengenai benda berkilau di tanganku. Kulihat gunting di dalam genggamanku. Penuh dengan lumuran darah, seperti dalam mimpiku. Aku seperti mengalami deja vu

__________________________________



Sumber: KARTINI

Petualangan Diari

Petualangan Diari

Cerpen Dian Eka Sari

"Ari petualanganku sudah berakkhir. Kurasa inilah saatnya aku harus kembali."

"Apa aku tidak salah dengar. Bukankah kemarin kau begitu menggebu saat bercerita akan berpetualang mencari dunia baru karena kekecewaan yang kau temukan di kehidupanmu saat ini?"

"Aku tidak bisa memungkiri Ri. Petualangan itu begitu menarik. Banyak hal-hal indah yang kutemui. Banyak kejutan-kejutan menghampiriku. Bahkan banyak kebahagiaan menyelimutiku."

"Kalau memang luar biasa, mengapa kau ingin kembali? Bukankah belum genap empat bulan engkau berpetualang. Bagi seorang petualang sejati, waktu yang kau tempuh masih terlalu dini untuk melabeli dirimu sebagai petualang."

"Aku tidak butuh label Ri. Aku tidak butuh gelar. Aku hanya ingin mereguk dan mencari kebahagiaan."

"Kebahagiaan? Bukankah kau kkatakan dari petualanganmu kau tidak mereguk kebahagiaan?"

"Awalnya aku merasakan telah mendapatkan kebahagiaan sejati. Tapi entah kenapa aku merasa tidak bahagia. Setiap kali kebahagiaan mmenghampiri, saat itu juga ketakutan mengikuti. Ia menyelinap dalam relung hati dan mengetuk keras hingga memekakkan gendang telingaku."

"Sejak awal bukankah aku telah mengatakan ketika kau siap berpetualang, kau pun harus siap dengan ledakan-ledakan yang menghampirimmu."

"Aku tahu Ri. Dari awal kau telah mengingatkanku ketika aku tergoda untuk berpetualang dalam biduk orang lain."

"Nah.... sekarang kau ingin kembali. Apakah kau tetap yakin di dunia aslimu ini kau akan menciptakan kebahagiaan?"

"Entahlah.... aku pun tidak yakin Ri."

"Ha.. ha.. ha.. Hanya itu upaya dirimu setelah hampir empat bulan lalu kau berkoar tentang keresahanmu tidak mendapatkan kesempurnaan di duniamu sekarang. Saat kau merasa biduk yang kau arungi tidaklah sesempurna keinginanmu. Setelah petualangan singkatmu, apakah kesempurnaan telah kau temui?"

"Sempurna... sebenarnya itu adalah klise yang kuciptakan lantaran ketidakmampuanku dalam menciptakan kebahagiaan versiku Ri."

"Apa kebahagiaan versimu?"

"Kebahagiaan yang kudamba adalah ketika aku ingin menangis dia berusaha menghiburku, saat aku sakit dia berusaha mengobatiku, saat aku bersedih dia rela memberikan bahunya untuk memelukku, dan saat aku bahagia dia akan tertawa bersamaku serta saat aku punya cit-cita dan ingin bercerita dia bisa menjadi guru dn dosen bagiku."

"Hmmm.... hanya itukah arti sempurna bagimu, setelah petualangan kilatmu, apakah kebahagiaan itu telah kau reguk?"

"Sempat Ri, aku sempat merasakan kebahagian menyelimutiku. Aku sempat melihat bunga bermekaran memberikan warna-warna indah. Aku sepat merasakan indahnya kicauan burung, aku sempat merasakan hembusan halus semilir angin. Bahkan aku sempat mereguk manisnya madu bunga."

"Lantas semuanya usai?"

"Aku bosan Ri."

"Bosan.... itu memang sudah watakmu sejak dulu."

"Iya Ri. Aku merasakan bosan yang termat sangat. Aku merasa tidak ada lagi kejutan-kejutan. Tidak ada lagi ledakan-ledakan yang menghampiri hati. Saat ini yang tampil di depan mataku adalah serba kekurangan."

"Itu saja?"

"Awal kebosanan itu timbul setelah aku merasa lelah Ri. Aku merasa lelah berpetualang di daerah abu-abu. Aku capek saat kebahagiaan yang kuraih tidak mampu aku proklamirkan. Aku merasa beban yang berat saat harus terus bersembunyi untuk mendapatkan sebuah komitmen."

"Kalau memang demikian. Saatnya kau hentikan petualanganmu. Istirahatlah.... pulihkan tubuhmu.... segarkan pikiranmu.... lupakan petualangan singkatmu dan kubur dalam-dalam jangan sampai semua orang tahu. /sekarang minummlah obatmu."

"Terima kasih Ri. Kau adalah teman setia yang sempurna bagiku. Aku lelah Ri. Aku ingin tidur.... selamat tinggal Ri."

Malam beringsut menjeang Subuh, matahari bersiap di ujung timur untuk menjalankan tugasnya. Rembulan mulai bersembunyi di balik awan untuk menyingkap kelam. Kelelawar usai menikmati ranumnya buah setelah hujan mengajak bumi berdansa dengan airnya. Napas-napas kehidupan pun mulai menyeruak mengantar perempuan muda yang tidur pulas menjelang ajal.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Matahari belum sempurna menampilkan wujudnya, tapi ayam sejak pagi teah mengingatkan pergantian hari, terlihat keramaian yang tidak seperti biasanya di sebuah kompleks perumahaan di kota pempek. Puluhan pasang mata dengan masih mengenakan piyama dan daster tampak memenuhi depan jalan sebuah rumah dekat kediaman mereka. Di pagar depan rumah bertipe 70 dan bercat kuning yang menjadi pusat perhatiaan telh terpasang garis polisi. Sejak pagi petugas kepolisian sibuk mengamankan lokasi kkejadian. Dari dalam rumah berlantai dua itu terdengar tangisan anak-anak.

i dalam kkamar berukuran 6x5 dan di atas tempat tidur berseprai bunga-bunga merah jambu terlihat sosok wanita berambut panjang mengenakan daster batik berwarna coklat terbujur kaku dengan mulut mengeluarkan busa. Di sebelahnya terlihat botol bekas obat tidur yang sudah kosong. Di samping wanita itu juga ditemukan sebuah buku harian dengan judul besar di bagian atas halaman tengahnya di-Ari. Dari buku yang terbuka itu terdapat tulisan:

"Suamiku.... maafkan aku tidak mampu menjadi istri yang sempurna bagimu. Tolong jaga buah hati kita.Sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Tolong jaga anak-anak kita. Aku tidak mampu lagi mengasuh mereka karena aku sangat lelah."

Oleh petugas, jasad perempuan muda itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah untuk divisum dan segeramengamankan tempat kejadian serta barang bukti yang berserakan. Sementara suami si perempuan hanya termangu. Tidak ada tangisan di matanya, yang terlihat kebingungan teramat sangat ketika polisi berusaha mengorek keterangan sebagai saksi.

Udara mulai menghangat sementara warga yang tadi berkerumun mulai pulang satu per satu. Pagi menjelang siang itu debu-debu berterbangan mengantar jasad perempuan itu bersama berlalunya petugas kepolisian meninggalkan kesedihan bagi kedua putri dan suaminya. (*)

CITRA BUDAYA
Sumatera Ekspres, Minggu, 15 Januari 2012

Kamis, 05 Juli 2012

Penggalan Cerita Lama

Penggalan Cerita Lama

Cerpen : Aftar Ryan

"Ah, dia hanya seorang perempuan biasa. Tapi dia telah bisa mempermainkan hembusan nafas keharuman tentang sebuah rasa yang begitu mengusik dinding batinku."

TIBA-tiba semuanya menjadi berbeda. Awalnya aku ragu. Tapi dialah yang memancingku untuk mengatakannya. Entahlah, apakah aku harus bahagia karena dia telah tahu. Atau malah harus malu. Tapi yang pasti kini dia telah mengetahui sebuah perasaan yang telah tersimpan dengan rapinya dalam kurun waktu yang cukup lama. Ya, karena sesungguhnya perasaan ini hanya aku dan seorang saudaraku saja yang tahu. Perasaan yang membawaku untuk mengatakannya kini pada sosok yang telah lama aku kagumi. Sosok yang sejujurnya bukanlah seseorang yang teramat istimewa, namun ku akui dia telah mampu menggugah sepenggal perasaanku untuknya.

Ah, dia bukanlah sosok istimewa. Dia hanyalah seorang laki-laki biasa. Tapi dialah yang telah menciptakan sebuah perasaan yang nyaris sempurna. Dia yang selama ini selalu membuat detak jantungku berdegup keras. Saat waktu yang membawa pertemuan. Saat dimana ketika aku secara tak sengaja mencari-carinya. Sosoknya yang sederhana, namun telah mampu menempatkan dirinya dalam tingkatan laki-laki yang pantas untuk hanya sekedar dilihat dan kemudian dikagumi. Dan aku, mungkin aku bukanlah orang pertama yang turut mengaguminya. Sepertinya teman-temanku juga menyimpan sesuatu yang sama denganku padanya. Namun sama halnya denganku, teramat malu untuk diungkapkan. Dia memang bukan sosok laki-laki yang tampan. Tapi dia punya sesuatu yang bisa memerangkap sebuah perasaan itu.

Semua bermula dari sebuah pertemuan tak terkirakan. Pertemuan yang terjadi setelah jarak dan waktu memisahkan. Meski sejujurnya aku tak pernah yakin akan bertemu lagi, sebab dari awalpun tak pernah ada isyarat yang terhubung, hanya karena tak pernah ada keberanian untuk saling mengungkapkan hingga, akhirnya semua tampak nyata di hari ini. Disaat pertemuan ini tercipta.

* * * * * * * * * * * * * * * * *



TIBA-tiba semuanya menjadi berbeda. Awalnya hanyalah obrolan biasa tentang masa lalu. Tapi tiba-tiba saja darinya aku menjadi paham. Ada segurat kenangan lalu yang begitu membekas dalam ingatan dan rasa. Dan sesungguhnya akupun merasakan sesuatu yang berbeda. Jauh, jauh sebelum hari ini ada. Jauh sebelum pertemuan ini tercipta. Jauh ketika aku mengenalnya dari hanya sekedar sorot mata yang terpaut. Jauh ketika aku sadar ada sesuatu yang menarik perhatianku untuk mengenalnya lebih dekat, lebih dalam. Tapi tak pernah ada seorangpun yang tahu tentang sebuah perasaan itu. Perasaan yang pernah bersemayam hanya sekedar untuk menggodaku dan hanya tersimpan dengan sangat rapinya diantara sulaman hari-hari yang telah berlalu.

Ah, dia hanya seorang perempuan biasa. Tapi dia telah bisa mempermainkan hembusan nafas keharuman tentang sebuah rasa yang begitu mengusik dinding batinku, yang telah mempermainkan hembusan angin cemburu, bahkan saat ketika ada seseorang yang sama-sama menyukainya. Entahlah, padahal dia bukanlah sosok yang begitu sangat kukenal. Dialah sosok yang selama ini menciptakan rasa penasaranku atas semua sikap dan tingkah lakunya. Dialah sosok yang membawaku menyibak tabir lamunan atas sikap diamnya, atas sikap santunnya, atas sikap pemalunya, serta pandangan matanya yang tak pernah mau menatap mataku ketika aku memberanikan diri untuk hanya sekedar mengajaknya berbincang.

Semua bermula dari sebuah pertemuan tak terkirakan. Pertemuan yang terjadi setelah jarak dan waktu memisahkan. Meski sejujurnya aku tak pernah yakin akan bertemu lagi, karena dari awalpun tak pernah ada isyarat yang terhubung, karena tak pernah ada keberanian untuk saling mengungkapkan hingga akhirnya semua tampak nyata di hari ini. Disaat pertemuan ini tercipta.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *



HENING. Tiba-tiba semua menjadi tak karuan. Begitu berkecamuk berjuta perasaan yang tak tentu. Aku membatin. Kenapa pertemuan dan perasaan itu harus terjadi dan terungkap sekarang. Kenapa tidak sejak dulu saja. Sejak semua belum berubah. Sejak semuanya masih mungkin untuk terjadi. Tidak seperti sekarang. Betapapun dalamnya perasaan itu. Meskipun sama-sama saling memiliki rasa ketertarikan. Tapi semuanya begitu sulit untuk terwujud. Semuanya terasa hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Meskipun tak ada yang tidak mungkin, tapi kurasa teramat sulit untuk terjadi.

Sudah hampir seminggu pertemuan ini terjadi. Di tempat inilah, di tepi danau dekat taman kota. Tempat dimana aku dulu sering bermain dengan sahabat-sahabatku. Dan setelah pertemuan pertama itu, dia sering mengajakku untuk bertemu lagi, hampir setiap hari. Sungguh, pertemuan ini aku rasa seharusnya tak pernah ada jika hanya akan memperburuk keadaan. Tapi, aku tak bisa menampiknya.

Dia adalah kakak seniorku ketika kuliah dulu. Sebenarnya aku tak mengenalnya begitu dekat. Hanya saja dia memang bisa dekat dengan siapa saja. Gaya bicaranya menandakan kedewasaan. Dan terus terang, terkadang aku suka memperhatikannya ketika dia bicara dalam sebuah forum. Bahkan tak jarang aku suka mencuri-curi pandang kearahnya. Dia orang yang humoris, karena tak jarang gaya bahasanya selalu mengundang senyum dan tawa lawan bicaranya. Penampilannya tak ada yang istimewa. Namun entah kekuatan dari mana hingga aku bisa memiliki sebuah perasaan yang aneh terhadapnya. Ah, dunia memang selalu menyimpan misteri dan menyimpan rahasia setiap makhluk yang mendiaminya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *



KALUT. Aku tak mengerti dengan apa yang kusangsikan. Jika saja aku tahu perasaannya sejak dulu. Mungkin keadaan tak kan seperti ini. Pastilah aku berada dalam sebuah perjalanan hidup yang lain. Kini pikiranku disesaki pernyataan-pernyataan ”jika saja”. Jika saja semua bisa terulang kembali. Jika saja aku mampu menciptakan mesin waktu. Jika saja aku bisa memutar balikan takdir. Mungkin keadaan akan lain, tak akan seperti sekarang ini.

Sudah hampir seminggu pertemuan ini terjadi. Di tempat inilah, di tepi danau dekat taman kota. Tempat dimana aku dulu sering melihatnya ketika dia bermain dengan sahabat-sahabatnya. Dan setelah pertemuan pertama itu, aku sering mengajaknya untuk bertemu kembali, hampir setiap hari. Sungguh, pertemuan ini aku rasa seharusnya tak pernah ada jika hanya akan memperburuk keadaan. Tapi, sungguh aku tak bisa menampiknya.

Dia adalah adik kelasku saat kuliah dulu. Sebenarnya aku tak mengenalnya begitu dekat dan baik. Namun ternyata takdir berkata lain. Perasaan itu timbul saat di suatu pagi aku berjumpa dengannya di sebuah persimpangan jalan ketika sama-sama hendak pergi ke kampus. Dari situlah aku tahu. Dia bukanlah perempuan biasa. Ada sesuatu yang lain ketika pertemuan itu terjadi. Atas dasar sikap diam dan pemalunya itulah, dia mampu mengusik rasa penasaranku atasnya.

Dia. Kini hadir dengan kematangan yang begitu berarti. Wajar jika aku terkesan dengan semua perubahan yang ada pada dirinya kini. Dia begitu anggun dan dewasa. Tak terlihat lagi wajah pemalu yang sering dia tampakkan dulu. Kurasa aku telah menyia-nyiakan satu penggalan kisah yang kini tak mungkin kembali. Ah, kini aku hanya bisa meratapi nasib, bahwa dulu aku telah menjadi seorang laki-laki pengecut yang tak berani mengenalnya lebih dekat.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *



OH, apa yang aku rasakan ini? Tak mudah ternyata untuk mempertahankan apa yang telah ku bangun beberapa tahun belakangan ini. Tapi, sepertinya aku tak bisa terlena dengan keadaan ini. Hari ini. Aku rasa semuanya sudah jelas. Aku tak mungkin memberikan perasaan ini untuknya. Aku memang tertarik dan pernah terbersit untuk menjadi bagian dari hidupnya. Tapi, aku tidak bisa. Kini semuanya sudah berbeda. Bagaimanapun aku harus mengakui bahwa kini aku telah menjadi seorang istri dari suamiku, dan menjadi seorang ibu dari anak semata wayangku. Aku tak bisa. Aku hanya bisa berkata lirih padanya bahwa aku tak bisa menjadi bagian dari hidupnya. Meski pernyataanku ini harus diiringi bulir air mata yang tak sengaja menetes begitu saja.

Sekuat tenaga aku harus menghapus sekecil apapun bentuknya rasa penyesalan. Karena aku pikir tak ada yang harus disesali. Semua sudah menjadi suratan. Aku harus membuang jauh berjuta kenangan yang pernah singgah. Tentangnya. Tentangku. Dan tentang sebuah perasaan itu. Kini aku harus meneruskan jalan cerita yang terhenti ini bersama suamiku. Aku harus terus menyulam hari dengan cita-cita yang pernah diucapkan pada saat pernikahanku dulu.

Dan dia. Ah, dia kini telah menjadi penggalan masa lalu yang sudah seharusnya tak kan pernah terkuak lagi. Biarlah. Biarlah waktu yang memiliki masa-masa indah itu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *



AKU tertegun. Tak dapat kusaksikan bulir air mata itu mengaliri wajahnya. Ingin aku menyekanya. Tapi ku urungkan. Kali ini aku baru merasakan rasa sayang yang teramat sangat. Sesungguhnya bukan hanya dia yang merasakan ini. Mungkin dia tak kan pernah tahu hancurnya perasaanku. Banyak memang kisah yang tak ku ketahui tentangnya setelah perpisahan panjang itu. Dan mungkin, diapun tak banyak tahu tentang kisahku setelah perpisahan panjang itu. Kini, di tempat ini, aku hanya bisa meratap dalam diam. Aku hanya bisa menghembuskan napas panjang ketika pertemuan ini harus diakhiri. Terlebih ketika tak sengaja istriku datang ketempat ini. Tepat ketika dia menangis, saat jemari lentiknya menggenggam erat jemariku.

* * * * * * * * * * * * * * * * * *



Bandung, Februari 2011

*)Aftar Ryan, seorang graphic designer dan penikmat sastra yang berkediaman di Bandung.

Jodhi Yudono | Kompas, Senin, 20 Februari 2012 | 20:39 WIB

Gerimis di Mata Sumi

Cerpen: Bustami Bin Arbi


Inilah tatapan terbeku yang tergambar di wajah sendu itu. Sinar purnama yang biasanya merekah, seakan hilang tergilas awan hitam. Sepasang mata cokelat itu menatap nanar, tak berjejak sisa-sisa binar yang pernah memancar indah bersama gemintang di taman langit.

Di balik kaca gelap pintu sedan merah yang setengah terbuka, sebenarnya mata itu dengan leluasa bisa menangkap siapa lelaki pemilik rambut semi gondrong dalam balutan helm. Entah setan apa yang menyelinap masuk, mengobrak-abrik ruang pikirannya. Dingin. Dengan ekor mata, perempuan berhidung mancung itu hanya menoleh sekejap ke arah lelaki yang kebetulan bersebelahan di sisi kiri mobilnya.

“Kas. Kasumi, ini Aku Dany”, ucap Aldany seraya membuka kaca helm yang ia kenakan.

Sial bagi Dany, Sumi keburu melaju ke jalur kanan. Sementara ia harus secepatnya bergegas lurus ke depan. Resiko besar bila nekat memutar haluan di trafic light saat lalu lalang kenderaan begitu padat. Tabrakan beruntun, atau mungkin juga pentungan Polisi Lalu Lintas akan didapat.

Tidak, Kasumi acuh dengan panggilan itu. Sepanjang perjalanan, Kasumi memilih puasa bicara. Hanya sesekali, bila Brahim suaminya memancing untuk buka mulut.

“Sayang, besok Abang ada urusan penting di Banda. Kalau nggak berani sendiri, pulang ke rumah Mak saja atau ajak si Ani nginap di sini,” ucap Brahim sambil merebahkan badan ke sofa empuk setiba di rumah kontrakan mereka.

Mendengar itu, Sumi ingin ikut mendampingi suaminya. Lagi-lagi Brahim melarang. Ia tetap beralasan sama, persis semenjak mereka menikah lima bulan lalu. “Ini bukan tamasya, sayang. Ini urusan bisnis, demi masa depan kita juga”, rayunya.

“Yahhh, selalu begitu. Bisnis..kerja..bisnis...kerja. Nggak pernah mau mengerti bagaimana nasib perempuan sendirian di rumah. Sekali-sekali kan boleh ikutan,” rengek Sumi.

“Atau jangan-jangan?” lanjut Sumi dengan nada menerka-nerka.

Sembari mengisap dalam-dalam rokoknya, Brahim berusaha memadamkan percikan bara api yang hendak disulut oleh sang istri. “Tenang sayang, jangan berpikiran macam-macam. Sudahlah, lain kali kita berlibur kesana.”

“Ahhhh, basa-basi. Muak, Aku sudah tahu semuanya. Kau kan pulang menjenguk istri dan anak disana? Ternyata benar apa yang digosipkan orang selama ini. Apa SMS ini bukan bukti nyata? Sudah, ceraikan saja aku dari pada hidup begini rupa?” dengan berapi-api perempuan berwajah tirus itu menumpah kesal sembari menunjuk-nunjuk HP milik suaminya yang sedang dalam kepalan tangan kirinya.

“Haaaah. Hahahahahah. Aku tahu, ini pasti gara-gara si lelaki yang tadi siang di Simpang Pelor kan? Baik, jika itu maumu,” Brahim pun mulai terpancing emosi.

Bagai bara yang dipercik bensin, pasangan itu kian memerah. Larut dalam perang kata-kata. Keduanya enggan mengalah. Tak terdengar lagi yang lain berbicara apa, hingga keduanya terpaksa memilih untuk diam.

Lengang. Suasana rumah minimalis bertipe tujuh puluh itu senyap sekejap. Penghuninya seperti sedang menatap sisa-sisa puing reruntuhan bangunan yang diterjang rudal tentara musuh.

“Aku memang tak pernah cinta sama kamu. Salahkan saja keluargamu yang dulu memaksaku. Kau seharusnya berterimakasih, Sumi. Selain aku, mana ada lelaki gila yang mau menikahimu disaat fisikmu tak lagi sempurna itu?” Lanjut Brahim sambil mengusap rambutnya yang tak gatal setelah lama membisu.

Pedas. Bak anak panah liar, lontaran kata-kata itu benar-benar terpacak di ulu hati Sumi. Tak dapat dibendung, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Harga dirinya terasa kerdil. Ia sadar, kakinya tak lagi utuh. Tapi dikasihani bukanlah harapannya.

Semua bermula di minggu sore di Simpang Pelor. Barangkali sudah menjadi tradisi konyol warga kota itu, ketika lampu hijau hanya tinggal dua kedipan lagi akan menyala, suara klakson acapkali berlomba biarpun pertanda beranjak belum terpampang di tiang rambu trafic light. Sumi mendadak panik mendengar riuh gemuruh sahutan nakal disekelilingnya, ia pun latah menancap gas. Naas bagi Sumi. Kira-kira dua meter melaju, sepeda motor yang ia kenderai mendadak berulah. Pengendara yang mengekor dibelakangnya tak dapat mengelak. Tabrakan pun terjadi. Tubuhnya terkapar, ia terjerembab di badan jalan.

Sumi sadar sudah terbaring di ranjang kamar ruang inap pasien, entah bagaimana ia sampai disana, sama sekali ia tak hafal. Semua gelap. Ia tak sadarkan diri kala itu.

Sebagai gadis yang punya sejuta impian dan cita-cita, beban berat untuk menjawab ketika dokter menyarankannya amputasi. Lama ia terpaku, merenung di ranjang tua rumah sakit milik pemerintah. Banjir dukungan dari keluarga dan sahabat-sahabatnyalah, yang membuat ia rela kaki kanannya bercerai untuk selamanya. Kaki palsu menjadi pilihan.

“Nak, menikah dengan Ibrahim mungkin pilihan terbaik untukmu,” bujuk Ibunya usai rapat keluarga yang juga dihadiri peutua gampoeng suatu malam. Sebulan kemudian, Sumi pun berganti status menjadi Nyonya Ibrahim, kendati belum pernah terbersit di benak untuk menikah dengan lelaki yang sama sekali belum dikenalnya. Ia pasrah dan ikhlas.

“Kenapa diam, Kasumi? Usah bersandiwara, garis di wajahmu terlukis derita. Sungguh kau perempuan malang korban kecerobohan keluarga,” ucap Brahim sambil berlalu, meninggalkan saja istrinya dan rokok yang masih berasap di asbak.

“Benar, Aku memang perempuan kampung yang bodoh. Aku tak kuasa melihat orang tuaku bermurung muka. Aku resah bila mimpi-mimpi mereka ikut terkubur, hingga akhirnya aku rela kau hadir dalam hidupku,” dengan tubuh gemetar dan suara yang berat, Sumi pun bangkit.

Siti Kasumi, idola banyak lelaki di kampusnya itu berjalan gontai. “Becak...becak...becak, Bang.”

Tak butuh lama menanti tumpangan. Ia pun bertengger disana. Dari kejauhan, Brahim terdengar memanggil-manggil namanya. Sial, raungan mesin becak motor itu mengalahkan teriakan kerasnya. Dua persimpangan sudah dilalui. Simpang Kisaran, Simpang Pelor, hingga Sumi berada tepat di depan Tugu Kupiah Teuku Umar Johan Pahlawan.

“Sebenarnya kemana diantarnya, Bu?” tanya Abang becak heran saat Kasumi menyuruhnya berhenti sejenak di depan bangunan bersejarah itu. Sebab ke depannya adalah jalan buntu, tak ada lagi pemukiman penduduk di bibir pantai Samudera Hindia tersebut. Ludes dimangsa si gelombang raksasa tujuh tahun silam.

“Andai saja,” Sumi membatin.

“Ohhh, tidak. Hidup ini mesti dihadapi. Sumi, Kau bukan perempuan cengeng."

Cot Peuradi, 23-12-2011 Penulis: Bustami Bin Arbi, Peminat Sastra Kelahiran Nagan Raya, Aceh, 24 Juni 1986. Cerpennya pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia. Penulis juga tergabung dalam jamaah Komunikasi Sastra

Jodhi Yudono | Kompas, Rabu, 14 Maret 2012 | 23:25 WIB